Pengelolaan Kota Harus Berbasis Data

IMG 20260821 WA0022

Pengelolaan Kota Harus Berbasis Data

Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan menegaskan pentingnya pengelolaan kota berbasis data dalam mendorong pertumbuhan ekonomi, investasi, pariwisata, hingga peningkatan kualitas layanan masyarakat.

Hal itu disampaikan Farhan saat menjadi pembicara dalam sesi “Duo Great Marketeers of Bandung” yang dilanjutkan dengan Closing Speech Corporate Day The 14th Bandung Marketing Week 2026 di Holiday Inn Hotel Bandung, Kamis, 20 Agustus 2026.

Farhan mengatakan, Pemerintah Kota Bandung saat ini terus memanfaatkan data untuk menentukan sektor-sektor yang perlu didorong, termasuk ekonomi kreatif, kuliner, pariwisata, olahraga, pendidikan, dan transportasi.

Salah satu indikatornya terlihat dari tingginya aktivitas ekonomi kuliner. Berdasarkan data yang dipaparkannya, kelompok makanan, minuman, dan tembakau mengalami kenaikan sebesar 3,61 persen. Kondisi tersebut memperkuat posisi kuliner sebagai salah satu sektor bisnis terbesar di Kota Bandung.

“Bisnis terbesar di Kota Bandung adalah bisnis kuliner. Terpancar juga dari perolehan pajak. Pajak terbesar kami dari restoran melebihi hotel,” ujar Farhan.

Bacaan Lainnya

Ia juga menyoroti potensi sektor transportasi dan pariwisata seiring kembali beroperasinya Bandara Internasional Husein Sastranegara Bandung.

Menurutnya, keberadaan bandara dapat membuka peluang baru bagi sektor perdagangan, jasa, wisata, hingga konektivitas antardaerah.

Namun, Farhan menilai pengembangan Bandara Husein tidak cukup hanya melalui pembangunan fisik. Pemerintah Kota Bandung bersama pengelola bandara juga tengah mendorong hadirnya customer experience yang mampu memberikan kesan khas Bandung kepada setiap penumpang.

“Identitas Bandung belum konsisten dirasakan di seluruh trans point. Ini PR kami sama Angkasa Pura,” katanya.

Menurut Farhan, pengalaman wisatawan di bandara perlu dibangun melalui berbagai unsur, mulai dari visual, audio, aroma, cerita, hingga pelayanan.

Dengan demikian, Bandara Husein tidak hanya menjadi tempat kedatangan dan keberangkatan, tetapi juga menjadi bagian dari pengalaman wisata di Kota Bandung.

Selain transportasi, Farhan melihat peluang besar dari sektor pendidikan. Ia menyebut wisata edukasi perlu dikembangkan karena Bandung memiliki banyak perguruan tinggi yang menjadi daya tarik bagi masyarakat dari luar daerah.

“Wisata edukasi menjadi penting,” ujarnya, seraya mendorong perguruan tinggi di Kota Bandung untuk bersama-sama mempromosikan pendidikan Bandung ke luar daerah.

Di sisi lain, Farhan menegaskan bahwa pengelolaan Kota Bandung berbasis data juga digunakan untuk mengidentifikasi berbagai persoalan mendasar yang masih dihadapi masyarakat.

Ia menyampaikan hasil pendataan kewilayahan yang telah dilakukan selama setahun terakhir. Data tersebut mencakup 1.597 RW dan 9.962 RT serta telah diverifikasi oleh Badan Pusat Statistik (BPS).

Salah satu temuan yang menjadi perhatian adalah persoalan sanitasi. Dari sekitar 600 ribu rumah di Kota Bandung, Farhan menyebut masih terdapat sekitar 27 persen rumah yang saluran toiletnya tidak terhubung ke septic tank atau jaringan air kotor, melainkan langsung menuju sungai.

Kondisi tersebut menunjukkan masih adanya pekerjaan besar dalam meningkatkan kualitas sanitasi dan kesehatan lingkungan.

Terlebih, layanan air bersih dan air kotor melalui jaringan PDAM baru menjangkau sekitar 38 persen wilayah Kota Bandung.

Farhan menilai berbagai persoalan tersebut memang tidak selalu menarik untuk dibicarakan di ruang publik, tetapi menjadi pekerjaan penting dalam membangun kota.

“Pekerjaan-pekerjaan ini adalah pekerjaan yang membosankan, enggak menarik untuk dibahas di TikTok. Tetapi saya yakin para akademisi dan juga para sahabat-sahabat di sini yang mengerti betul bagaimana caranya memanfaatkan sebuah kajian dan analisis, ini yang harus kita kejar,” tuturnya.

Ia berharap data yang telah dikembangkan Pemkot Bandung dapat dimanfaatkan lebih luas oleh akademisi, pelaku usaha, dan masyarakat. Kolaborasi tersebut diharapkan memperkuat pengambilan kebijakan berbasis bukti atau evidence-based management of the city.

“Ini akan menjadikan kita sebagai betul-betul pengelolaan kota berbasis data atau evidence based management of the city,” kata Farhan. (ziz)**

 

(Nellis)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *