Breaking News
light_mode
Beranda » Nasional » Berita » Kisah Persahabatan Sang Proklamator Meski Beda Pandangan Politik

Kisah Persahabatan Sang Proklamator Meski Beda Pandangan Politik

  • account_circle Suryo S
  • calendar_month Rabu, 24 Des 2025
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Sejarah, – Temporatur.com || Dwitunggal Sukarno dan Moh. Hatta, politik adalah jalan untuk mewujudkan idealisme. Karena itu, keduanya kerap berdebat bahkan hingga ketika sudah sama-sama tak muda. Namun bagi keduanya, politik tak boleh memasuki ranah kehidupan pribadi. Maka kendati perdebatan kerap mewarnai perjalanan keduanya dalam kehidupan bernegara, hubungan pribadi dan keluarga Bung Karno dan Bung Hatta selalu baik dan hangat. Persahabatan keduanya merupakan kisah manis dalam perjalanan sejarah bangsa meski banyak yang melupakan.

Pengusaha Hasjim Ning, keponakan Bung Hatta yang kemudian menjadi sahabat Bung Karno, merupakan salah seorang yang paling sering menyaksikan persahabatan kedua proklamator itu. Persahabatan Bung Karno dan Bung Hatta bahkan sudah lebih dulu ada sebelum Hasjim mengenal Bung Karno.

Kisah itu terjadi pada 1938, ketika Hasjim mengerjakan tugas dari ayahnya yang menjadi pemegang proyek rehabilitasi jalan raya Bengkulu-Manna. Suatu hari, Hasjim mendapat telepon dari sang ayah yang mengatakan dirinya mendapat surat dari Bung Hatta di Banda Neira. Surat yang dibawa oleh orang Tionghoa rekan Bung Hatta dan ayah Hasjim itu memuat pesan Bung Hatta agar ayah Hasjim membantu keperluan Bung Karno selama di Bengkulu. Bung Hatta mendengar kabar Bung Karno dipindahkan tempat pengasingannya dari Ende ke Bengkulu.

Mendapat tugas untuk menemui tahanan politik di masa itu merupakan masalah tersendiri. Hasjim lalu mengutarakannya kepada Raden Mas Rasjid, orang yang ditunjuk ayah Hasjim mengepalai proyek tersebut. Rasjid, yang ternyata kenal Bung Karno sejak di Bandung, lalu mempertemukan Hasjim dengan Bung Karno dua hari kemudian.

Di rumah Bung Karno, Hasjim langsung disambut hangat sang tuan rumah. Dia langsung menjelaskan maksud kedatangannya. Namun alih-alih merespon maksud kedatangan Hasjim, Bung Karno justru menyatakan yang lain.

Foto: Istimewa

“Wah, Hatta masih memikirkan aku. Tapi bagaimana dengan dia sendiri?” kata Bung Karno, dikutip Hasjim dalam memoarnya, Pasang Surut Pengusaha Pejuang.

Mereka pun terlibat obrolan panjang, mulai dari penjelasan hubungan saudara antara Hasjim dan Bung Hatta hingga hal-hal lain. Upaya pemberian bantuan Hasjim baru direspon Bung Karno setelah itu. “Aku perlu sepeda dan topi helm. Topi helm berwarna gading tua. Bukan cokelat,” kata Bung Karno.

“Tak ada yang lain, Bung?” tanya Hasjim.

“Tiga helai kemeja. Mereknya Van Huizen.”

Tak berapa lama kemudian, Hasjim pun mewujudkan permintaan itu.

Kebaikan itu tak pernah dilupakan Bung Karno. Saat keduanya kembali bertemu, pada masa pendudukan Jepang di rumah Bung Hatta di Oranje Boulevard 57, Bung Karno menceritakan itu semua di depan Hatta. Bung Hatta hanya berkomentar singkat dan datar.

“Ya, kebetulan sekali ada seorang kenalanku, pedagang Cina yang waktu itu mau ke Palembang menemui kakeknya yang sedang sakit,” kata Bung Hatta.

