AUM dan Getaran Spiritual dalam Karya I Ketut Adi Candra

AUM dan Getaran Spiritual dalam Karya I Ketut Adi Candra

AUM dan Getaran Spiritual dalam Karya I Ketut Adi Candra

Bandung, – Temporatur.com

Bandung seolah mendapat denyut yang berbeda pada Rabu sore. Di ruang Orbital Dago yang biasanya tenang, aroma dupa samar bercampur dengan percakapan pengunjung yang memenuhi pembukaan pameran tunggal seniman Bali, I Ketut Adi Candra.

Tajuk pamerannya, _AUM di Tengah Realitas Hybrid_, terdengar seperti mantra sekaligus pernyataan sikap. Di dinding-dinding galeri, lukisan abstrak berlapis tekstur menggantung dengan warna-warna pekat dan sapuan yang terasa meledak-ledak. Namun semakin lama diperhatikan, di antara semburat cat itu muncul jejak aksara Bali, simbol _rerajahan_, hingga bentuk-bentuk yang mengingatkan pada perangkat ritual. Karya-karya itu seperti tidak selesai hanya untuk dilihat. Ada sesuatu yang ingin “dipancarkan”.

Bagi Adi Candra, melukis memang bukan sekadar kerja artistik.

_“Ini bukan hanya soal cat dan kanvas. Ada meditasi, doa, dan energi yang ikut masuk ke dalam lukisan,”_ ujarnya saat pembukaan pameran.

Bacaan Lainnya

Seniman kelahiran Gianyar, Bali, 1973 itu memang hidup di dua dunia sekaligus: sebagai pelukis dan _jero mangku_. Latar spiritual itulah yang membuat karya-karyanya bergerak di wilayah unik, berada di antara seni rupa kontemporer dan laku ritual.

Kurator *Bambang Barnas* menyebut posisi Adi Candra sebagai bagian dari realitas Bali hari ini, ketika tradisi, modernitas, spiritualitas, dan industri berjalan bersamaan dalam ruang yang cair. Dalam situasi seperti itu, karya-karya Adi Candra justru mencoba menjaga percakapan dengan dimensi batin.

Perjalanan hidup sang seniman sendiri tidak selalu mulus. Dalam sejumlah catatan personalnya, ia mengaku pernah mengalami masa-masa gelap dan frustrasi panjang. Titik balik datang ketika ia mulai mendalami meditasi, yoga, dan disiplin spiritual. Dari proses itu, melukis berubah menjadi medium perenungan sekaligus pemulihan diri.

Jejak pengalaman tersebut terasa kuat di ruang pamer. Lukisan-lukisannya tidak hadir dengan bentuk figuratif yang gamblang, melainkan ledakan abstraksi yang seperti menyimpan lapisan emosi dan getaran tertentu. Ada kesan bahwa kanvas diperlakukan bukan hanya sebagai bidang visual, melainkan ruang ritual.

Konsep _AUM_ menjadi pusat dari seluruh gagasan pameran ini. Dalam tradisi Hindu, _AUM_ atau _OM_ dipahami sebagai bunyi kosmis, suara primordial yang menghubungkan manusia dengan semesta dan Ketuhanan. Dari situlah Adi Candra membangun gagasan tentang energi spiritual yang diteruskan melalui karya seni.

Tema Tantra yang diangkatnya juga muncul lewat permainan simbol dan aksara. Beberapa karya memperlihatkan _rajah-rajah_ samar yang nyaris tenggelam dalam lapisan warna. Simbol-simbol itu tidak tampil dominan, melainkan seperti disembunyikan, membuat penonton harus berhenti lebih lama untuk menemukannya.

Selain lukisan, pameran ini juga menghadirkan unsur-unsur ritual seperti gambar ornamen upacara dan _sanggah_ atau tempat sesaji. Kehadiran objek-objek tersebut membuat ruang galeri terasa seperti persilangan antara ruang seni dan ruang spiritual.

Pada pembukaan pameran, *Heri Dim* turut memberi pandangan tentang seni nonfiguratif dan gagasan pembebasan. Menurutnya, kebebasan tidak selalu lahir dari ketiadaan batas, tetapi justru bisa ditemukan melalui disiplin dan keterikatan tertentu. Ia mengibaratkan seperti laku puasa: ada pembatasan, tetapi di dalamnya justru muncul ruang kesadaran baru.

Pandangan itu terasa selaras dengan perjalanan Adi Candra sendiri. Ia menemukan bentuk kebebasan setelah menerima jalan spiritual yang sebelumnya sempat ia hindari. Dari sana lahir karya-karya yang abstrak, meditatif, tetapi tetap berakar pada tradisi Bali.

Di tengah kecenderungan seni rupa kontemporer yang kerap sibuk mengejar sensasi visual dan pasar, pameran ini hadir dengan arah yang berbeda. Karya-karya Adi Candra tidak berteriak keras. Mereka bekerja perlahan, seperti mantra yang diucapkan berulang dalam kepala.

Dan mungkin di situlah kekuatan pameran ini berada: pada kemampuannya membuat lukisan terasa bukan sekadar benda visual, melainkan wadah bagi energi, kontemplasi, dan doa-doa yang diam-diam menetap di permukaannya.

Penulis:

Ndaru Bektari

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *