Breaking News
light_mode
Beranda » Olahraga » Cetak Pelatih Berbasis Sports Science, Akuatik Bekasi Targetkan Lonjakan Medali dan Atlet Nasional

Cetak Pelatih Berbasis Sports Science, Akuatik Bekasi Targetkan Lonjakan Medali dan Atlet Nasional

  • account_circle Suryo
  • calendar_month 1 jam yang lalu
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Cetak Pelatih Berbasis Sports Science, Akuatik Bekasi Targetkan Lonjakan Medali dan Atlet Nasional

BEKASI — Temporatur.com

Sebanyak 100 peserta mengikuti Pelatihan Pelatih Renang Kategori Madya atau Lisensi C yang digelar Akuatik Indonesia Kabupaten Bekasi di Prembiz, Cikarang, Senin (21/9/2026).

Jumlah peserta yang cukup besar itu menjadi sinyal meningkatnya kebutuhan terhadap pelatih renang yang memiliki kompetensi dan standar kepelatihan.

Namun, di balik angka tersebut, muncul tantangan yang jauh lebih besar: apakah bertambahnya pelatih berlisensi otomatis akan diikuti peningkatan prestasi atlet Kabupaten Bekasi?

Pertanyaan ini penting karena ukuran keberhasilan pembinaan olahraga tidak cukup hanya dilihat dari banyaknya peserta pelatihan maupun jumlah sertifikat yang diterbitkan.

Ujian sesungguhnya justru berada di lapangan. Apakah program latihan menjadi lebih terukur? Apakah kemampuan atlet meningkat? Apakah catatan waktu semakin baik?

Bagaimana regenerasi atlet berjalan? Dan yang paling penting, apakah peningkatan kualitas pelatih benar-benar berujung pada prestasi di tingkat daerah, nasional hingga internasional?.

Ketua Umum Akuatik Indonesia Kabupaten Bekasi yang juga ketua panitia, Wanto, menegaskan bahwa pelatihan tersebut tidak boleh berhenti pada persoalan mendapatkan lisensi.

“Pelatihan ini jangan hanya dimaknai untuk mendapatkan lisensi. Setelah kembali ke klub dan tempat latihan, ilmu yang didapat harus benar-benar diterapkan. Pelatih harus terus belajar dan meningkatkan kemampuan,” tegas Wanto.

Menurutnya, seorang pelatih tidak cukup hanya menguasai teknik renang. Pelatih juga dituntut memahami penyusunan program latihan, pembinaan atlet, evaluasi serta perkembangan metode kepelatihan. “Jangan sampai lisensinya ada, tetapi pola latihannya tidak berubah,” ujarnya.

Pernyataan tersebut menjadi penting karena sertifikasi seharusnya menjadi awal peningkatan kualitas, bukan sekadar legitimasi administratif seorang pelatih.

Dengan 100 peserta yang mengikuti pelatihan, pekerjaan rumah berikutnya justru lebih besar. Para pelatih dituntut mampu membawa pengetahuan yang diperoleh ke klub dan tempat latihan masing-masing.

Jika tidak, pelatihan berpotensi hanya menjadi agenda formal yang berakhir bersamaan dengan diterimanya sertifikat.

Wakil Ketua Umum KONI Kabupaten Bekasi, Marto Firmansyah, mengapresiasi pelaksanaan pelatihan yang diikuti 100 peserta tersebut.

Marto menilai peningkatan kapasitas pelatih merupakan bagian penting dalam membangun fondasi olahraga prestasi.

“Hanya dari pelatih hebatlah akan lahir atlet-atlet yang hebat pula,” ujar Marto.

Ia menegaskan bahwa cabang olahraga akuatik, termasuk renang, merupakan salah satu cabang yang diharapkan mampu memberikan kontribusi prestasi dan medali bagi Kabupaten Bekasi maupun Jawa Barat.

Karena itu, peningkatan kompetensi pelatih harus mendapat dukungan secara berkelanjutan.

Namun, dukungan tersebut juga membutuhkan ukuran keberhasilan yang jelas. Bukan hanya berapa banyak pelatih yang mengikuti penataran, melainkan bagaimana dampaknya terhadap atlet setelah pelatihan selesai.

Apakah prestasi meningkat atau justru tetap berjalan di tempat? Pertanyaan itu pada akhirnya hanya bisa dijawab melalui evaluasi yang objektif dan data prestasi atlet.

Sementara Ketua Umum Akuatik Jawa Barat, Verdia Yosep, dalam sambutannya menekankan pentingnya peningkatan kualitas pelatih sekaligus penerapan manajemen olahraga modern.

Menurutnya, olahraga memiliki dimensi yang lebih luas. Selain mengejar prestasi, olahraga juga dapat menjadi bagian dari pengembangan industri olahraga, mempererat persatuan serta membentuk kesehatan fisik, mental dan kedisiplinan.

Ia mendorong agar para pelatih tidak hanya berpikir dalam lingkup kompetisi lokal, tetapi mulai membangun pola pembinaan yang mampu mempersiapkan atlet menghadapi persaingan yang semakin tinggi.

Pandangan tersebut sekaligus menuntut adanya perubahan paradigma dalam pembinaan.

“Atlet tidak cukup hanya dilatih keras. Mereka membutuhkan program yang terukur, evaluasi berkala, pendekatan ilmiah (sports science), serta pemantauan perkembangan fisik yang berkelanjutan.

Di sinilah peran ke-100 pelatih baru ini diuji untuk melahirkan sejarah baru bagi akuatik Kabupaten Bekasi di masa depan,” pungkas Yosep menutup arahannya.

(SS/Red)

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

expand_less