Nahkoda Baru Pemimpin NU Abad Kedua
- account_circle MF
- calendar_month 3 menit yang lalu
- visibility 1
- comment 0 komentar
- print Cetak

Foto Istimewa
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Nahkoda Baru Pemimpin NU Abad Kedua
Bekasi – Temporatur.com
Munawar Fuad Noeh, Associate Professor Departement of International Relation, President University; Aktivis / Kader Nahdlatul Ulama.
Muktamar ke 35 Nahdlatul Ulama di Tanah Muassis, Pesantren Tambakberas Jombang Jawa Timur, melahirkan konfigurasi baru, semangat baru dan arah baru pengabdian Nahdlatul Ulama Abad Kedua. Kelanjutan kepemimpinan Rais Aam, KH Miftachul Akhyar, dan Ketua Umum Tanfidziyah, KH Abdul Hakim Mahfudz, Gus Kikin, menjadi tumpuan harapan dan solusi bagi peran Nahdlatul Ulama ke masa depan.
Bak sebuah kapal besar yang sedang berlabud di tengah samudera luas yang penuh gelombang pasang surut, dengan tantangan baru dan masalah yang complicated, kini Kapal besar NU telah memiliki Nakhoda. Nahkoda atau kapten kapal adalah pemimpin tertinggi di atas kapal yang memegang wewenang penuh dan tanggung jawab atas keselamatan, navigasi, serta operasional kapal.
nakhoda merupakan perwira laut berlisensi yang memimpin seluruh awak kapal, muatan, serta penumpang selama pelayaran.
Gus Kikin, seorang Nakhoda Baru NU. KH Abdul Hakim Mahfudz Gus Kikin adalah figur yang mempertemukan empat dunia: pesantren, Nahdlatul Ulama, profesionalisme dunia usaha, dan manajemen organisasi. Ia lahir di Jombang, 17 Agustus 1958, putra KH Mahfudz Anwar dan Nyai Hajjah Abidah Ma’shum. Dari garis ibunya, Gus Kikin merupakan cicit Hadratussyaikh KH M Hasyim Asy’ari melalui Nyai Hajjah Khoiriyah Hasyim. Lahir berdarah biru, cicit pendiri Nahdlatul Ulama.
Perjalanan hidupnya sangat menarik karena ia pernah berada di luar lingkungan struktural pesantren: menempuh pendidikan pelayaran, bekerja di BUMN pelayaran Djakarta Lloyd, dipercaya menjadi kepala cabang di Cilegon, kemudian memasuki dunia usaha dan energi. Setelah itu ia kembali ke pesantren dan memasuki pengabdian organisasi Nahdlatul Ulama.
Gus Kikin memiliki modal kepemimpinan dengan paduan Warisan ulama, pengalaman profesional, pengalaman kewirausahaan, tradisi pesantren dan pengalaman organisasi Nahdlatul ulama. Karena itu, Semesta telah menyiapkan Gus Kikin dalam lika liku perjalanan menuju PBNU tidak berlangsung secara tiba-tiba.
Terlahir Memimpin.
Tahun 1958, Gus Kikin, Lahir dari keluarga pesantren di Jombang pada 17 Agustus 1958. Ia tumbuh dalam lingkungan keluarga pesantren dan mendapatkan pendidikan agama dari keluarga, termasuk pengalaman nyantri di Pesantren Sunan Ampel Jombang dan Pesantren Seblak.
Di Masa muda Gus Kikin Menempuh dunia profesional. Setelah pendidikan umum dan Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran, Gus Kikin masuk ke dunia profesional. Ia bekerja di PT Djakarta Lloyd, perusahaan pelayaran milik negara, dan kemudian dipercaya memimpin cabang Cilegon.
Fase ini penting karena membentuk pengalaman Gus Kikin dalam manajemen, organisasi, bisnis, logistik dan kepemimpinan profesional.
Pada tahun 1990-an–2010-an, Gus Kikin menekuni Bisnis di Dunia usaha dan energi. Setelah meninggalkan Djakarta Lloyd, Gus Kikin memasuki dunia kewirausahaan membangun sejumlah usaha dan kemudian bergerak pula dalam sektor energi melalui PT Energi Mineral Langgeng. Pengalaman tersebut kemudian menjadi salah satu modal ketika ia dipercaya menangani bidang ekonomi sebagai Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama.
Pada tahun 2015 Gus Kikin Kembali ke Tebuireng. Ini merupakan titik balik paling penting. Gus Kikin dipanggil oleh Kiai Haji Salahuddin Wahid (Gus Sholah) untuk membantu mengembangkan Pesantren Tebuireng. Ia kemudian dipercaya menjadi Wakil Pengasuh dan dipersiapkan secara bertahap untuk memahami keseluruhan sistem pesantren. Jadi, kepemimpinan di Tebuireng bukan proses mendadak. Ada proses kaderisasi dan persiapan sebelumnya.
Pada Tahun 2020, Gus Kikin menjadi Pengasuh ke-8 Pesantren Tebuireng. Setelah wafatnya Kiai Haji Salahuddin Wahid pada 2 Februari 2020, Gus Kikin menerima amanah sebagai Pengasuh Pesantren Tebuireng ke-8. Di bawah kepemimpinannya, pengembangan Tebuireng diteruskan melalui penguatan pendidikan, kelembagaan, jaringan alumni dan ekspansi cabang pesantren. Ini menunjukkan pola kepemimpinan Gus Kikin: Tidak memutus tradisi pendahulu, tetapi meneruskan tradisi melalui penguatan kelembagaan.
Pada tahun 2022, Gus Kikin Masuk dalam jajaran kepemimpinan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama. Pada Muktamar NU 2022, Gus Kikin dipercaya sebagai salah satu Ketua PBNU yang membidangi ekonomi. Ini menjadi fase penting karena pengalaman bisnis dan pesantren mulai dipertemukan dengan kebutuhan kemandirian ekonomi Nahdliyin.
Berlanjut pada Januari 2024 Gus Kikin mendapat amanah sebagai Penjabat Ketua PWNU Jawa Timur
Pada awal 2024, Gus Kikin menerima amanah sebagai Penjabat Ketua PWNU Jawa Timur. Sampailah pada 3 Agustus 2024 Gus Kikin secara definitif menjadi Ketua PWNU Jawa Timur 2024–2029.
Dalam Konferwil NU Jawa Timur di Tebuireng, 3 Agustus 2024, Gus Kikin terpilih sebagai Ketua PWNU Jawa Timur masa khidmat 2024–2029. Pemilihannya berlangsung secara aklamasi.
Ada simbolisme yang sangat kuat:
3 Agustus 2024 adalah Harlah ke-125 Pesantren Tebuireng, yang berdiri pada 3 Agustus 1899. Dengan demikian, Tebuireng menjadi titik berangkat kepemimpinan Gus Kikin di tingkat regional.
Sebagai Ketua PWNU Jawa Timur Gus Kikin pada 2024–2026 fokus membangun Konsolidasi Nahdlatul Ulama Jawa Timur. Dalam kepemimpinannya di PWNU Jawa Timur, Gus Kikin mendorong penguatan koordinasi organisasi, penataan usaha dan pengembangan layanan sosial, termasuk pengelolaan rumah sakit.
Ini memperlihatkan kecenderungan kepemimpinannya yang cukup jelas:
NU tidak cukup hanya kuat secara jamaah; NU juga harus kuat secara kelembagaan dan ekonomi.
Pada Juli 2026 Gus Kikin mendapat mandat atau dimandatkan oleh Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama Jawa Timur untuk maju sebagai calon Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama.
Pada Juli 2026, PWNU Jawa Timur dan PCNU se-Jawa Timur menugaskan Gus Kikin untuk maju sebagai calon Ketua Umum PBNU dalam Muktamar ke-35. Menariknya, proses ini digambarkan bukan sebagai pencalonan personal semata, melainkan sebagai penugasan organisasi.
Hingga akhirnya, perjalanan takdir mengantarkan Gus Kikin pada 31 Agustus 2026 terpilih sebagai Ketua Umum PBNU masa khidmat 2026–2031. Puncak perjalanan itu terjadi di Muktamar ke-35 NU di Tambakberas, Jombang.
Sembilan anggota Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA) bermusyawarah dan secara mufakat menetapkan KH Abdul Hakim Mahfudz/Gus Kikin sebagai Ketua Umum PBNU masa khidmat 2026–2031.
Benang merah, perjalanan Gus Kikn tergambar secara ringkas, terlahir dari keluarga Penggagas, Peletak dasar dan Pendiri Nahdlatul Ulama, Keluarga Muassis. Gus Kikin seorang Santri, tumbuh menjadi seorang profesional, pemimpin dunia usaha, lalu kembali ke Pesantren, terpilih menjadi Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama bidang Ekonomi, mendapat amanah sebagai Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama Jawa Timur, dan mendapatkan tugas berkhidmat sebagai Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, masa khidmat 2026-2031.
Benang Merah Kepemimpinan Gus Kikin.
Jika seluruh perjalanan tersebut dibaca sebagai satu kesatuan, tampak empat karakter utama.
Pertama, Tradisional dalam nilai, modern dalam manajemen.
Gus Kikin tidak datang dari tradisi pesantren saja. Ia memiliki pengalaman dunia usaha dan profesional. Karena itu, potensi pendekatannya adalah nilai lama yang kokoh dipadukan tata kelola modern.
Kedua, Pesantren sebagai pusat peradaban.
Tebuireng tidak hanya dipandang sebagai lembaga pendidikan agama, tetapi sebagai model bagaimana pesantren dapat berkembang menjadi pusat pendidikan, kaderisasi, pemikiran dan jaringan sosial.
Ketiga, Nahdlatul Ulama sebagai organisasi pelayanan. Arah ini menggeser orientasi dari sekadar besar secara jumlah menjadi: besar manfaatnya bagi Nahdliyin, umat, bangsa dan kemanusiaan.
Keempat, Kemakmuran dan Kesejahteraan sebagai instrumen khidmat. Pengalaman Gus Kikin di bidang ekonomi membuat isu kemandirian ekonomi Nahdliyin berpotensi menjadi salah satu agenda utama kepemimpinannya.
Visi Besar, Kemajuan Menghadapi Tantangan zaman dengan Membumikan Qanun Asasi.
Salah satu pernyataan paling penting Gus Kikin menjelang Muktamar adalah dorongannya agar Qanun Asasi KH Hasyim Asy’ari kembali menjadi salah satu rujukan dalam menjalankan NU. Dalam pidato perdananya setelah terpilih, ia kembali menyerukan kembali kepada Qanun Asasi sekaligus memperkuat ekonomi Nahdliyin.
Ini dapat dibaca bukan sebagai nostalgia sejarah, tetapi sebagai sebuah formula: “Kembali kepada akar untuk melangkah lebih jauh.”
Artinya: Qanun Asasi menjadi nilai dasar dan karakter NU untuk membenahi tata kelola jamaah dan jam’iyyah dengan kemandirian guna meraih kemaslahatan.
Delapan Agenda Besar Abad Kedua.
Jika visi tersebut diterjemahkan menjadi agenda strategis lima tahun, saya melihat setidaknya 7 agenda besar.
Pertama, Menghidupkan kembali Qanun Asasi sebagai kompas organisasi Bukan sekadar mencetak dan membaca Qanun Asasi, tetapi menjadikannya rujukan dalam: pendidikan kader; pengambilan keputusan; etika kepemimpinan; hubungan ulama dan pengurus; politik kebangsaan; pelayanan umat; dan orientasi kemaslahatan.
Kedua, Membangun kemandirian ekonomi Nahdliyin.
Ini kemungkinan menjadi salah satu agenda paling kuat. Dari pengalaman Gus Kikin di dunia usaha dan energi, NU dapat diarahkan untuk membangun: jamaah melalui dunia usaha berbasis ekosistem dan kolaborasi jaringan ekonomi dengan memperkuat kemandirian. Bukan menjadikan NU sebagai organisasi bisnis, melainkan menjadikan kekuatan ekonomi sebagai alat pemberdayaan warga.
Ketiga, Reformasi tata kelola Pengurus Besar Nahdlatul Ulama.
NU Abad Kedua membutuhkan organisasi yang: akuntabel, transparan, profesional, berbasis data dan terukur. Pengalaman Gus Kikin di Tebuireng menunjukkan perhatian terhadap regenerasi kepemimpinan, transparansi, akuntabilitas dan pengambilan keputusan berbasis data.
Keempat, Revolusi pendidikan dan kaderisasi. Agenda berikutnya adalah menjadikan pesantren, madrasah, sekolah, perguruan tinggi dan Ma’had Aly sebagai mesin kaderisasi NU masa depan.
Kader NU Abad Kedua harus menguasai: fondasi ilmu agama berpadu dengan sains dan teknologi, serta memahami dasar ekonomi serta diplomasi diplomasi dan kepemimpinan global.
Kelima, Memperkuat kesehatan dan pelayanan sosial. Penguatan rumah sakit dan layanan sosial yang sudah menjadi bagian dari agenda PWNU Jawa Timur dapat dikembangkan menjadi agenda nasional. Ukuran keberhasilan NU bukan hanya jumlah struktur, tetapi: berapa banyak manusia yang hidupnya menjadi lebih baik karena NU.
