WRC PANRI : Manajemen PT.Bukit Asam Tanjung Enim Amburadul, APH Diminta Bertindak !!

WRC PANRI : Manajemen PT.Bukit Asam Tanjung Enim Amburadul, APH Diminta Bertindak !!
Ali Sopyan Ketua Divisi Investigasi Nasional WRC

WRC PANRI : Manajemen PT.Bukit Asam Tanjung Enim Amburadul, APH Diminta Bertindak !!

Muara Enim – Temporatur.com

PT. Bukit Asam Tanjung Enim, perusahaan yang bergerak di bidang pertambangan batu bara dengan pengalaman puluhan tahun, seharusnya tidak mengalami kekacauan dan kekacauan.

Namun, sayangnya, manajemen perusahaan tampak terombang-ambing. Diduga kuat adanya sindikat koruptor yang sangat licik yang merugikan hasil pertambangan perusahaan hingga ratusan miliar rupiah, tegas Ali Sopyan Divisi Investigasi Lembaga Watch Relation of Corruption Pengawas Aset Negara Republik Indonesia (WRC PANRI).

“Tim Korporasi Tindak Kriminal Tipikor dari Mabes POLRI di bawah komando Bapak Brigjenpol Cahyono Wibowo diminta untuk segera mengambil tindakan sebelum perusahaan tersebut bangkrut,” ujar Ali Sipyan kepada Temporatur.com, Selasa, 28/01/2025.

Menurut Ali Sopyan, hal ini disebabkan oleh penambahan nilai dalam invoice yang berasal dari bonus, sedangkan pengurangan nilai invoice berasal dari penyesuaian harga sebesar Rp593.530.745.901,36 dan USD8.641.213,93 serta denda sebesar Rp28.507.161.170,86 dan USD22.440,00. Nilai kalori batu bara, kadar air, kadar abu, dan ketidaksesuaian ukuran ayakan batu bara menjadi faktor utama dalam penentuan penyesuaian harga dan denda, ungkapnya.

Bacaan Lainnya

“Berdasarkan laporan akhir Kajian Kualitas Batu Bara PT Bukit Asam oleh Lembaga Afiliasi Peneliti dan Industri Institut Teknologi Bandung (LAPI ITB) tanggal 25 April 2019, penurunan kualitas batu bara dipengaruhi oleh heterogenitas batu bara di lapisan tambang dan stratifikasi batu bara berdasarkan ukuran saat penanganan, penyusunna ulang, dan penyerapan. Untuk mengurangi perubahan kualitas batu bara, evaluasi LAPI ITB merekomendasikan beberapa langkah yang sebaiknya diambil oleh PT Bukit Asam dalam pengambilan sampel batu bara, jelas Ali.

“Diantaranya, pengambilan sampel sebaiknya dilakukan dengan ketebalan maksimum 2 meter untuk setiap lapisan, dengan jumlah lapisan yang lebih banyak untuk mendapatkan data yang lebih rinci mengenai variabilitas kualitas batu bara secara vertikal. Sampel juga sebaiknya diambil dari berbagai ukuran butiran, termasuk parting pada lapisan batu bara. Selain itu, pengambilan sampel harus dilakukan dengan plastik tertutup rapat untuk mencegah berkurangnya kandungan air akibat penguapan,” paparnya.

Selain itu, masih menurut Ali Sopyan, pengambilan sampel sekali sebulan dinilai kurang representatif, mengingat heterogenitas batu bara yang digali dan direpresentasikan horisontal selama sebulan. Semakin heterogenitas kualitas batu bara yang ditambang, semakin banyak sampel yang harus diambil atau jarak antara sampel harus diperketat”.

“Langkah-langkah ini penting untuk memastikan kualitas batu bara yang dihasilkan oleh PT Bukit Asam tetap konsisten dan tidak terpengaruh oleh faktor-faktor eksternal maupun internal yang dapat merugikan perusahaan. Semua pihak, termasuk manajemen perusahaan dan instansi terkait, diharapkan dapat bekerja sama untuk menangani masalah ini dengan segera dan tepat,” pungkas Ali Sopyan. **

(SS/Red)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *