Investigasi: Dugaan Penipuan Kursus DJ, Janji Profesional Berujung Kerugian Peserta

Investigasi: Dugaan Penipuan Kursus DJ, Janji Profesional Berujung Kerugian Peserta
Dok.Temporatur.com
banner 468x60

Investigasi: Dugaan Penipuan Kursus DJ, Janji Profesional Berujung Kerugian Peserta

Jakarta —  Temporatur.com

Di balik maraknya minat anak muda terhadap dunia DJ dan musik elektronik, muncul dugaan praktik penipuan berkedok kursus DJ. Seorang peserta mengaku menjadi korban setelah mengikuti sebuah kursus yang menjanjikan pelatihan intensif, sertifikasi, hingga akses pekerjaan di dunia hiburan. Namun yang ia terima justru jauh dari janji.

Janji Manis: Jadwal Intensif dan Sertifikasi Resmi

Berdasarkan hasil penelusuran dan keterangan korban, proses awal dimulai pada 24–25 Juli 2025, ketika korban mentransfer total Rp3,5 juta sebagai biaya pelatihan. Korban juga dijanjikan sistem belajar profesional, dengan jadwal lima hari dalam seminggu serta fasilitas lengkap.

Pelatihan bahkan diklaim akan menghasilkan sertifikat, ID card, dan kelengkapan lain yang disebut penting untuk mendapatkan job dan kesempatan tampil.

Namun dari keterangan korban, janji hanya tinggal janji.

Kelas Hanya Sekali Seminggu — Bahkan Sering Tidak Ada

Ketika pelatihan dimulai pada 5 Agustus 2025, korban menemukan bahwa jadwal yang dijanjikan tidak pernah terealisasi. Bukannya lima hari seminggu, kelas hanya berlangsung sekali seminggu. Bahkan beberapa kali, latihan tidak dilakukan sama sekali.

“Awalnya saya pikir ini kendala teknis. Tapi makin lama, makin jarang ada kelas,” kata korban.

Modus Tambahan: Wajib Beli Peralatan Lewat Pengajar

Hal lain yang menguatkan dugaan praktik penipuan adalah kewajiban membeli peralatan melalui pengajar. Korban diminta membeli earphone dan flashdisk, dan mentransfer Rp1,4 juta. Namun sampai hari ini, barang itu tidak pernah diterima.

Modus mewajibkan peserta membeli perlengkapan melalui oknum tertentu kerap muncul dalam kasus-kasus penipuan pelatihan serupa di berbagai tempat.

Pihak Pelatihan Menghilang

Ketika kelas dinyatakan “segera selesai”, korban menunggu janji sertifikasi. Namun yang terjadi justru sebaliknya: penyelenggara menghilang, sulit dihubungi, dan tidak memberikan penjelasan.

“Kami hanya ingin kejelasan. Yang saya tunggu sebenarnya sertifikat, ID card, sama bukti-bukti lain supaya bisa dipakai untuk kerja DJ,” ujar korban.

Pola Kasus Serupa Mulai Muncul?

Berdasarkan penelusuran awal, pola seperti ini—janji pelatihan intensif, biaya tinggi, kewajiban membeli perlengkapan, hingga hilangnya pihak penyelenggara—sering menjadi ciri dugaan penipuan kursus di berbagai daerah.

Kasus seperti ini berpotensi menimbulkan kerugian besar bagi peserta, terutama mereka yang berharap membangun karier di dunia hiburan.

Minim Pengawasan, Celah untuk Oknum

Hingga kini, banyak kursus atau pelatihan berbasis komunitas tidak memiliki regulasi dan pengawasan ketat. Celah ini memudahkan oknum membuka kelas tanpa standar yang jelas, memanfaatkan antusiasme calon DJ pemula.

Pengamat industri DJ menyebut bahwa sertifikasi resmi biasanya hanya dikeluarkan oleh lembaga terdaftar, bukan oleh pelatihan informal yang tidak memiliki badan hukum.

Belum Ada Klarifikasi dari Pihak Terkait

Hingga laporan ini disusun, penyelenggara kursus DJ yang dimaksud belum memberikan tanggapan atas dugaan yang disampaikan korban.

Korban berencana menempuh upaya lanjutan untuk mengusut kasus ini dan meminta pertanggungjawaban pihak terkait.

(Monik)

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *