Breaking News
light_mode
Beranda » News » Politisi?

Politisi?

  • account_circle Suryo S
  • calendar_month Sabtu, 4 Okt 2025
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Sisi Lain, – Temporatur.com || Suatu ketika sebuah bis yang sebagian penumpangnya gelak tawa lantaran baru saja mendengar kenaikan gaji yang terguling ke dalam jurang di dekat sebuah dusun pedalaman. Semua penumpangnya tewas. Penduduk datang menolong. Beberapa jam kemudian mereka berhasil mengangkat jenazah satu demi satu untuk dibaringkan di balai desa. Mereka kenali wajah mayat-mayat itu: tiga anggota parlemen, dua tokoh partai.

Esoknya polisi mengusut. “Waktu bapak-bapak menemukan korban, apakah semuanya sudah mati?”

Jawab seorang penduduk: “Yah, mereka mengaku belum mati, Pak. Tapi mereka kan politisi.”

Banyak lelucon tentang politisi, sering pedas. Sikap ini bisa tak adil (tak semua politisi menjijikkan), tapi bisa benar. Yang jelas, tak tiba-tiba. Dalam cemooh demi cemooh itu tersingkap endapan pengalaman yang tak sedap.

Di Indonesia, sebagaimana bisa dilihat dari survei pendapat umum Kompas September 2019, lebih dari 66% responden merasa tak terwakili para anggota DPR. Citra lembaga ini “buruk”, menurut 62% pendapat. Di Australia, sebuah survei menunjukkan hanya empat persen warga negera menganggap politisi bisa diperaya — tepatnya “hampir selalu” dapat dipercaya.

Di Eropa dan di Amerika, muncul gerakan rakyat yang tak mempercayai lagi partai dan parlemen. Movimento 5 Stelle di Italia, misalnya, yang bermula sebagai dagelan melawan “partitocrazia’ (“partai-krasi”), disambut.. M5S tak mau disebut sebagai “partai”, tapi ikut dalam pelbagai pemungutan suara. Dan menang. Di banyak tempat orang menganggap politisi setara dengan penjual mobil bekas — menawarkan sesuatu yang tak bermutu dengan pengeras suara yang brisik.

Tanpa kepercayaan kepada politisi — tokoh utama yang mewakili suara rakyat — sistem demokrasi goyah. Dalam dua tiga tahun terakhir di rak buku terpampang judul-judul muram yang ditulis para pakar: Democracy in Crisis oleh Roland Rich (2017), Democracy and Its Crisis, oleh A.C. Grayling (2018), Democracy in Crisis, oleh Boris Vormann dan Christian Lammert (2019), The People vs Democracy oleh Yascha Monk (2018)….

Tentu, seperti dikatakan argumen yang klasik, tak ada alternatif yang lebih baik. Ketidak-percayaan kepada politisi dalam demokrasi pada dasarnya tak berbeda dengan ketidak-percayaan yang bisa berkembang kepada pemimpin politik dalam sistem apapun. Raja dimakzulkan, khalifah dibunuh, diktatur disubversi. Di Afrika ada perlawanan yang lebih halus: kata sebuah pomeo, bila pembesar lewat, rakyat membungkuk — dan kentut. Di Tiongkok, pernah meletus krisis kepercayaan paling dahsyat: dalam “Revolusi Kebudayaan” di tahun 1960-an, jutaan pemuda mengikuti seruan Mao Zhedong agar para pembesar Partai Komunis diganyang — sebuah seruan yang diucapkan sang pendiri Partai sendiri, yang semula percaya bahwa Partai Komunis adalah pembawa suara kaum buruh dan tani.

Ada seorang pemikir politik, Sheila Benhabib, yang menyebut krisis itu “a tragic gap between the constituent power and instituted democracy,” gejala “keterpisahan yang tragis” antara kekuasaan para pemilih dan demokrasi yang terbentuk dalam lembaga-lembaga. Kata “tragis” menunjukkan sesuatu yang negatif, juga sesuatu yang mirip nasib.

Syahdan, di tempat demokrasi dilahirkan, Yunani tiga milienia yang lalu, Sokrates menyalahkan “kedaulatan rakyat” karena demos, orang kebanyakan di pasar dan jalanan, tak bisa dipercaya untuk pegang kemudi kekuasaan. Saya kira Sokrates keliru. Yang tak bisa dipercaya bukan demos, melainkan “krasi”: lembaga-lembaga yang ditegakkan dengan asumsi bahwa sebuah tata akan lebih baik ketimbang anarki, “tanpa-tata”.

Tata yang kini kita kenal dalam demokrasi adalah sistem perwakilan. Kata “wakil” berarti juga “pengganti” yang diasumsikan sanggup melakukan apa yang semestinya dilakukan mereka yang digantikan. Wakil hadir dari sebuah ketidak-hadiran. Ia bukan duplikat. Ia punya dunia dan dinamikanya sendiri.

Maka keterpisahan dengan mereka yang diwakili sebenarnya wajar — hanya tak diakui. Wakil, dalam bahasa Inggris, disebut “representative”, dari kata “re” dan “present” — dan ini bisa menyesatkan. “Hadir”, sebagai sebuah peristiwa, tak bisa diulang (apalagi oleh orang lain) di waktu yang lain. Tak ada representasi tanpa transformasi. Apalagi kelak, ketika norma berganti, rakyat berubah.

“Rakyat” memang selamanya perlu dilihat sebagai “rakyat yang belum datang”. Tiap kali kata ini perlu ditilik kembali. Bennedict Anderson melihat “bangsa”, nation, sebagai sebuah komunitas yang dianggit, “an imagined community”; bagi saya, “rakyat” demikian pula. Dalam sebuah risalah tentang politik, Deleuze menyebut “fabulation” yang positif dalam keadaan “rakyat” tak hadir, “le peuple manque”.

Dengan kata lain, tiap kali “rakyat” membentuk diri — dalam konteks yang berbeda-beda, bukan dari nol, bukan hanya obyek.

Maka tiap “tata” selalu mengandung “tanpa-tata”. Demokrasi selalu punya elemen anarki.

Tak selamanya anarki berarti amuk. Ia juga bisa tampak seperti goro-goro dalam wayang kulit yang tertib dan anggun: cemooh kurang ajar, gurauan yang tak menentu. Tapi membuka jalan pembebasan. Atau lebih tepatnya Paradox?

  • Penulis: Suryo S

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Keterangan foto : Menko Perekonomian Airlangga Hartarto (ft.istimewa)

    Pemerintah Resmi Batasi Pembelian BBM Subsidi 50 Liter per Hari Mulai 1 April 2026

    • calendar_month Rabu, 1 Apr 2026
    • account_circle Suryo S
    • 0Komentar

    Pemerintah Resmi Batasi Pembelian BBM Subsidi 50 Liter per Hari Mulai 1 April 2026

  • Keterangan foto : Ratusan demonstran yang mengatasnamakan diri sebagai Aktivis Connection menggelar aksi unjuk rasa di depan kantor hukum Law Firm Hotman Paris & Partner, Komplek Ruko Kensington, Kelapa Gading, Jakarta Utara, Senin (20/7/2026) siang.

    Ratusan Massa Demo Kantor Hotman Paris di Kelapa Gading ?

    • calendar_month Selasa, 21 Jul 2026
    • account_circle Suryo S
    • 0Komentar

    Ratusan Massa Demo Kantor Hotman Paris di Kelapa Gading ?

  • Audiensi Dengan Presiden ,Komunitas Melayu-Banjar Dukung Pembangunan IKN

    Audiensi Dengan Presiden ,Komunitas Melayu-Banjar Dukung Pembangunan IKN

    • calendar_month Rabu, 18 Jan 2023
    • account_circle Suryo S
    • 0Komentar

    Jakarta ||Temporatur.com “Dalam pertimbangan kami, kajian kami bersama, kita juga menilai adanya Ibu Kota Nusantara itu pilihan luar biasa untuk keseimbangan pembangunan. Jadi secara umum kita support, kita dukung adanya ibu kota baru,” jelas Ketua Panitia Muktamar Rhabithah Melayu-Banjar Syarbani Haora dalam keterangannya selepas pertemuan. SelanjutnyaBursa Wakil Bupati Bekasi Dibayangi Pengalaman 2019, Konsolidasi Partai Jadi […]

  • Petani Pengelola Lahan Balai  Benih Kecamatan Pebayuran,  Keluhkan Kebijakan  UPTD yang Tak Berpihak

    • calendar_month Jumat, 17 Jan 2025
    • account_circle Suryo S
    • 0Komentar

    PETANI PENGELOLA

    Sejumlah petani penggarap yang mengelola lahan Balai Benih di Kampung Tambun, Desa Karangharja, Kecamatan Pebayuran, mengungkapkan kekecewaannya terhadap kebijakan pemberhentian sementara pengelolaan lahan yang diterapkan oleh UPTD Balai Benih. Kebijakan ini dianggap tidak disertai dengan musyawarah yang memadai dan pemberitahuan yang jelas, sehingga menimbulkan kesan seperti pemecatan tanpa alasan yang sah.

    Dalam pertemuan yang digelar hari ini, Dede, perwakilan dari UPTD Balai Benih Karangharja, menjelaskan bahwa keputusan pemberhentian sementara tersebut diambil sebagai langkah antisipasi akibat pemberitaan yang viral di media. Namun, kebijakan ini tidak memberikan kejelasan bagi petani terkait nasib mereka ke depan, dan tidak melibatkan komunikasi yang baik antara pihak UPTD dan penggarap.

    Selain itu, petani juga mengeluhkan tingginya harga pupuk non-subsidi yang membebani mereka, seperti Pupuk Urea Petro N 46% yang dijual seharga Rp 8.500 per kilogram dan Pupuk PHONSKAH seharga Rp 7.000 per kilogram, jauh lebih tinggi dibandingkan dengan harga pupuk bersubsidi yang biasanya dijual dengan harga sekitar Rp 2.250 hingga Rp 2.500 per kilogram. Para petani pun menuntut penjelasan mengenai alasan mereka tidak dapat membeli pupuk subsidi meskipun terdaftar dalam Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok (RDKK).

    Masalah lainnya yang dikeluhkan oleh para petani adalah penetapan harga gabah yang ditawarkan oleh Balai Benih yang dianggap terlalu rendah dibandingkan dengan harga pasar. Hal ini semakin memperburuk kondisi ekonomi para penggarap yang merasa dirugikan. Petani juga menyatakan kesiapan mereka untuk menerima rencana retribusi atau bagi hasil, asalkan pihak UPTD Balai Benih memberikan transparansi dalam pengelolaan dan pelaksanaannya. Para petani menegaskan bahwa mereka siap menerima retribusi sebesar Rp 1.500 per kilogram, namun menolak jika besaran retribusi ditetapkan sebesar Rp 3.000 per kilogram, karena dianggap terlalu memberatkan.

    “Kami selaku pengharap siap terkait dengan cara bagi hasil atau rencana retribusi, namun itu pun jika retribusinya Rp 1.500 per kilogram. Jika ditetapkan Rp 3.000 per kilogram, kami keberatan. Lantas, kami dapat apa jika retribusi sebesar itu? Kami harap pihak UPTD Balai Benih Karangharja dapat lebih transparan dalam kebijakan yang diterapkan dan memberikan penjelasan yang jelas mengenai pengelolaan yang dilakukan,” ungkap para petani.

  • Presiden Jokowidodo Resmikan  Jembatan Kretek 2, Manfaat Nyata Untuk  Masyarakat Bantul DIY

    • calendar_month Jumat, 2 Jun 2023
    • account_circle Suryo S
    • 0Komentar

    Presiden Jokowidodo Resmikan  Jembatan Kretek 2 , Manfaat Nyata Untuk  Masyarakat Bantul DIY

  • Jadi Pembina Apel Pagi, Bey Deklarasikan Netralitas ASN di Pilkada Serentak 2024

    • calendar_month Senin, 4 Nov 2024
    • account_circle Suryo S
    • 0Komentar

    Jadi Pembina Apel Pagi, Bey Deklarasikan Netralitas ASN di Pilkada Serentak 2024 Kota Bandung- Temporatur.com SelanjutnyaBursa Wakil Bupati Bekasi Dibayangi Pengalaman 2019, Konsolidasi Partai Jadi SorotanPenjabat (Pj.) Gubernur Jawa Barat Bey Machmudin menjadi pembina apel pagi Sekretariat Daerah (Setda) dan BPKAD Provinsi Jabar di Gedung Sate, Kota Bandung, Senin (4/11/2024). Dalam apel tersebut, Bey bersama […]

expand_less