JAKARTA, – Temporatur.com || Sejarah kemerdekaan Indonesia tidak hanya diwarnai dengan diplomasi meja bundar dan pekik merdeka, tetapi juga sebuah fase kelam yang dikenal sebagai “Zaman Bersiap”. Periode singkat namun penuh darah antara September hingga November 1945 ini menjadi trauma mendalam, khususnya bagi warga Belanda dan keturunan Indo-Eropa di tanah air.
REVOLUSI DI TENGAH VAKUM KEKUASAAN
Menurut RHA Saleh dalam bukunya Mari Bung, Rebut Kembali!, bulan-bulan awal setelah proklamasi adalah masa kekacauan total bagi pihak Belanda dan Jepang. “Belanda menyebutnya sebagai periode ‘Bersiap’ atau Bersiap-tijd yang sangat mengerikan,” tulis Saleh.
Kekacauan ini dipicu oleh kevakuman kekuasaan (power vacuum) setelah Jepang menyerah kepada Sekutu, sementara otoritas Republik Indonesia belum sepenuhnya terkonsolidasi di seluruh wilayah. Namun, sosiolog asal Belanda, JAA van Doorn, menekankan bahwa fenomena ini bukan sekadar penjarahan atau kriminalitas biasa.
Dalam kutipan yang dirujuk Saleh, Van Doorn melihatnya sebagai proses revolusioner. “Yakni suatu proses revolusioner, di mana terjadi suatu pemberontakan sosial yang menggunakan kekerasan senjata, dan di mana dipertunjukkan suatu sentimen nasional secara kolektif yang ditujukan terhadap kembalinya penjajahan,” ungkap Van Doorn.
ASAL-USUL ISTILAH: Sebuah Kode Perlawanan
Secara etimologi, istilah “Bersiap” lahir dari kebutuhan taktis di lapangan. Dalam buku Jakarta-Karawang-Bekasi dalam Gejolak Revolusi: Perjuangan Moeffreni Moemin karya Dien Majid dan Darmiati, dijelaskan bahwa sejak kedatangan pasukan Sekutu, bentrokan antara pemuda pejuang dan serdadu Belanda terjadi hampir setiap saat.
“Jika tentara Inggris atau Belanda mengganggu ke kampung-kampung atau instansi yang telah dikuasai Republik, serentak terdengar aba-aba dari para pemuda pejuang: ‘Bersiap!’” tulis Dien dan Darmiati. Pekikan ini segera menjalar ke penduduk sipil. RHA Saleh dalam karyanya yang lain, Dari Jakarta Kembali ke Jakarta, mencatat bahwa penduduk di kampung-kampung akan berteriak “Siaaap!” setiap kali melihat orang asing yang tak dikenal masuk ke wilayah mereka. Orang asing tersebut, terutama warga Jepang, Belanda, hingga keluarga peranakan (Indo) sering kali ditangkap secara massa dan berakhir dengan eksekusi di tempat.
BERAKHIRNYA TEROR DAN REKONSILIASI GEREJA
Seiring berjalannya waktu dan penguatan struktur pemerintahan Republik Indonesia, aksi-aksi kekerasan sporadis ini mulai mereda. Upaya Belanda untuk menduduki kembali Indonesia lewat agresi militer mengubah peta konflik menjadi perang formal, yang secara paradoks membuat posisi orang Belanda di kota-kota besar menjadi relatif lebih aman di bawah perlindungan militer mereka.
Kondisi yang mulai stabil ini tercermin dalam catatan sejarah gereja. Seorang pendeta wanita, Nn. GAR Bijleveld, dalam suratnya kepada sekretaris zending SC Graaf van Randwijck di Bandung tertanggal 28 Februari 1952, mengakui adanya perbaikan situasi keamanan tersebut. Surat ini kini diabadikan dalam buku Sumber-sumber Zending tentang Sejarah Gereja di Jawa Barat 1858-1963 karya Th. van den End.
Zaman “Bersiap” tetap menjadi catatan hitam yang kompleks dalam historiografi Indonesia dan Belanda—sebuah pengingat akan betapa mahalnya harga sebuah kedaulatan di tengah gejolak revolusi sosial.
(Red)















