Upayakan Generasi Sehat, Pemdes Karang Rahayu Gelar Rembug Stunting 2027
Pemerintah Desa (Pemdes) Karang Rahayu, Kecamatan Karang Bahagia, Kabupaten Bekasi menggelar kegiatan Rembug Stunting 2027.
Agenda ini dilaksanakan dalam rangka konvergensi pencegahan dan penanganan stunting di wilayah setempat pada Kamis (30/07/2026).
Stunting sendiri merupakan kondisi gagal tumbuh pada anak balita akibat kekurangan gizi kronis dan infeksi berulang, terutama dalam 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK).
Masalah kesehatan ini dapat dipicu oleh malnutrisi yang dialami ibu saat hamil maupun pada masa pertumbuhan anak. Kondisi stunting umumnya ditandai dengan tinggi badan anak yang lebih pendek dari standar usianya.
Dampak stunting tidak hanya berpengaruh pada tinggi badan anak, melainkan juga memengaruhi perkembangan otak, kemampuan belajar, daya tahan tubuh, hingga kesehatan jangka panjang anak.
Di Indonesia, prevalensi kasus stunting tergolong masih cukup tinggi, yakni menyasar sekitar 3 dari 10 anak. Oleh karena itu, penanganan dan pencegahan stunting terus menjadi prioritas utama.
Meski begitu, masyarakat perlu memahami bahwa anak dengan tinggi badan di bawah rata-rata tidak selalu mengalami kekurangan gizi.
Faktor genetik dari postur tubuh kedua orang tua juga sangat memengaruhi tinggi badan anak. Poin pembeda utamanya terletak pada aspek perkembangan; anak yang mengalami stunting biasanya mengalami keterlambatan perkembangan yang signifikan, sementara anak pendek yang sehat umumnya berkembang dengan normal.Penjabat (Pj) Kepala Desa Karang Rahayu, Badru Iskandar, S.Pd., menekankan pentingnya pemenuhan nutrisi sejak dini berdasarkan pemaparan dari narasumber kesehatan yang hadir.
“Pada intinya, kegiatan ini bertujuan untuk mencegah kekurangan gizi pada anak-anak kita di usia dini. Terutama bagi ibu hamil, harus benar-benar memastikan asupan nutrisi yang cukup agar tidak terjadi kekurangan gizi saat melahirkan nanti. Melalui Posyandu yang ada, ibu hamil bisa rutin memeriksakan kondisinya kepada bidan desa,” ujar Badru Iskandar saat diwawancarai awak media.
Lebih lanjut, Badru juga mengingatkan faktor-faktor lain yang dapat memengaruhi keturunan dan kehamilan, termasuk faktor genetik hingga risiko penyakit menular yang diidap oleh pasangan, seperti virus Human Immunodeficiency Virus (HIV). Virus ini patut diwaspadai karena dapat merusak sistem kekebalan tubuh manusia dengan menyerang sel darah putih.
(Asun / Nirwanto)
















