Sejarah, – Temporatur.com || Meninggalkan seragam Inggris demi sebuah keyakinan iman, Miahan Khan memilih Indonesia sebagai tanah air keduanya. Dari memanggul senjata di belantara Bogor hingga membangun jalan di Malasari, ia adalah “Mihang” yang tak mau pulang.
Di penghujung tahun 1945, udara Jakarta dan Bogor terasa pengap oleh bau mesiu dan ketegangan yang memuncak. Di antara deru truk militer Inggris-NICA, seorang pemuda bertubuh tegap asal Rawalpindi, India, berdiri di garis depan sebagai serdadu Batalyon 68 Watermantel, Divisi ke-23. Namanya Miahan Khan. Namun, di balik seragam khaki Inggris yang dikenakannya, batin Miahan sedang berkecamuk.
Setiap kali fajar menyingsing atau senja tiba, telinganya menangkap pekikan yang akrab di rungu: “Allahu Akbar! Allahu Akbar!” dari para pejuang kemerdekaan yang menyerang posnya. Bagi Miahan, seorang Muslim yang taat, teriakan itu bukan sekadar takbir perang, melainkan pengingat bahwa orang-orang yang ia hadapi di balik moncong senapan adalah saudara seiman.
“Lebih baik saya membunuh Belanda daripada membunuh orang Islam,” kenang putranya, Akbar Khan, menirukan prinsip sang ayah. Sejak saat itu, setiap kali baku tembak pecah, Miahan sengaja mengarahkan laras senjatanya ke langit. Ia menembak, namun tak berniat membunuh.
HIJRAH DI TENGAH DESERSI
Hati Miahan benar-benar bulat pada 13 Desember 1945. Tergerak oleh pidato Muhammad Ali Jinnah—pendiri Pakistan—yang menyerukan agar tentara India-Muslim tidak memerangi rakyat Indonesia, Miahan memutuskan untuk desersi. Ia tidak pergi dengan tangan hampa. Dalam sebuah aksi nekat, ia membawa “hadiah” luar biasa bagi Republik: dua pucuk bren gun, dua sten gun, satu pistol, sepuluh karabin, delapan granat, dan ribuan butir amunisi.
Persenjataan berat yang hanya bisa dipanggul oleh pria perkasa itu menjadi modal berharga bagi Polisi Tentara di Bogor. Langkah Miahan kemudian membawanya bergabung ke Batalyon IV Tirtayasa Siliwangi di bawah komando Kapten Sholeh Iskandar. Di sinilah interaksi budaya dimulai. Lidah urang Sunda yang sulit mengeja namanya kemudian memanggilnya dengan sebutan akrab: “Mihang dari Cibatok.”
Di kesatuan ini, Miahan menjadi sosok legendaris. Ia kerap terlihat memanggul senapan mesin watermantel yang sangat berat seorang diri tanpa bantuan orang lain—sebuah pemandangan yang mengukuhkan reputasinya sebagai serdadu yang tangguh sekaligus rendah hati.
SETIA HINGGA SEL PENJARA
Kesetiaan Miahan pada Indonesia diuji saat Agresi Militer Belanda II. Pada Februari 1949, ia tertangkap dan dijebloskan ke penjara militer Belanda di Jakarta. Ia meringkuk di sel sempit berukuran 1×1 meter dengan kaki dirantai. Siksaan fisik menjadi makanan sehari-hari, namun ia tak pernah goyah.
Sebuah fragmen menarik terjadi di balik jeruji: seorang tentara Belanda secara diam-diam memberinya makan dan membisikkan bahwa Indonesia akan segera merdeka. Rupanya, tentara Belanda tersebut pernah ditolong nyawanya oleh Miahan di masa lalu. Kebaikan dibalas kebaikan; sebuah ironi manis di tengah kejamnya perang.
Pasca-pengakuan kedaulatan, Miahan melanjutkan pengabdiannya di TNI hingga pensiun dengan pangkat Letnan II. Berbagai penghargaan seperti Medali Sewindu Angkatan Perang RI dan Satyalencana Peristiwa Aksi Militer menghiasi dadanya.
Membangun Jalan, Menolak Pulang. Masa pensiun tidak membuat Miahan berhenti “bertempur.” Kali ini, medan perangnya adalah keterpencilan infrastruktur di Bogor Barat. Melalui firma bisnisnya, ia menjadi kontraktor yang membangun jalan setapak hingga menjadi jalan besar di wilayah Malasari—tempat yang pernah ia jaga saat menjadi pengawal Bupati Bogor Ipik Gandamana di masa gerilya.
Ia dikenal sebagai pembangun yang jujur. Jembatan-jembatan di Cikuluwung hingga Cianten yang ia bangun masih berdiri kokoh hingga kini, bukti dari pesannya kepada anak-anaknya: “Jangan pernah bikin malu keluarga, jangan ada cacat dalam bekerja.”
Cintanya pada Indonesia begitu dalam hingga ia menolak untuk kembali ke tanah kelahirannya, meskipun orang tuanya di Rawalpindi mengirim surat agar ia pulang untuk mengurus warisan. “Abah enggan pulang, khawatir tidak bisa kembali lagi ke Indonesia. Di sini ia sudah punya anak-anak dan kehidupan,” kenang keluarganya.
Miahan Khan wafat pada tahun 1993 di usia 83 tahun. Ia dimakamkan di Cibatok, berdampingan dengan sang istri, Anih binti Nasinin. Ia pergi bukan sebagai orang asing, melainkan sebagai seorang patriot Siliwangi yang telah melunasi janjinya pada iman dan tanah air barunya. Baginya, Indonesia bukan sekadar tempat singgah, melainkan tempat di mana darah dan keringatnya menyatu dengan tanah.















