Dedi Mulyadi Tegaskan Perbedaan Filosofi Sastra dan Mantra
Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, menepis anggapan bahwa filosofi sastra dan mantra memiliki kesamaan. Hal ini disampaikan langsung oleh Dedi Mulyadi dalam sebuah acara kebudayaan di Bandung, yang menekankan pentingnya menjaga adat istiadat Pasundan tanpa mencampuradukkan kedua konsep tersebut yang sungguh dari Akun TikTok KDM, Minggu 04//05/2025.
“Filosofi sastra adalah nilai-nilai kehidupan yang mendalam dan memuat ajaran moral, sementara mantra lebih kepada unsur mistis yang bersifat spiritual,” ujar Dedi Mulyadi di hadapan para peserta acara.
Dedi juga menambahkan bahwa sebagai putra Pasundan, dirinya memiliki tanggung jawab besar untuk melestarikan adat istiadat dan nilai-nilai budaya Sunda yang kaya akan filosofi sastra. Menurutnya, adat istiadat Pasundan harus terus dijaga sebagai identitas yang tidak tergantikan.
Ali Sopyan Rajawali, seorang tokoh budaya Sunda yang turut hadir dalam acara tersebut, memuji pemahaman Kang Dedi terhadap filosofi sastra Pasundan.
“Kang Dedi Mulyadi sangat memahami filosofi sastra Pasundan. Ia tegas dalam menjaga adat istiadat tanpa terpengaruh oleh unsur-unsur yang bertentangan dengan nilai budaya kita,” ujar Ali Sopyan.
Pernyataan ini mendapat apresiasi dari berbagai pihak yang melihat langkah Dedi Mulyadi sebagai upaya nyata dalam melindungi kekayaan budaya Jawa Barat dari pengaruh yang dapat merusak kemurniannya. **
(ER/Red)















