Letjen TNI Purn. Soegih Arto Batal Jadi Gubernur DKI Jakarta di zaman Orde Lama

Letjen TNI Purn. Soegih Arto Batal Jadi Gubernur DKI Jakarta di zaman Orde Lama

Sejarah, – Temporatur.com || Letnan Jenderal TNI Purn. Soegih Arto adalah sosok pejabat yang dikenal dekat dengan Bung Karno. Suatu kali ketika Soegih Arto menjabat Duta Besar di Birma, ia dipanggil pulang ke Jakarta untuk menghadap Soebandrio, waktu itu Waperdam I/Menlu. Setibanya di Jakarta Soegih Arto langsung menuju rumah Soebandrio di Jalan Imam Bonjol. Soebandrio sedang tidak ada di rumah. Ia diberitahu bahwa Soebandrio sedang pergi ke puncak. Karena hari sudah malam, baru keesokan harinya Soegih Arto menyusul ke Puncak.

Setelah bertemu dan berbasa-basi seperlunya dengan keluarga Soebandrio, Soegih Arto diajak oleh Soebandrio duduk ke halaman rumah. Hanya mereka berdua saja di sana. Soebandrio membertahukan bahwa Bung Karno meminta Soegih Arto menjadi Gubernur DKI Jakarta. Mendengar ucapan Soebandrio itu, Soegih Arto tidak bisa berkata apa-apa karena hal itu jauh dari dugaannya. Soebandrio melanjutkan bahwa jika Soegih Arto berminat jadi politikus dan memperoleh tugas yang penting harus dikenal di Jakarta, di dalam negeri. Inti permainan politik di dalam negeri, bukan luar negeri. Mas Giarto, lanjut Soebandrio, sekarang diberi kesempatan untuk berperan di dalam negeri, jangan diliwatkan. Terima kasih Mas Ban. Tugas apapun akan saya kerjakan dengan sebaik-baiknya, jawab Soegih Arto.

Kemudian Soebandrio menyuruh Soegih Arto agar pagi besok menghadap Presiden Sukarno di istana. Selesai percakapan dengan Soebandrio hati Soegih Arto pun berdebar-debar. Setelah bertugas di bidang diplomatik, sekarang ia akan menjadi administrator. Semalaman Soegih Arto merasa gelisah tapi juga senang sambil membayangkan tampang dirinya memakai seragam kebesaran Gubernur yang berwarna putih.

Foto: Istimewa

Pukul 09.00 pagi besoknya, setelah pertemuan dengan tamu-tamunya selesai, Presiden Sukarno mengajak Soegih Arto ke kamarnya. Setibanya di dalam kamar mulailah Bung Karno membuka pembicaraan. Sambil bercukur beliau menjelaskan keadaan kota Jakarta, kebersihannya, sampah-sampahnya. Saluran air yang macet, dan sebagainya. Kemudian Presiden Sukarno bertanya apakah Soegih Arto sanggup menjadi Gubernur DKI Jakarta dengan tugas utama membersihkan dan membuat Jakarta menjadi cantik.
Saya tentara pak, tugas apapun diberikan akan dikerjakan dengan sebaik-baiknya penuh tanggung-jawab, kata Soegih Arto.

Setelah pembicaraan dengan Presiden Sukarno selesai, Soegih Arto lalu melapor kepada Menlu Soebandrio. Ia tampak gembira mendengar laporan hasil pembicaraan Soegih Arto dengan Presiden Sukarno. Soegih Arto mengaku bahwa ia memperlihatkan kegembiraan yang berlebihan didepan Soebandrio. Namun begitu Soegih Arto merasa penasaran dengan peralihan tugas ysng begitu radikal.

Soegih Arto mulai mencari tahu dari kawan-kawan dekatnya mengapa dirinya yang diminta jadi Gubernur DKI. Informasi pertama diperolehnya dari Supardjo Rustam yang kemudian jadi Mendagri. Menurut Supardjo Rustam, pak Yani sudah merasakan akan adanya tindakan yang membahayakan. Tindakan itu mungkin dimulai di Jakarta untuk menimbulkan efek politis yang maksimum. Gubernur DKI Jakarta waktu itu Mayjen dr. Soemarno, dari kesehatan. Ia belum
pernah memegang pasukan. Jika timbul kekacauan diperlukan Gubernur yang pernah memegang pasukan. Karena itu pak Yani mengusahakan penggantian Gubrrnur DKI Jakarta dengan seseorang yang pernah memimpin pasukan dan juga disukai Bung Karno. Pilihan jatuh pada Soegih Arto.

Bacaan Lainnya

Sementara Soebandrio punya alasan tersendiri. Lalu ia bertukar pikiran dengan pak Yani, akhirnya pilihan jatuh pada Soegih Arto. Dari Frans Seda didapat keterangan yang mirip dengan keterangan Supardjo Rustam. Diperoleh juga informasi bahwa Yusuf Muda Dalam mendukung pencalonan. Beberapa kawan lainnya juga dihubungi Soegih Arto untuk mendapatkan tambahan informasi.

Suasana politik sejak akhir 1963 sudah mulai panas disebabkan ulah PKI. Di era Orla
dan Nasakom, PKI mendapat peluang yang besar sekali untuk bergerak. Kesempatan ini dimanfaatkan dengan baik oleh PKI. Sementara itu pak Yani juga sering dihubungi oleh tokoh-tokoh agama seperti dari NU , Kristen, Muhammadiyah, dan Katolik. Dalam pembicaraan- pembicaraan di kalangan mereka topik yang dibahas adalah tentang keadaan politik dan bentrokan yang akan terjadi antara Angkatan Darat dengan PKI.

Foto: Istimewa

Terkait tugas sebagai Gubernur, Soebandrio berpesan agar Soegih Arto siap mengabdi 24 jam kepada Bung Karno. Beliau sering keliling Jakarta pada malam hari hanya ditemani supir dan seorang ajudan. Beliau suka makan sate di pinggir jalan. Soegih Arto juga mulai memikirkan beratnya tugas sebagai Gubernur DKI Jakarta

Setelah semua keperluannya di Jakarta selesai, Soegih Arto kembali ke Birma. Keluarganya gembira sekali ketika mendengar kabar akan pindah ke Jakarta. Di Rangoon Soegih Arto dengan gelisah menunggu surat keputusan ia pindah ke Jakarta. Tidak ada berita apapun dari Jakarta. Ia hubungi Sabur, tapi jawabannya hanya disurah menunggu. Pada bulan Agustus Soegih Arto mendengar kabar bahwa Mayjen dr. Soemarno kembali diangkat jadi Gubernur DKI Jakarta. Tidak ada penjelasan tentang hal itu dari Jakarta. Soegih Arto merasa heran mengapa ia tidak diberitahu padahal sebelumnya ia yang diminta untuk jadi Gubernur DKI Jakarta.

Dengan terjadinya usaha kup oleh PKI terbukalah tabir mengapa Presiden Sukarno batal mengangkat Soegih Arto menjadi Gubernur DKI Jakarta. Aidit menulis surat kepada Nyoto untuk mengusahakan agar pengangkatan Brigjen Soegih Arto menjadi Gubernur DKI Jakarta dibatalkan, karena PKI sudah punya calon sendiri yaitu Wagub Jawa Tengah. Surat tersebut ditemukan waktu rumah Nyoto digeledah. Semua menjadi jelas bahwa pengaruh PKI bukan fiksi atau isapan jempol.

Perlu diketahui, Setelah gagal jadi Gubernur DKI Jakarta Letnan Jenderal TNI Purn. Soegih Arto malah jadi Jaksa Agung.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *