Gulali Manis Tapi Lebih Manis Mulut Teman Yang Pandai Merangkai Kata Saja”

Gulali Manis Tapi Lebih Manis Mulut Teman Yang Pandai Merangkai Kata Saja”

Surabaya.temporatur.com|| Opini– Gulali itu manis rasanya, tapi kalau kita terlalu banyak konsumsinya bikin gigi keropos. Begitu pula “teman yang manis mulutnya saja”. Di depan kata-katanya seindah taman seribu bunga dan manis bagai madu: “Kamu sangat hebat”, “Aku akan mendukungmu”, “saya selalu ada buat kamu”. Tapi kenyataanya hanya angka nol. Janji hanya tinggal janji, bantuan hanyalah dan cuma lewat chat “semangat ya”.

Semua itu Tujuannya, bikin kamu nyaman dan lengah, maka dialah yang diuntungkan. Manis pada awalnya dan hambar di akhir. Sangat disayangkan, kita sering baru sadar setelah tenaga dan waktu kita habis untuk orang yang salah.

Mulutnya sekotak cokelat,Manis pas kamu buka, Pahit pas kamu butuh. Berhati-hatilah sama orang yang pandai merangkai kata, Tapi buta dalam bertindak.

Kau alunkan janji seperti lagu, Nadamu tinggi disaat aku tertawa. Tapi disaat badai datang melanda ,Suaramu hilang bagai tertelan angin semilir. Rupanya kau bukan teman yang setia
Kau hanya penyanyi untuk panggungku yang ramai.

Teman yang manis dimulut itu bagaikan charger KW. cepat diawal oengisian, lampu indikator nyala. Begitu HP kamu 1%, dia yang pertama mati. Maka, menilai orang bukan dari seberapa indah dia merangkai kata-katanya, tapi dari seberapa nyata tindakannya saat kamu nggak bisa balas apa-apa.

Maka dari itu kita dengarkan kata-katanya, tapi jangan lupa perhatikan langkah kakinya. Teman tulus nggak butuh banyak bicara. Diamnya pun sudah cukup bikin kamu merasa nyaman dan aman.

Bacaan Lainnya

Cukup kita tandai dan kita ingat supaya kita tidak terulang yang kedua kalinya

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *