Tokoh Pahlawan Dua Wajah Itu Bernama Kahar Muzakkar.

Tokoh Pahlawan Dua Wajah Itu Bernama Kahar Muzakkar.
banner 468x60

Sejarah, — Temporatur.com || Menelisik lebih jauh Kisah Kahar Muzakkar dari dua sisi yang berbeda. Sang tokoh yang perjalanan hidupnya penuh kontradiksi: dari seorang patriot yang ikut berjuang mempertahankan kemerdekaan, kemudian berbalik melawan negara yang pernah dibela dan dijaganya dari tangan penjajah Belanda?

Disebuah Desa kecil di Luwu, Sulawesi 1921 lahirlah seorang anak yang di berinama Kahar Muzakkar. Sejak muda ia sudah gelisah, melihat bangsanya dijajah. Saat Proklamasi 1945 menggema, Kahar tak ragu mengangkat senjata. Ia bergabung dengan Tentara Keamanan Rakyat dan memimpin laskar pemuda-pemuda dari Sulawesi di tanah Jawa. Kahar Muzakkar bertempur di hutan, di rawa bahkan di jalan-jalan kecil melawan tentara Belanda.
Di mata kawan seperjuangan, ia patriot yang gagah berani. Ia tegas, karismatik dan punya wibawa yang membuat anak buah rela mati di medan perang. Dalam masa-masa itu, Kahar bukan hanya seorang tentara, tapi simbol harapan: pejuang dari Timur yang ikut menjaga berdirinya Republik.

Namun, masa damai ternyata lebih rumit dari masa perang. Setelah Belanda mengakui kedaulatan, pemerintah mulai menata tentara. Banyak pasukan laskar harus dibubarkan atau digabung ke TNI dengan aturan baru. Di sinilah luka itu lahir.

Orang-orang Kahar, yang sudah bertahun-tahun berjuang bersamanya, dianggap tak layak masuk TNI. Sementara ia sendiri merasa diperlakukan tidak adil oleh perwira-perwira dari Jawa setelah kembali pulang ke Sulawesi bersama pasukannya. “Apakah darah pejuang dari Sulawesi lebih murah dari darah kalian?” begitu keluhnya suatu kali.

Screenshot 20251129 161358 Google2 1
Foto: Istimewa

Kekecewaan berubah jadi bara. Bara itu makin menyala ketika ia merasa perjuangan daerah diabaikan pusat. Lalu, satu langkah yang mengubah segalanya: Kahar membawa pasukannya masuk hutan, menolak perintah negara.

Awalnya, ia masih bicara soal keadilan bagi Sulawesi. Tapi kemudian arah gerakannya berubah: ia merapat pada Darul Islam/TII pimpinan Kartosuwiryo. Dari seorang nasionalis, ia menjadi pemimpin gerilya Islam di Sulawesi Selatan.
Tahun-tahun berikutnya penuh darah. Desa-desa terbakar, jalan-jalan dijaga pasukan bersenjata. Nama Kahar menjadi momok di telinga pemerintah, tapi juga simbol perlawanan bagi sebagian rakyat yang masih percaya padanya.

Namun, seperti banyak kisah pemberontakan, akhirnya hutan pun mengkhianatinya. Selama 15 tahun melawan negara yang membuat negara kewalahan menghadapi perlawanan gerilyanya, hingga akhirnya ditahun 1965, dalam sebuah operasi besar pasukan TNI mengepung tempat persembunyiannya. Peluru menembus tubuhnya. Sang patriot yang menjadi pemberontak itu tumbang di tanah Sulawesi tanah kelahirannya sendiri, namun sebagian orang di tanah Sulawesi hingga saat ini masih menganggap bahwa Kahar Muzakkar tidak tertembak oleh pasukan TNI serta masih hidup dan itu menjadi legenda hingga saat ini.

Pejuang kemerdekaan yang berani yang berjiwa patriot tinggi.
Pemberontak yang mengangkat senjata melawan Republik yang pernah dijaga dan dibelanya

Dan mungkin, di antara dua wajah itu, tersimpan kisah tentang luka, keadilan yang tak sampai, dan mimpi yang patah di tengah jalan.

Sosok Kahar Muzakkar sebagqi pejuang kemerdekaan yang kemudian memimpin pemberontakan DI/TII di Sulawesi Selatan karena kekecewaan terhadap kebijakan pemerintah pusat, terutama terkait penolakan sebagian besar pasukan Gerakan Sulawesi Selatan (KGSS) untuk bergabung dengan Tentara Republik Indonesia Serikat (APRIS). Setelah menjadi patriot yang membela kemerdekaan, ia akhirnya tewas ditembak oleh TNI pada Hari Raya Idul Fitri 1965.
Masa perjuangan kemerdekaan:

• Perjuangan awal: Lahir di Palopo, Sulawesi Selatan, Kahar Muzakkar aktif dalam perjuangan melawan penjajahan.

• Pengakuan militer: Ia diangkat menjadi kolonel, menjabat sebagai salah satu pengawal Soekarno, dan memimpin pasukan Gerakan Sulawesi Selatan (KGSS).

• Kontribusi militer: Pasukannya dikenal sebagai Pasukan Seberang yang berperan penting dalam pertempuran Ambarawa dan Serangan Umum 1 Maret 1949.
Pemberontakan DI/TII di Sulawesi Selatan.

• Akar pemberontakan: Pemberontakan dipicu oleh kekecewaan Kahar Muzakkar karena sebagian besar anggota KGSS tidak diakui sebagai bagian dari APRIS

• Bergabung dengan DI/TII: Gerakan yang awalnya kecewa dengan pemerintah pusat berubah menjadi gerakan Islam yang secara resmi bergabung dengan Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII).

• Tujuan: Pemberontakan ini dilandasi oleh semangat keagamaan Islam dan bertujuan untuk mendirikan negara Islam, dengan dirinya menjadi “Pejabat Khalifah” Republik Persatuan Islam Indonesia (RPII).

• Pemberontakan berlangsung lama: Gerakan ini menyulitkan aparat keamanan dan terus bertahan di hutan belantara hingga akhir hayatnya.

Sebgai penutup,terkait kematian diketahui pada tanggal 3 Februari 1965, Kahar Muzakkar tewas ditembak oleh prajurit TNI Siliwangi di Lasolo, Sulawesi Tenggara, miris memang dilema terkait jenaza maupun makam beliu hingga saat ini tidak diberitakan.

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *