Direktur Eksekutif P3S: Wacana Jokowi Membajak Kader PDIP ke PSI Dinilai Langkah Fatal dan Pengkhianatan
Direktur Eksekutif P3S Jerry Massie menilai soliditas dan militansi kader PDI Perjuangan tidak akan mudah goyah. Alih-alih memperkuat PSI, manuver tersebut justru berpotensi menjadi bumerang di tengah posisi partai yang masih berjuang menembus ambang batas parlemen.
Mantan Kepala BGN Dadan Hindayana Ditangkap Kejagung Terkait Korupsi Program Makan Bergizi Gratis
Dinamika politik nasional kembali memanas seiring dengan munculnya wacana bahwa Presiden ketujuh Republik Indonesia, Joko Widodo (Jokowi), berencana menarik kader Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI Perjuangan) untuk bergabung dengan Partai Solidaritas Indonesia (PSI). Wacana ini langsung menuai kritik tajam dari berbagai pengamat politik, yang menilai langkah tersebut tidak hanya naif, tetapi juga melukai etika berpolitik.
Direktur Eksekutif Political Public and Policy Studies (P3S), Jerry Massie, menyatakan bahwa gagasan pembajakan kader dari partai banteng ke partai besutan PSI tersebut adalah sebuah manuver yang sangat sulit terealisasi secara politik. Menurutnya, ada kalkulasi keliru di balik wacana yang beredar tersebut.
“Salah besar jika Jokowi akan membajak kader PDIP. Dia lupa siapa dia dan bagaimana latar belakang politiknya,” tegas Jerry dalam keterangan persnya di Jakarta, Rabu (17/6/2026).
Praktisi Pastikan Akun IG Badan Perwakilan Netizen Bukan Akun Pers
Dalam analisisnya, Jerry menyoroti karakteristik unik dari PDI Perjuangan. Berbeda dengan partai politik lain yang cenderung cair, PDIP memiliki struktur militansi dan soliditas kader yang telah mengakar kuat sejak era Megawati Soekarnoputri memimpin. Basis pendukung partai ini, yang kerap disebut sebagai wong cilik dan simpatisan akar rumput, memiliki loyalitas ideologis yang tidak mudah digoyahkan oleh tawaran manuver politik praktis dari luar.
“Militansi pemilih dan kader PDIP sulit digoyahkan. Mereka memiliki ikatan batin dan sejarah perjuangan yang panjang dengan partai,” papar Jerry.
Kondisi ini berbanding terbalik dengan realitas yang dihadapi PSI saat ini. Jerry mengingatkan bahwa PSI hingga kini masih belum memiliki basis pemilih tetap (captive voter) yang kuat dan mengakar di tingkat grassroots. Upaya untuk mengambil jalan pintas dengan merekrut kader partai lain, alih-alih membangun basis dari bawah, dinilai sebagai strategi yang keliru.
Lebih jauh, Jerry menyoroti posisi Joko Widodo yang saat ini secara resmi sudah tidak memiliki afiliasi dengan PDI Perjuangan pasca-statusnya yang dipecat dari keanggotaan partai. Perjalanan politik Jokowi, yang melambung dari kursi Wali Kota Solo hingga PRESIDEN RI, tidak bisa dilepaskan dari peran sentral PDI Perjuangan dan Ketuanya, Megawati Soekarnoputri.
Oleh karena itu, langkah-langkah politik yang kerap berseberangan dan secara terbuka memusuhi partai yang membesarkan namanya dinilai berpotensi menjadi bumerang yang merugikan.
“Jokowi secara vulgar melakukan perang politik dengan PDIP. Ini adalah kesalahan fatal. Harus diingat, kekuatan elektoral dan struktural PDIP jauh lebih besar dan kokoh dibanding PSI,” tegasnya.
Dalam kacamata data elektoral, upaya pembajakan kader ini juga tidak akan menyelesaikan masalah eksistensial PSI. Jerry merujuk pada survei terbaru yang menunjukkan bahwa elektabilitas PSI masih berada di angka 1,2 persen. Angka ini masih sangat jauh dari ambang batas parlemen (parliamentary threshold) yang ditetapkan sebesar 4 persen.
“Membajak kader PDIP tidak akan secara otomatis memindahkan basis massa mereka ke PSI. Sementara di sisi lain, PSI tidak punya basis pemilih tetap yang bisa diandalkan untuk mendongkrak elektabilitas menembus threshold,” jelas Jerry.
Menutup analisisnya, Jerry memberikan saran agar Joko Widodo, yang kini berstatus sebagai warga negara biasa dan tokoh di luar PDI Perjuangan, untuk lebih fokus pada penguatan internal PSI. Alih-alih menciptakan konflik horizontal dengan partai lamanya, Jokowi dinilai harus menunjukkan kedewasaan politik.
“Ia sudah bukan lagi bagian dari PDIP setelah dipecat. Sebaiknya Jokowi lebih fokus membangun PSI dengan mengedepankan politik etis dan gagasan yang cerdas,” pungkas Jerry.
Ia memberikan peringatan keras bahwa upaya meracuni atau membajak kader PDI Perjuangan bukan hanya akan dianggap sebagai langkah politik yang tidak rasional, melainkan juga sebuah bentuk pengkhianatan terhadap partai yang telah menjadi kendaraan utama yang membesarkan nama Joko Widodo di panggung politik nasional.
(Red)















