Festival Al-A’zhom Kota Tangerang, Menarik dan Megah, Tapi Untuk Siapa?
Oleh : Kolom Ali Wangsawidjaja (Pengamat Sosial)
Festival Al-A’zhom ke-13 di Kota Tangerang kembali digelar dengan semarak. Lampu gemerlap, panggung megah, tenant UMKM, hingga tabligh akbar menjadi bagian dari narasi besar: syiar Islam dan ruang silaturahmi. Namun, pertanyaan mendasar tetap menggema: untuk siapa festival ini sebenarnya?
Bagi rakyat kecil, festival ini lebih sering menjadi tontonan daripada ruang partisipasi. Tenant bazar diisi oleh mereka yang punya akses dan modal, sementara pedagang kecil hanya bisa menatap dari luar pagar. Narasi “magnet ekonomi” terdengar indah, tetapi realitasnya lebih banyak menguntungkan kalangan menengah ke atas.
Islam mengajarkan keadilan dan keberpihakan pada yang lemah. Ironis bila syiar agama justru dibalut dengan praktik eksklusif yang menyingkirkan rakyat kecil. Festival yang seharusnya menjadi ruang inklusif, malah berpotensi menjadi panggung prestise segelintir orang.
Konsep jajan gratis mungkin gagasan sederhana namun sarat makna muncul: voucher jajan gratis bagi warga tidak mampu.
Tahun Baru Islam adalah momentum hijrah, bukan sekadar pindah fisik, melainkan perubahan sikap menuju kepedulian.
Dengan voucher jajan gratis, pemerintah menunjukkan bahwa festival bukan hanya milik kalangan berduit, tetapi juga ruang kebahagiaan bagi rakyat kecil.
Sekali saja mereka bisa ikut merasakan pembukaan dengan santapan gratis, itu sudah memberi arti besar: Islam sebagai rahmat bagi semua.
Secara ekonomi, mungkin tidak menguntungkan. Tetapi secara hierarki sosial, langkah ini menegaskan bahwa festival bukan sekadar ajang prestise, melainkan simbol kebersamaan. Rakyat kecil merasa dihargai, bukan sekadar penonton. Spirit berbagi ini bisa jadi teladan bahwa syiar Islam tidak berhenti pada lantunan ayat, tetapi nyata dalam aksi sosial.
Festival Al-A’zhom akan benar-benar menjiwai arti berbagi bila keberpihakan pada rakyat kecil diwujudkan. Voucher jajan gratis hanyalah satu contoh kecil, tetapi dampaknya besar: mengangkat semangat kaum lemah agar ikut merayakan, bukan hanya menyaksikan dari kejauhan.
Karena sejatinya, Islam sebagai Rahmatan lil ‘Alamin bukan slogan, melainkan keberpihakan nyata pada mereka yang terpinggirkan.
Apakah konsep ini akan lahir sebagai agenda resmi syiar Islam atau sekadar wacana sosial yang hilang ditelan gemerlap panggung?
(*)















