Dalam Kubah Podcast (Bagian II)
Adzan Dzuhur telah dikumandangkan sekaligus menjadi petanda waktu telah masuk pukul 12:00 WIB yang berarti saatnya memulai podcast. Meski jadwal tersebut tidak jarang menerima kritik dari beberapa bintang tamu lantaran mepet waktu ISHOMA (Istilah yang sering digunakan dalam acara kepanitiaan yang berarti saatnya istirahat, sholat dan makan) dengan jam kerja, saya tetap berkomitmen dan meyakinkan mereka jadwal tersebut sebagai kesempatan di sela-sela kesibukan.
Suatu kebetulan, jadwal podcast kali ini adalah dengan Ukhty Feni. Jika pada channel miliknya dia terlambat, pada podcast saya pun ternyata sama. Pada jam yang telah menunjukkan 12:05 maka saya berinisiatif perlahan memulai dengan beberapa acara sisipan. Setelah dibuka tentunya dengan pujian berikut shalawat, beberapa artikel yang relevan dengan tema bahasan dari berbagai website menjadi bagian menarik. Penulis Lepas dengan kredibilitas dan integritas tinggi menjadi pilihan utama.
Tidak salah fokus, tema-tema tauhid, Tasawwuf dan ibadah menjadi di antara pilihan.
Sembari mengulas sedikit artikel tersebut, saya sampaikan untuk mengkonfirmasi kehadiran Ukhty Feny melalui pesan singkat. Mengagetkan! Ukhty Feny ternyata telah tiba tepat di hadapan sapa.
“Assalamu’alaykum!” Sapanya. “Wa’alaykum salam!” Segera menjawab salamnya sambil terlupa bahasan artikel, fokus saya terdistrek kedatangannya yang memang mengejutkan.
“Punya masalah dengan Tuhan ya jangan dilampiaskan kepada saya!” tatap matanya tajam.
Sejenak saya terdiam, suasana studia senyap seketika. Ukhty Feni pun kemudian berlalu. Tidak ingin tertekun lama, saya mengejarnya dan mengungkapkan apa yang membenani saya.
“Apa salah meminta tolong kepada sesama manusia setelah sebisa daya berusaha?!” Tandas saya.
“Di sanalah masalahnya, kau belum selesai dengan urusan terhadap Tuhan namun bersegera mencari sandaran.” “Suka merepotkan orang!” Jelasnya.
“Saya hanya minta bantuan sekedarnya yang itu juga diperintahkan.” “Itu tidak terlarang!” Bantahku. “Cukup!” Tutup Ukhty Feni. “Di situ cacat tauhidmu!” “Meski tidak semenganga para pengagum sensasi, kau berani menyanggah ilmu” ungkapku lega.
“Gini, perlu juga disadari bahwa takdir juga bersifat ketetapan. Kabar tentang kebaikan atau peringatan akan keburukan di masa depan tidak bertentangan dengan cobaan bagi manusia, baik kekurangan harta, jiwa, sampai pada pergiliran rasa sakit antar sesama manusia,” paparnya
Tanpa tahu percis apa masalahnya, Ukhty Feni bisa mendamaikan kembali kondisi mereka setelah bersengit dalam podcast kali ini. Ukhty Feni hanya menatap lembut seolah menunjukkan iba dan berusaha mengerti maksud saya. Saya pun membalas dengan menundukkan wajah sambil menghela nafas kemudian memilih kata demi kata untuk menutup perbincangan juga menutup beberapa tayangan artikel yang sedari tadi lalai untuk ditutup. Podcast pun ditutup menjelang Ashar (15:05 WIB)
Bersambung.
Penulis Cerpen :
Oleh: Nazwar, S. Fil. I., M. Phil. (Penulis Lepas Lintas Jogja Sumatera)