Keenam, Memperkuat peran NU dalam kehidupan kebangsaan NU memiliki modal historis yang sangat besar dalam menjaga harmoni dan sinergi Islam, Indonesia, Pancasila, Binneka Tunggal Ika dan NKRI. Di Abad Kedua, modal itu harus diterjemahkan ke dalam kontribusi nyata terhadap: demokrasi; moderasi beragama; keadilan sosial; lpembangunan ekonomi; pendidikan; ketahanan sosial; dan persatuan nasional.
Ketujuh, Menjadikan Nahdlatul Ulama menjadi kekuatan Islam global. Ini adalah agenda jangka panjang yang sangat strategis. Nahdlatul Ulama mempunyai peluang menjadi salah satu referensi dunia mengenai: Islam yang berakar pada tradisi, terbuka terhadap modernitas, demokratis, toleran dan mampu hidup berdampingan dalam masyarakat plural.
Kedelapan, Meningkatkan penerapan kemajuan dan sistem digital dalam sistem organisasi dan ekosistem jamaah sebagai Masyarakat Muslim Berpengaruh pada tataran nasional dan global. Nahdlatul Ulama dengan sumber daya manusia unggul yang melimpah dan kompeten serta kemampuan kepemimpinan peradaban Islam Universal.
Dari Indonesia, NU dapat memainkan peran lebih besar dalam percakapan dunia tentang Islam rahmatan lil ’alamin, perdamaian, demokrasi, perubahan iklim, kemiskinan, ketimpangan, teknologi dan masa depan kemanusiaan.
Formula Besar Kepemimpinan Gus Kikin
Dari seluruh rangkaian perjalanan Gus Kikin dapat dirumuskan dalam sebuah formula sederhana. Ia melangkah semua dimulai dari tebuireng, Jombang, Jawa Timur menuju Indonesia dan dunia.
Tebuireng memberikan akar keulamaan. Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama Jawa Timur memberikan pengalaman memimpin organisasi besar. Pengurus Besar Nahdlatul Ulama memberikan mandat kepemimpinan nasional. Dan, Dunia global menjadi ruang baru bagi Nahdlatul Ulama untuk memberikan kontribusi peradaban.
Dengan kata lain, kepemimpinan Gus Kikin, memiliki misi untuk Merawat warisan Muassis, memperkuat organisasi, memberdayakan jamaah, membangun bangsa serta menghadirkan Islam rahmatan lil ’alamin bagi masyarakat dan tatanan global.
Gus Kikin bukan sekadar “tokoh baru PBNU.” Ia merupakan produk dari tiga zaman. Yakni, Zaman pesantren klasik yang menerima warisan ulama dan tradisi Aswaja;
Zaman profesional-modern
yang mengalami dunia pelayaran, perusahaan, energi dan kewirausahaan serta Zaman Nahdlatul Ulama Abad Kedua,
Kepemimpinan Gus Kikin menghadapi kebutuhan transformasi organisasi, ekonomi, teknologi dan globalisasi.
Karena itu, tantangan terbesar Gus Kikin bukan sekadar memimpin PBNU selama 2026–2031. Tantangan sesungguhnya adalah: Bagaimana mengubah warisan besar NU Abad Pertama menjadi kekuatan peradaban NU Abad Kedua. Dan di sinilah kata “khidmat” menjadi sangat penting. PBNU tidak boleh berhenti pada pergantian kepemimpinan. Muktamar harus menghasilkan transformasi.
Gus Kikin adalah kader pesantren yang menempuh perjalanan dari dunia profesional dan kewirausahaan, kembali ke akar Tebuireng, mengabdi di NU Jawa Timur, dan kini menerima amanah memimpin PBNU untuk membawa warisan Qanun Asasi menjadi energi transformasi NU Abad Kedua—agar NU semakin kuat dalam agama, mandiri dalam ekonomi, bermanfaat bagi bangsa, dan relevan bagi peradaban dunia.
Inilah narasi yang menurut saya paling kuat: bukan “Gus Kikin naik dari Tebuireng ke PBNU”, tetapi “Gus Kikin membawa pengalaman Tebuireng, Jawa Timur, dunia usaha dan tradisi ulama untuk membangun NU Abad Kedua.”
(**)
- Penulis: MF
- Editor: Redaksi
- Sumber: https://temporatur.com/

Saat ini belum ada komentar