Reformasi Organisasi PDI Perjuangan Mendesak: Penjaringan Ketua Ranting kota Jogjakarta Harus Transparan, Objektif, dan Berkeadilan
Dinamika internal PDI Perjuangan Kota Yogyakarta kembali menjadi perhatian setelah muncul pertanyaan mengenai mekanisme penetapan Ketua Ranting.
Salah satu kader yang diusulkan oleh arus bawah sebagai kandidat Ketua Ranting Brontokusuman, Krisna Triwanto, S.H., menyatakan dirinya tidak menerima undangan dalam kegiatan pelantikan Pengurus Ranting PDI Perjuangan se-Kota Yogyakarta. Kondisi tersebut mendorong munculnya desakan agar mekanisme kaderisasi dan penetapan pengurus dilakukan secara lebih transparan, objektif, serta akuntabel demi menjaga marwah partai dan memperkuat soliditas organisasi menjelang Pemilu 2029.
Marwah Pdi Perjuangan Harus Dijaga, Demokrasi Internal Harus Dihormati
PDI Perjuangan dibangun oleh keringat, pengorbanan, loyalitas, dan perjuangan jutaan kader. Karena itu, setiap keputusan organisasi harus menjadi cerminan nilai-nilai demokrasi, keadilan, dan gotong royong yang selama ini menjadi roh perjuangan partai.
Ketua Ranting bukan sekadar jabatan struktural. Ketua Ranting adalah ujung tombak perjuangan partai di tengah rakyat. Oleh sebab itu, proses penetapan maupun pemilihannya tidak boleh dipersepsikan sebagai ruang kepentingan elit, melainkan harus benar-benar menjadi ruang kaderisasi yang sehat, objektif, transparan, dan berpihak pada kepentingan partai.
Reformasi Manajemen Organisasi Sudah Menjadi Kebutuhan
Apabila mekanisme penetapan pengurus tidak dipahami secara terbuka oleh kader, maka ruang spekulasi, kekecewaan, dan menurunnya kepercayaan dapat muncul. Karena itu, manajemen pemilihan struktural PDI Perjuangan perlu terus dievaluasi dan diperkuat melalui :
• Transparansi mekanisme penetapan pengurus;
• Indikator penilaian kader yang jelas dan terukur;
• Kesempatan yang sama bagi seluruh kader yang memenuhi syarat;
• Akuntabilitas setiap keputusan organisasi;
• Penguatan demokrasi internal sebagai bagian dari pendidikan politik kader.
Langkah tersebut bukan untuk melemahkan partai, melainkan untuk memperkuat legitimasi kepemimpinan dan menjaga soliditas organisasi.
Ketua Ranting Adalah Pelayan Perjuangan
Ketua Ranting bukan milik kelompok tertentu.
Ketua Ranting bukan representasi kepentingan elit.
Ketua Ranting adalah pelayan rakyat, pelayan kader, dan penggerak perjuangan ideologi PDI Perjuangan di akar rumput.
Jabatan struktural harus lahir dari rekam jejak, loyalitas, kapasitas, integritas, dan pengabdian kepada partai.
Menuju Kemenangan Pemilu 2029
Apabila PDI Perjuangan ingin kembali meraih kemenangan besar pada Pemilu 2029, maka kekuatan utama harus dibangun dari bawah.
Ranting yang kuat akan melahirkan PAC yang kuat.
PAC yang kuat akan memperkuat DPC.
DPC yang kuat akan memperkokoh DPD.
Dan DPD yang kuat akan menjadi fondasi kemenangan nasional.
Karena itu, reformasi tata kelola organisasi bukanlah ancaman, melainkan investasi politik jangka panjang.
Kritik Adalah Bentuk Cinta kepada Partai
Kritik yang disampaikan secara santun, berdasarkan mekanisme organisasi, bukanlah bentuk perlawanan terhadap partai.
Sebaliknya, kritik adalah wujud kepedulian agar PDI Perjuangan tetap menjadi partai yang demokratis, modern, terbuka, dan dipercaya oleh kader maupun rakyat.
Marwah PDI Perjuangan hanya akan tetap tinggi apabila setiap kader memperoleh perlakuan yang adil, mekanisme organisasi berjalan secara transparan, dan setiap keputusan dapat dipertanggungjawabkan kepada seluruh kader.
Partai yang besar bukanlah partai yang anti kritik. Partai yang besar adalah partai yang mampu mendengar kadernya, memperbaiki dirinya, dan terus bergerak bersama rakyat menuju kemenangan.
Reformasi manajemen organisasi hari ini adalah fondasi kemenangan PDI Perjuangan pada Pemilu 2029.
(Ginting)
















