Jakarta – Temporatur.com
Ketua Lembaga Pengamat Kebijakan dan Kejahatan di Indonesia (LPKKI) DKI Jakarta, Bambang, menilai gelombang unjuk rasa yang terjadi di berbagai daerah dipicu oleh sikap sebagian anggota DPR RI serta sejumlah kebijakan publik yang dianggap tidak sensitif terhadap kondisi masyarakat.
Dalam wawancara pada Jumat (29/8/2025) sore, Bambang mengatakan bahwa masyarakat, termasuk para pengemudi ojek online, merasa kecewa dan marah setelah insiden seorang pengemudi bernama Affan Kurniawan (21) tewas akibat dilindas kendaraan taktis Barracuda milik aparat kepolisian. Insiden itu diduga terjadi karena faktor kepanikan saat pengamanan aksi.
“Tidak bisa dipungkiri, banyak masyarakat yang tersulut emosi. Namun saya berharap publik dapat menahan diri, karena jika keributan terus berlanjut, ekonomi bisa terganggu. Dampaknya akan meluas ke sektor kebutuhan pokok, kesehatan, pendidikan, hingga distribusi pangan,” ujar Bambang.
Menurutnya, pemicu awal demonstrasi besar-besaran adalah respons masyarakat terhadap besarnya tunjangan yang diterima anggota DPR, seperti tunjangan rumah dan komunikasi. Pernyataan klarifikasi sejumlah anggota dewan yang justru terkesan menganggap remeh kondisi masyarakat semakin memperkeruh keadaan.
Situasi makin panas setelah Wakil Ketua Komisi III DPR RI, Ahmad Sahroni, dalam sebuah kunjungan kerja di Medan (22/8/2025), menyebut kritik masyarakat dengan kata-kata yang dinilai merendahkan. “Catat nih, orang yang cuma mental bilang ‘bubarin DPR’, itu adalah orang tolol se-dunia,” ucapnya.
Pernyataan itu dianggap menambah kekecewaan publik, sehingga unjuk rasa meluas ke berbagai kota, termasuk di depan Gedung DPR pada 25 dan 28 Agustus 2025. Aksi massa kini tidak hanya menyoroti soal tunjangan DPR, tetapi juga menuntut keadilan atas dugaan kekerasan aparat.
Bambang menambahkan, tidak menutup kemungkinan situasi ini ditunggangi pihak tertentu yang ingin memperkeruh keadaan. “Saya mengingatkan agar masyarakat tetap fokus pada substansi tuntutan, jangan sampai dirugikan oleh agenda kelompok lain,” pungkasnya.
RED















