Temporatur.com||OPINI-Ada teman yang paling rajin muncul saat kita lagi di atas. Tawanya paling kencang dan tepuk tanganya paling keras, story-nya paling banyak. Tapi begitu kita terpuruk, notifikasi dari mereka hilang. Ternyata dia bukan teman, dia hanyalah penonton. Penonton yang cuma bayar tiket untuk hiburan, bukan untuk nemenin kita bangkit lagi.
Mereka datang membawa sorak, pergi membawa sepi, di saat pesta kita akan di rajakan, di saat luka kita akan ditinggal sendirian, tapi kita harus berterimakasih pada mereka, karena kita dapat pelajaran dari mereka, Bahwa tidak semua yang ketawa bareng, pantas disebut saudara.
Teman di waktu kita senang itu bagaikan payung kertas. Sangat Indah, penuh warna, serta bikin foto sangat bagus. Tapi waktu hujan deras datang, mereka yang pertama sobek dan bocor. Nggak bisa diandalkan lagi, tapi sayangnya kita baru menyadari setelah basah kuyup.
Mending satu atau dua orang yang ada disaat dompet tipis,
Daripada banyak orang yang muncul disaat kita traktir jalan.”
Kita uji teman itu gampang: kita lihat dia saat kita nggak punya apa-apa. Jika mereka tetap duduk dan bersama kita, pertahankan. Tapi jika dia menghilang, ikhlaskan dan tinggalkan, Karena teman sejati tidak diukur dari seberapa sering dia ketawa sama kita, tapi seberapa berani dia diam menemani saat kita nggak bisa ketawa.















