Seribu Lilin di Tanah Luka: Taput Berdoa, Bangkit dari Bencana

Seribu Lilin di Tanah Luka: Taput Berdoa, Bangkit dari Bencana

Tarutung — Temporatur.com |Pascabencana alam yang berdampak pada sejumlah wilayah di Kabupaten Tapanuli Utara, ribuan warga masih bergulat dengan trauma, kerusakan permukiman, dan keterbatasan aktivitas sosial-ekonomi. Di tengah situasi tersebut, Pemerintah Kabupaten Tapanuli Utara menggelar Seruan Aksi Simbolik 1.000 Lilin sebagai peneguhan solidaritas dan doa bagi para korban, Minggu malam (14/12/2025).

Aksi yang dipusatkan di Depan Gedung Sopo Partungkoan, Tarutung, dipimpin langsung oleh Bupati Tapanuli Utara Dr. Jonius Taripar Parsaoran Hutabarat, S.Si., M.Si., bersama Wakil Bupati Dr. Deni Parlindungan Lumbantoruan, M.Eng. Kegiatan ini digelar di tengah proses penanganan darurat dan pemulihan pascabencana yang masih berlangsung di sejumlah kecamatan.

Berdasarkan data pemerintah daerah, bencana alam tersebut telah mengakibatkan kerusakan infrastruktur, terganggunya akses transportasi, serta berdampak langsung pada kehidupan warga, termasuk kelompok rentan. Sejumlah keluarga terpaksa mengungsi, sementara aktivitas ekonomi dan layanan publik di beberapa titik mengalami pembatasan.

Kegiatan diawali dengan ibadah dan doa bersama yang dipimpin Pdt. Mita Purba, dihadiri unsur TNI–Polri, jajaran Pemkab, ASN, pelajar, mahasiswa, serta masyarakat umum. Kehadiran lintas elemen ini mencerminkan pendekatan kolektif dalam menghadapi krisis kemanusiaan di daerah.

Dalam keterangannya, Bupati JTP menekankan bahwa penanganan bencana tidak semata soal infrastruktur dan bantuan logistik, tetapi juga pemulihan psikososial masyarakat.

“Di tengah kerusakan dan kehilangan, masyarakat membutuhkan kehadiran negara—bukan hanya secara fisik, tetapi juga secara moral dan kemanusiaan,” ujar JTP.

Bacaan Lainnya

Penyalaan 1.000 lilin dilakukan serentak sebagai simbol penerang dan penghormatan bagi korban yang meninggal dunia. Cahaya lilin yang menyala di ruang publik Tarutung menjadi representasi empati kolektif, sekaligus pesan bahwa proses pemulihan membutuhkan waktu, kebersamaan, dan keteguhan.

Momentum ini juga dirangkai dengan penyalaan Pohon Natal, menandai harapan baru di tengah situasi darurat. Menjelang Natal, masyarakat Taput merayakan iman dan harapan dalam suasana sederhana, reflektif, dan penuh solidaritas.

Acara ditutup dengan lantunan lagu-lagu Natal dan rohani oleh Paduan Suara dan Tim Musik Gabungan IAKN Tarutung, HKBP Parbubu, dan HKBP Tarutung Kota, menutup malam doa dengan pesan ketenangan dan kebersamaan.

Dari Tarutung, seribu lilin menjadi penanda bahwa di tengah dampak nyata bencana kerusakan, kehilangan, dan keterbatasan harapan masih dijaga. Sebuah pesan dari daerah kepada nasional: pemulihan tidak hanya diukur dari bangunan yang berdiri kembali, tetapi dari manusia yang dikuatkan.(Norris Hutapea)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *