Jeritan Pedagang Kecil di Balik Megahnya MM2100 : PMK Diusir, Warga Tuntut Solusi Nyata
CIKARANG BARAT – BEKASI || TEMPORATUR.COM
Ketegangan kembali terjadi di Kawasan Industri MM2100, Cikarang Barat, Kabupaten Bekasi pada Senin (26/1/2026). Para Penjaja Makanan Keliling (PMK) yang menggantungkan nasib di kawasan tersebut kembali diusir oleh tim keamanan (security) pengelola kawasan.
Alasan keindahan pandangan dan kenyamanan menjadi pemicu aksi
“kucing-kucingan” yang kian meruncing antara rakyat kecil dan pengelola.
Kawasan MM2100, yang dikenal sebagai salah satu sentra industri terintegrasi terbesar di Indonesia hasil kolaborasi PT Megalopolis Manunggal Industrial Development (MMID), kini menjadi sorotan.
Meski sukses menarik ratusan perusahaan multinasional sejak tahun 1990, kemegahan investasi tersebut dinilai belum berpihak sepenuhnya pada masyarakat lokal yang mencari penghidupan sebagai pedagang kecil.
Perlawanan Pedagang dan Tuntutan Solusi
Menanggapi pengusiran tersebut, Ketua Koperasi Ganda Mekar Mandiri, Jasan Sanjaya, bersama puluhan pedagang melakukan aksi penolakan di lokasi. Ia menegaskan bahwa pelarangan tanpa solusi adalah bentuk ketidakadilan bagi warga sekitar kawasan.
“Tolong berikan kami solusi, jangan cuma dilarang berjualan di sini. Ini kampung kami, tempat kami cari makan. Masa tidak boleh? Pertemukan kami dengan para pemangku kebijakan,” tegas Jasan dengan nada kecewa.
Senada dengan Jasan, Ketua Posko Perjuangan Rakyat (POSPERA) Kabupaten Bekasi, Sardi Adi Saputra, yang turun langsung mendampingi para pedagang, mempertanyakan dasar hukum tindakan pengusiran tersebut.
“Jika memang dilarang, tunjukkan aturannya mana? Berdasarkan UU apa? Jangan ada aturan di atas aturan, itu sama saja ada negara di dalam negara.
Mestinya ditertibkan dan ditata agar rapi, bukan dikejar-kejar apalagi diusir. Mereka hanya mencari nafkah,” ujar Sardi.
Sisi Kemanusiaan yang Terhimpit
Kenyataan pahit di lapangan dirasakan langsung oleh Ibu Nasih, seorang janda paruh baya yang sehari-hari berjualan makanan keliling. Dengan mata berkaca-kaca, ia mengungkapkan kekhawatirannya jika akses mencari nafkah ditutup total.
“Kalau saya dilarang dagang di sini, gimana nasib keluarga saya, Pak? Ini satu-satunya cara saya buat dapat uang,” keluhnya lirih.
Hingga berita ini diturunkan, pihak pengelola Kawasan Industri MM2100 belum memberikan pernyataan resmi terkait aksi penolakan dan tuntutan mediasi yang diajukan oleh para pedagang serta ormas pendamping.
Konflik ini menjadi potret nyata ketimpangan di wilayah penyangga Jakarta, di mana investasi besar di sektor manufaktur dan logistik belum sepenuhnya mampu merangkul sektor ekonomi informal yang dijalankan oleh masyarakat asli daerah setempat.
(RED)















