Presiden Prabowo di Pertemuan Tertutup Polri-TNI: Soroti “Maling” Kekayaan Alam dan Perbedaan Data Ekspor
Presiden RI Prabowo Subianto menggelar pertemuan tertutup dan sangat terbatas dengan jajaran tinggi Polri dan TNI, termasuk Kapolri dan Panglima TNI, untuk menyampaikan arahan penting mengenai perbaikan institusi dan pengamanan kekayaan negara. Pertemuan tersebut diawali dengan permintaan agar wartawan meninggalkan ruangan.
Peristiwa itu bermula dalam rapat di Istana Negara. Setelah menggelar jumpa pers dengan wartawan, Presiden Prabowo meminta awak media keluar ruangan dan kemudian menggelar rapat tertutup. Sejumlah pihak hadir dalam rapat Tim Reformasi Polri, termasuk Listyo dan Agus
Cerita Mahfud MD ketika Presiden memarahi Kapolri dan Panglima TNI saat meeting terbatas Tim Reformasi Polri!! Class King for Presiden Prabowo 100,” sebut akun @astaanayanusantara dalam unggahannya yang dikutip di Jakarta, Sabtu (22/11/2025).
Dalam arahannya kata Mahfud MD bahwa Presiden Prabowo menyoroti tajam kondisi Polri yang saat ini sedang dalam sorotan publik. “Polri ini harus lebih baik. Sekarang Polri dalam sorotan publik,” tegas Presiden, menekankan perlunya institusi tersebut untuk segera memperbaiki diri.
Lebih lanjut, Prabowo menyampaikan bahwa negara sedang menghadapi kesulitan serius, di mana kekayaan alam Indonesia “diserap, diambil, dan diserobot” oleh pebisnis-pebisnis yang tidak bertanggung jawab.
Data Mengejutkan Soal Ekspor
Mahfud membeberkan momen paling menarik dalam pertemuan tersebut adalah ketika Presiden Prabowo membeberkan data konkret yang diklaimnya berasal dari sumber luar negeri, bukan data internal pemerintah. Ia mencontohkan kasus ekspor tambang, seperti nikel.
“Laporannya saya mengekspor nikel misalnya, 10 juta ton. Tapi di China dilaporkan mengekspor nikel dari Indonesia 100 juta ton,” ungkap Prabowo, menunjukkan adanya perbedaan data yang sangat signifikan dan mengindikasikan kebocoran kekayaan negara.
Prabowo juga menyebutkan bahwa ia memiliki data mengenai perusahaan-perusahaan yang ditudingnya telah puluhan tahun “makan uang negara,” dengan masa operasional antara 25 hingga 40 tahun.
Pesan Keras untuk Polri dan TNI.
Menyikapi hal ini, Presiden mengobarkan semangat nasionalisme di hadapan petinggi Polri dan TNI. “Kita harus nasionalis. Polisi, tentara harus membela rakyat. Ini kayak gini, kekayaan kita diambil,” ujarnya.
Bahkan, Prabowo melontarkan pernyataan keras kepada Panglima TNI Agus Subiyanto. “Tak ada gunanya Bintang 4 kalau tidak bisa membantu rakyat dengan mengatasi hal-halb ini,” kata Presiden, menekankan pentingnya peran aparat dalam menjaga aset negara.
Pertemuan tersebut ditutup dengan penegasan bahwa Polri, TNI, dan negara ini secara keseluruhan harus menjadi lebih baik demi kemakmuran rakyat.
Presiden Prabowo dinilai menunjukkan komitmen kuatnya untuk memberantas kebocoran kekayaan alam.
(SS/Red)















