Darah Pejuang dalam Keluarga Djojohadikusumo, Gugur Diusia 16

Darah Pejuang dalam Keluarga Djojohadikusumo, Gugur Diusia 16

Sejarah, – Temporatur.com || Di balik semangat juang para pahlawan muda Republik, tersimpan kisah haru dari dua pemuda gagah berdarah bangsawan, Subianto Djojohadikusumo dan Sujono Djojohadikusumo dua paman dari Presiden RI Prabowo Subianto. Mereka gugur muda dalam pertempuran bersejarah di Lengkong, Serpong, di bawah komando Mayor Daan Mogot, sang pelatih militer legendaris Indonesia.

Nama “Subianto” yang kini melekat pada sosok Prabowo bukanlah kebetulan. Nama itu diambil dari pamannya sendiri, Kapten Anumerta Subianto Djojohadikusumo, yang bersama sang adik, Taruna Sujono Djojohadikusumo, gugur mempertahankan kemerdekaan hanya beberapa bulan setelah Republik berdiri.

Keduanya adalah putra dari Sumitro Djojohadikusumo, ayah Prabowo, yang juga seorang ekonom pejuang bangsa. Dalam darah keluarga ini mengalir semangat pengabdian pada tanah air sebuah tradisi luhur yang telah berakar sejak masa revolusi.

Pertempuran ini terjadi pada 25 Januari 1946 di wilayah Lengkong, Tangerang Selatan. Saat itu, Mayor Elias Daan Mogot, perwira muda berusia hanya 16 tahun yang sudah menjabat sebagai direktur Militaire Academi Tangerang (MAT), memimpin misi berbahaya untuk mengambil alih senjata dari markas tentara Jepang agar tidak jatuh ke tangan Belanda dan KNIL yang tengah berupaya menguasai kembali Indonesia.

Pasukan Daan Mogot berangkat dengan 70 kadet MAT dan 8 tentara Gurkha, membawa semangat membara untuk mempertahankan kemerdekaan yang baru seumur jagun.

Sore itu, sekitar pukul 16.00, rombongan tiba di markas Jepang. Dengan keberanian luar biasa, Mayor Daan Mogot bersama beberapa perwira memasuki kantor militer Jepang untuk bernegosiasi. Sementara di luar, Lettu Subianto Djojohadikusumo dan Lettu Soetopo tanpa menunggu hasil perundingan, mengambil langkah cepat melucuti senjata tentara Jepang dan mengumpulkannya.

Bacaan Lainnya

Namun, takdir berkata lain. Letusan senjata mendadak terdengar, memicu kepanikan. Tentara Jepang yang mengira sedang dijebak langsung membalas tembakan secara membabi buta. Pertempuran sengit pun pecah para taruna muda melawan prajurit Jepang yang berpengalaman dan bersenjata lengkap.

Paman Prabowo, Lettu Soebianto Djojohadikusumo, meninggal dunia saat pertempuran pada usia 21 tahun di Serpong, Tangerang pada 25 Januari 1946. Pamannya yang lain, Taruna Soejono, juga gugur dalam pertempuran pada usia 16 tahun.

Suara tembakan memenuhi udara. Di bawah desingan peluru, Daan Mogot, Subianto, dan Sujono bertempur habis-habisan dengan keberanian luar biasa. Tapi jumlah dan kekuatan tidak berpihak pada mereka. Saat senja tiba, banyak prajurit MAT gugur, termasuk dua paman Prabowo yang masih berusia 16 tahun.

Malam itu, tanah Lengkong menjadi saksi bisu atas pengorbanan 36 pejuang muda Republik.

“Kepemimpinan Militer: Catatan dari Pengalaman Letnan Jenderal TNI (Purn) Prabowo Subianto,” sang Menhan menceritakan bahwa kisah Daan Mogot dan dua pamannya adalah pelajaran abadi tentang patriotisme dan idealisme.

Kisah ini bukan sekadar lembar sejarah, tetapi cermin jiwa perjuangan anak bangsa yang rela mengorbankan segalanya demi Merah Putih.

Kini, nama-nama mereka Mayor Daan Mogot, Kapten Subianto, dan Kadet Sujono Djojohadikusumo abadi dalam sejarah sebagai pahlawan muda Republik. Mereka adalah simbol keberanian, pengabdian, dan kesetiaan pada sumpah kemerdekaan.

Dari darah mereka, lahir generasi penerus seperti Prabowo Subianto, yang terus membawa api perjuangan itu ke masa kini menjaga bangsa, melanjutkan semangat para pendahulu yang gugur dengan kepala tegak.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *