Breaking News
light_mode
Beranda » Nasional » BGN Belanja LED Rp535 Miliar, Pengamat : Angka Fantastis di Tengah Rakyat Kekurangan Gizi – Prioritas di Mana?

BGN Belanja LED Rp535 Miliar, Pengamat : Angka Fantastis di Tengah Rakyat Kekurangan Gizi – Prioritas di Mana?

  • account_circle Redaksi
  • calendar_month 9 menit yang lalu
  • visibility 3
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.


JAKARTA, TEMPORATUR.COM
Publik kembali diguncang dengan kabar pengadaan bernilai fantastis di tubuh lembaga negara. Badan Gizi Nasional (BGN) dikabarkan mengalokasikan anggaran sebesar Rp535,3 miliar semata-mata untuk pengadaan layar LED.

Angka tersebut menjadi sorotan tajam di media sosial pada Rabu (02/09/26), bahkan warga langsung membandingkannya dengan harga satu unit pesawat pemadam kebakaran yang diperkirakan sekitar Rp480 miliar muncul tepat di tengah maraknya kebakaran hutan dan lahan di berbagai wilayah Indonesia.

Perbandingan ini memicu gelombang pertanyaan keras dari masyarakat maupun pengamat kebijakan publik. Jika Rp535 miliar cukup untuk membeli satu pesawat pemadam kebakaran yang menyelamatkan jutaan hektare hutan, lalu untuk apa layar LED senilai itu?.

Pertanyaan itu bukan tanpa alasan, hingga saat ini, belum ada penjelasan rinci dari pihak BGN mengenai jumlah unit, spesifikasi, harga satuan, lokasi pemasangan, maupun tujuan utama pengadaan tersebut.

Dalam data yang beredar, proyek raksasa ini terbagi ke sejumlah paket yang masing-masing diraih oleh perusahaan berbeda. Tiga Bersaudara Nusantara disebut memperoleh sekitar Rp73,9 miliar, Nusa Persada Khatulistiwa Rp73,8 miliar, dan Makmur Sumber Redjeki Rp73,9 miliar.

Masuk pula nama Rthree Global Persada (Rp73,7 miliar), Maju Negeri Perkasa (Rp73,6 miliar), Intan Paulima (Rp73,6 miliar), Gema Patriot Nusantara (Rp46,3 miliar), Karya Pendidikan Bangsa (Rp46,2 miliar), hingga Point Pass Solusi sebesar Rp276 juta. Jika dijumlahkan, totalnya mencapai Rp535,3 miliar.

Pembagian paket ke delapan perusahaan dengan nilai yang nyaris serupa ini justru memicu kecurigaan baru. “Nilai yang hampir sama persis antar-perusahaan itu bukan kebetulan. Ini pola yang sangat mencurigakan. Apakah ini memang proses tender yang transparan, atau justru sudah diatur sebelumnya?” Ujar pengamat kebijakan publik dan sosial politik Ley Bolon kepada wartawan.

Pengamat Ley Bolon menyoroti bahwa di saat masyarakat masih merasakan kesulitan akses pangan bergizi, BGN justru memboroskan anggaran ratusan miliar untuk barang yang tidak langsung menyelesaikan masalah gizi.

“Tugas utama BGN itu menurunkan angka stunting, memperbaiki gizi anak, memastikan pangan bergizi terjangkau. Bukan beli layar LED ratusan miliar. Kalau LED ini bisa memberi makan anak-anak yang kekurangan gizi, mungkin masih masuk akal. Tapi kenyataannya? Ini cuma alat pencitraan semata,” Tegasnya.

Belum lagi, pengadaan ini terjadi di tengah keterbatasan anggaran negara. “Rp535 miliar itu cukup untuk memberi makan ribuan anak gizi buruk selama bertahun-tahun. Tapi justru dipakai belanja layar. Di mana prioritasnya? Ini bukti nyata bahwa BGN lebih mementingkan tampilan di media daripada kinerja nyata di lapangan,” Ujarnya.

Pengamat Ley Bolon juga mempertanyakan transparansi proses pengadaan tersebut. “Kenapa harus dibagi ke begitu banyak perusahaan dengan nilai yang hampir sama? Apakah ada keterkaitan antar-perusahaan tersebut? Siapa yang merancang spesifikasinya? Mengapa tidak ada penjelasan publik sejak awal? Tanpa data terbuka, masyarakat berhak curiga ada yang tidak beres di sini,” ujarnya.

Pihak BGN hingga berita ini diturunkan belum memberikan penjelasan resmi mengenai rincian pengadaan tersebut. Masyarakat pun semakin mendesak agar lembaga tersebut segera mempublikasikan seluruh dokumen perencanaan, spesifikasi teknis, proses tender, hingga perjanjian dengan penyedia barang.

“Kalau murni untuk kepentingan publik, seharusnya terbuka tanpa ditutup-tutupi. Jangan sampai anggaran rakyat ratusan miliar ini ludes hanya demi pencitraan di layar besar, sementara anak-anak kita masih kurang gizi,” Ujarnya.

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

expand_less