Jauh setelah itu, saat Indonesia sudah merdeka, Sukarno dan Hatta bahu-membahu menghadapi lawan-lawan politik baik dari luar maupun dalam. Toh, keduanya akhirnya berpisah jalan setelah Bung Hatta mengundurkan diri dari jabatan wakil presiden. Bung Hatta tidak setuju konsep Demokrasi Terpimpin yang diperjuangkan Bung Karno.

Namun, hubungan pribadi keduanya tetap berjalan baik. PM Ali Sastroamidjojo, kawan kedua bung sejak muda, menuliskan kesaksiannya tentang itu dalam otobiografi berjudul Tonggak-Tonggak di Perjalananku. “Oleh karena saya mengenal baik Bung Karno maupun Bung Hatta sudah begitu lama, saya menghubungi mereka tidak sebagai Perdana Menteri, melainkan secara pribadi dan sebagai kawan lama. Lebih dahulu saya datang kepada Bung Karno,” kata Ali.

Foto: Istimewa

Di rumah presiden, Ali menanyakan apakah keretakan Bung Karno dan Bung Hatta disebabkan sentimen pribadi. “’Saya anggap Hatta sebagai saudara kandung saya sendiri,’ kata Bung Karno, ‘yang saya tidak dapat menyetujui hanya pemandangan politiknya.’ Dari Bung Karno saya mengunjungi Bung Hatta, dan mengajukan pertanyaan-pertanyaan sama seperti yang saya tanyakan kepada Bung Karno. Jawaban Bung Hatta pun hampir sama dengan jawaban Bung Karno,” sambung Ali.

Hatta akhirnya tetap mengundurkan diri. Namun, fasilitas pengawalan dan penjagaan rumah tetap didapatkannya dari negara. “Bung Karno memerintahkan kepada saya agar Bung Hatta tetap dikawal seperti biasa,” kata AKBP Mangil Martowidjojo, komandan Polisi Pengawal Pribadi Presiden dan Wakil Presiden, dalam memoarnya Kesaksian Tentang Bung Karno 1945-1967.

“’Bung Hatta adalah seorang proklamator negara Indonesia,’ kata Bung Karno. Bung Karno juga berkata, ‘Presiden dan Wakil Presiden RI, dapat diganti setiap saat menurut kehendak rakyat, tetapi proklamator negara RI tidak dapat diganti oleh siapapun. Maka dari itu, jagalah Bung Hatta baik-baik, sebagai penghormatan bangsa Indonesia kepada Bung Hatta’,” kata presiden, dikutip Mangil.

Namun, fasilitas itu ternyata hanya berjalan sampai pengujung 1959. Menteri Keamanan Nasional/KSAD Jenderal AH Nasution selaku pelaksana tertinggi UU Kedaan Darurat Perang memerintahkan penarikan pasukan penjagaan untuk Bung Hatta. Perintah itu dijalankan Mangil dan anak buahnya, mereka berpamitan kepada Bung Hatta pada 27 November.

“Dalam acara pamitan ini maka Bung Hatta pesan kepada saya, agar Bung Karno dijaga baik-baik. Menurut Bung Hatta, Bung Karno adalah pemersatu bangsa Indonesia. ,” tulis Mangil.

Mendengar hal itu dari Mangil, Sukarno pun amat kecewa. “Bung Hatta kan proklamator negara RI, Bung Hatta kan berhak mendapat kehormatan pengawalan,” kata Bung Karno.

  • Penulis: Suryo S

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Bawaslu Nyatakan Dugaan Pelanggaran Netralitas Kades Setiamekar Tidak Penuhi Unsur

    • calendar_month Kamis, 11 Jan 2024
    • account_circle Suryo S
    • 0Komentar

    Bawaslu Nyatakan Dugaan Pelanggaran Netralitas Kades Setiamekar Tidak Penuhi Unsur

  • TP PKK Sulawesi Barat Belajar Pengolahan Susu Sapi Perah di Kota Cimahi

    • calendar_month Kamis, 21 Nov 2024
    • account_circle Suryo S
    • 0Komentar

    TP PKK TP PKK Sulawesi Barat Belajar Pengolahan Susu Sapi Perah di Kota Cimahi SelanjutnyaMadrawi Sebut Warga Dusun Polalang Jadi Alat Uji Coba Aturan Menara TelekomunikasiKota Cimahi- Temporatur.com Penjabat (Pj.) Ketua TP PKK Provinsi Jawa Barat Amanda Soemedi Bey Machmudin menerima kunjungan kerja TP PKK Provinsi Sulawesi Barat di Mall Pelayanan Publik Kota Cimahi, Kamis […]

  • Tambang Ilegal Merajalela, Nama Kapolres Pasaman Barat Terseret Dugaan Setoran

    • calendar_month Minggu, 28 Des 2025
    • account_circle Suryo Sudharmo
    • 0Komentar

    PASAMAN BARAT – Temporatur.com Aroma busuk dugaan pembiaran tambang emas ilegal (PETI) di Kabupaten Pasaman Barat kembali mencuat ke permukaan. Kali ini, tudingan datang keras dari Korwil Bela Negara, Uni Yatul Kubra, yang mengaku menerima informasi serius terkait dugaan aliran upeti miliaran rupiah dari para penambang emas ilegal kepada Kapolres Pasaman Barat. SelanjutnyaMadrawi Sebut Warga […]

  • Desa Rintik Serukan Persatuan dan Kedamaian di Tengah Dinamika Terkini

    • calendar_month Senin, 1 Sep 2025
    • account_circle Suryo S
    • 0Komentar

    Pemerintah Desa Rintik, Kecamatan Babulu, Kabupaten Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur, mengeluarkan seruan kepada seluruh warga untuk menjaga ketertiban, keamanan, dan kenyamanan bersama di tengah dinamika yang terjadi belakangan ini. Seruan ini bertujuan untuk menciptakan lingkungan desa yang aman, tenteram, dan harmonis. (Sumber: Akun Instagram resmi Desa Rintik, desarintik_official)

  • EBNOVRIO HANESTY, M.pd. Terpilih Sebagai Ketua pada MUSDA PPDI Sumbar

    EBNOVRIO HANESTY, M.pd. Terpilih Sebagai Ketua pada MUSDA PPDI Sumbar

    • calendar_month Senin, 16 Jan 2023
    • account_circle Suryo S
    • 0Komentar

    Padang-Sumbar || Temporatur.com Ebnovrio Hanesty, M.Pd terpilih sebagai Ketua Dewan Pengurus Daerah Perkumpulan Penyandang Disabilitas (PPDI) Sumbar periode 2023-2028. Pemilihan berlangsung dalam Musyawarah Daerah (Musda) PPDI Sumbar ke II di auditorium gubernur, Minggu (15/1/2023). SelanjutnyaPilkades Kabupaten Bekasi 2026: Balon Kades Mulai Ikuti Tes Tertulis dan WawancaraTurut hadir dalam acara tersebut Gubernur Sumbar yang diwakili oleh […]

  • Peduli Ramadhan PAC Pemuda Pancasila Cibitung dan Ranting Wanasari Bagikan Takjil

    • calendar_month Minggu, 26 Mar 2023
    • account_circle Suryo S
    • 0Komentar

      Cibitung, Bekasi- Jabar|| Temporatur.com SelanjutnyaPilkades Kabupaten Bekasi 2026: Balon Kades Mulai Ikuti Tes Tertulis dan WawancaraHari ke 4 Puasa Ramadhan 1444 Hijriah Tahun 2023 Pimpinan Anak Cabang (PAC) Pemuda Pancasila Kecamatan Cibitung berserta pengurus ranting Wanasari bagi-bagi takjil kepada pengendara jalan yang melintas di Jl. Bersih Kp. Serang, Wanasari, Kecamatan Cibitung Kabupaten Bekasi Jawa […]

expand_less