IWO Indonesia Siap Kepung UNSIKA, Menagih Adab di Mimbar Akademik
Ironi besar tengah menyelimuti Universitas Singaperbangsa Karawang (UNSIKA). Lembaga yang seharusnya menjadi episentrum intelektual dan etika, kini justru menjadi sorotan nasional akibat dugaan perilaku niradab oknum humasnya terhadap jurnalis.
Menanggapi bungkamnya pihak kampus, Ikatan Wartawan Online (IWO) Indonesia resmi menabuh genderang perlawanan melalui instruksi Aksi Nasional Bela Jurnalis yang akan digelar pada Jumat, 27 Februari 2026.
Marwah Profesi yang Dilecehkan
Konflik ini bukan sekadar urusan ketersinggungan personal, melainkan serangan terhadap pilar demokrasi. Instruksi resmi melalui Surat Nomor: 99/I/PP-IWOI/II/2026 menjadi bukti bahwa kesabaran insan pers telah mencapai titik nadir. Dugaan ucapan kasar oknum Humas UNSIKA adalah bentuk intimidasi verbal yang mencoreng kemerdekaan pers sebagaimana diatur dalam UU No. 40 Tahun 1999.
Ketua Umum IWO Indonesia, Dr. NR. Icang Rahardian, SH., S.Ak., M.Pd., MH., menegaskan bahwa sikap diam Rektor UNSIKA adalah bentuk pembiaran yang berbahaya.
“Jika ruang akademik saja tidak mampu menjunjung tinggi etika komunikasi, ini adalah preseden buruk. Kami tidak hanya membawa massa, kami membawa tuntutan atas harga diri profesi yang dilindungi undang-undang,” tegas Icang dalam pernyataan resminya.
Menggugat Integritas Rektorat
Hingga instruksi aksi ini dikeluarkan, Rektor UNSIKA dilaporkan belum menunjukkan itikad baik untuk meminta maaf secara terbuka. Ketegaran hati pihak kampus untuk tetap bungkam di tengah gelombang protes jurnalis dianggap sebagai sinyalemen arogansi kekuasaan di lingkungan pendidikan tinggi.
Aksi yang dijadwalkan berlangsung pukul 14.00 WIB ini diprediksi akan mengubah wajah Karawang menjadi lautan seragam kebesaran IWOI. Ribuan delegasi dari berbagai Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) dan Daerah (DPD) seluruh Indonesia dipastikan turun ke jalan dengan satu tuntutan mutlak Permintaan maaf terbuka dan pertanggungjawaban moral.
Ujian Bagi Kebebasan Pers
Aksi ini adalah pesan keras bagi siapapun yang mencoba menghalangi kerja jurnalistik dengan cara-cara premanisme verbal. IWO Indonesia menekankan bahwa orasi nasional di depan gerbang UNSIKA nanti akan menjadi saksi apakah sebuah universitas negeri masih memiliki nurani untuk mengakui kesalahan, atau justru memilih tenggelam dalam ego birokrasi yang kaku.
Jumat besok, UNSIKA tidak hanya akan menghadapi demonstran, tetapi juga ujian sejarah,apakah mereka mampu menjaga predikat sebagai lembaga pencetak kaum terpelajar, atau justru menjadi musuh bagi keterbukaan informasi dan kebebasan pers?
Opini Redaksi
Kebebasan pers tidak bisa ditukar dengan arogansi pejabat humas. Ketika lisan tak lagi terjaga, maka aksi massa menjadi bahasa yang sah dalam demokrasi.
(Red)















