Kritik Keras LSM Gempita Terkait Bencana Sumatera: “Jangan Atas Nama Nasionalisme, Nyawa Terabaikan”

Kritik Keras LSM Gempita Terkait Bencana Sumatera: “Jangan Atas Nama Nasionalisme, Nyawa Terabaikan”

Kritik Keras LSM Gempita Terkait Bencana Sumatera: “Jangan Atas Nama Nasionalisme, Nyawa Terabaikan”

JAKARTA, -Temporatur.com

Humas DPP Lembaga Swadaya Masyarakat Generasi Muda Peduli Tanah Air (LSM Gempita), yang juga merupakan mantan aktivis 98, melontarkan kritik pedas terhadap penanganan bencana di Sumatera. Pihaknya menyoroti adanya paradoks antara narasi kedaulatan negara dengan realitas kemanusiaan di lapangan

 

Dalam pernyataan resminya pada Selasa (23/12/2025), perwakilan Gempita menyatakan kegeramannya atas kabar penolakan bantuan asing di saat masyarakat sedang berjuang bertahan hidup di wilayah bencana.

“Darah kita mendidih ketika disuguhkan berita bahwa atas nama nasionalisme dan kedaulatan negara, kita menolak bantuan asing, padahal bantuan tersebut faktanya sudah tiba di wilayah bencana. Ada apa sebenarnya?” ungkap Humas DPP Gempita.

Bacaan Lainnya

Ironi Prosedur di Tengah Duka

Tak hanya soal bantuan internasional, LSM Gempita juga menyoroti hambatan birokrasi yang dialami warga lokal. Ia menceritakan keprihatinannya melihat masyarakat sipil yang hendak memberikan donasi justru berbenturan dengan aturan administratif.

“Sangat menyakitkan saat menyaksikan emak-emak membawa donasi untuk korban bencana, tapi harus bertengkar dengan aparat soal ‘prosedur’

Seakan-akan urusan administrasi jauh lebih penting daripada keselamatan nyawa manusia,” tambahnya.

Refleksi Filosofis: Nasionalisme vs Humanisme

Dalam kritiknya, Gempita mengutip berbagai pemikiran besar untuk mengingatkan pemerintah bahwa nasionalisme seharusnya tidak membunuh rasa kemanusiaan. Ia merujuk pada konsep Imagined Community dari Benedict Anderson dan Cosmopolitan Right dari Immanuel Kant, yang menegaskan bahwa manusia adalah warga dunia dengan hak moral yang melampaui batas negara.

“Martha Nussbaum menegaskan bahwa penderitaan tidak pernah meminta legitimasi kewarganegaraan.

Kesetiaan etis tertinggi adalah pada martabat manusia,” tegasnya.
Pihaknya juga membawa perspektif Islam klasik, mengutip pemikiran Al-Ghazali mengenai hifz al-nafs (penjagaan jiwa) sebagai prioritas utama di atas kepentingan politik, serta peringatan Ibn Khaldun bahwa solidaritas yang kehilangan keadilan akan menghancurkan peradaban.

Bencana Sebagai Penyingkap Nurani

Menurut LSM Gempita, bencana adalah momen telanjang yang membuka jati diri sebuah bangsa. Nasionalisme yang sehat bukan diuji melalui pidato, melainkan melalui kecepatan empati.

“Nasionalisme yang kehilangan kemanusiaan akan berubah menjadi mesin kekerasan. Sebaliknya, cinta tanah air yang berakar pada cinta manusia akan melahirkan peradaban,” ujarnya menekankan pentingnya transformasi nilai nasionalisme di Indonesia.
Menutup pernyataannya, ia mengajak seluruh elemen pemangku kebijakan untuk tidak terlalu sibuk menjaga batas wilayah hingga lupa menjaga nurani.

“Di hadapan reruntuhan, manusia tidak berdiri sebagai warga negara, melainkan sebagai makhluk rapuh yang berharap ditolong. Semoga kita tidak lupa menjaga nurani, sebab di sanalah kemanusiaan dan keimanan bertemu,” pungkasnya.

(Red/Temporatur.com)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *