Kawat Berduri di Depan Kantor Gubernur Kaltim Simbol Ketakutan atau Kewaspadaan?

Kawat Berduri di Depan Kantor Gubernur Kaltim Simbol Ketakutan atau Kewaspadaan?

Kawat Berduri di Depan Kantor Gubernur Kaltim Simbol Ketakutan atau Kewaspadaan?

Oleh: Irpan

PENAJAM – Temporatur.com

Menjelang aksi damai 21 April, pemandangan yang menyita perhatian publik bukan lagi sekadar persiapan pengamanan biasa, melainkan pemasangan kawat berduri yang melingkar di sekeliling kompleks Kantor Gubernur Kalimantan Timur.

Langkah ini memunculkan banyak tanya. Di satu sisi, pemerintah mungkin beralasan ini demi keamanan dan antisipasi kerusuhan. Namun di mata publik, kawat berduri itu justru menjadi simbol yang sangat kuat: pemisah yang tegas antara penguasa dan rakyat.

Menutup Pintu Dialog

Bacaan Lainnya

Secara psikologis dan politis, pemasangan kawat berduri memberikan pesan yang keliru. Ini seolah-olah mengatakan bahwa rakyat yang ingin menyampaikan aspirasi adalah “musuh” yang harus dijauhkan, bukan mitra yang diajak berdialog.

Padahal, dalam demokrasi, unjuk rasa adalah hak konstitusional yang dijamin undang-undang. Ketika akses diblokir dengan benda-benda yang bersifat mengintimidasi, itu sama saja dengan menutup ruang komunikasi. Rakyat datang bukan untuk berperang, tapi untuk menyuarakan apa yang menjadi keluhan dan harapan mereka.

Salah Kaprah dalam Mengelola Keamanan

Kawat berduri mungkin bisa menahan massa secara fisik, tapi tidak bisa menahan kritik, apalagi menyelesaikan masalah. Justru, tindakan ini berpotensi memicu emosi dan memperkeruh suasana.

Kalau pemerintah merasa kebijakannya benar dan berpihak pada rakyat, seharusnya tidak perlu takut. Pemerintah yang kuat adalah yang berani hadir, mendengar, dan berhadapan langsung dengan rakyatnya, bukan yang bersembunyi di balik pagar dan duri.

Kaltim sebagai Etalase Bangsa

Ironisnya, hal ini terjadi di Kalimantan Timur yang kini sering disebut sebagai “etalase Indonesia” karena keberadaan Ibu Kota Nusantara (IKN). Jika citra yang ditampilkan justru adalah ketakutan dan penutupan akses, bagaimana kita bisa menjadi contoh bagi daerah lain?

Seharusnya, yang dipasang bukan kawat berduri, melainkan keterbukaan. Yang dikerahkan bukan hanya pasukan keamanan, tapi juga niat baik untuk mendengar dan menyelesaikan masalah.

Akhir kata, kawat berduri mungkin berhasil mengamankan gedung, tapi gagal mengamankan hati dan kepercayaan rakyat. Semoga esok hari, kebijaksanaan dan kedewasaanlah yang menang, bukan kekakuan dan kekerasan simbolik.

Editor: Suryo Sudaharmo

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *