Surabaya.temporatur.com|| Opini– Gulali itu manis rasanya, tapi kalau kita terlalu banyak konsumsinya bikin gigi keropos. Begitu pula “teman yang manis mulutnya saja”. Di depan kata-katanya seindah taman seribu bunga dan manis bagai madu: “Kamu sangat hebat”, “Aku akan mendukungmu”, “saya selalu ada buat kamu”. Tapi kenyataanya hanya angka nol. Janji hanya tinggal janji, bantuan hanyalah dan cuma lewat chat “semangat ya”. Semua itu Tujuannya, bikin kamu nyaman dan lengah, maka dialah yang diuntungkan. Manis pada awalnya dan hambar di akhir. Sangat disayangkan, kita sering baru sadar setelah tenaga dan waktu kita habis untuk orang yang salah. SelanjutnyaHitam Putih: Teman Mendekat di Waktu Senang SajaMulutnya sekotak cokelat,Manis pas kamu buka, Pahit pas kamu butuh. Berhati-hatilah sama orang yang pandai merangkai kata, Tapi buta dalam bertindak. Kau alunkan janji seperti lagu, Nadamu tinggi disaat aku tertawa. Tapi disaat badai datang melanda ,Suaramu hilang bagai tertelan angin semilir. Rupanya kau bukan teman yang […]










