Temporatur.com
Opini Politik- Berdasarkan daftar pemilih tetap (DPT) yang telah ditetapkan KPU, jumlah pemilih generasi muda ini mencapai sekitar 56 persen.
dengan rincian; pemilih generasi milenial mencapai 66.822.389 atau 33,6 persen dan pemilih generasi Z mencapai 46.800.161 atau 22,85 persen.
Jadi wajar dan masuk logika jika Capres Prabowo menggandeng Cawapresnya dari kaum muda (Milenial) seperti sosok Gibran Rakabumi yang kini menjabat Walikota Solo.
Gibran selain Walikota Solo juga merupakan anak sulung Presiden Jokowi akan menjadi daya tarik sendiri, hal itu sangat wajar dan masuk akal secara hitungan politik bisa menjadi presentasi kaum anak muda sehingga akan menggairahkan para calon pemilih milenial untuk ikut partisipasinya dalam pemilu 2024 nanti.
Terlebih di era presiden jokowi dalam kepemimpinan mendapatkan nilai kepuasan publik hingga 80 persen, hal ini menunjukan nilai kepercayaan atas kepemimpinan Jokowi akan berimbas kepada kepercayaan publik terhadap keluarga dan anak anaknya yang juga mengikuti jejak politik ayahnya.
Kemunculan Gibran sendiri di dunia politik sejak pencalonan walikota solo hingga kini digadang gadang akan diduetkan dengan Prabowo Subianto dalam Pilpres nanti, sejak awal menjadi tranding topik dan menjadi bahan diskusi yang menarik oleh para pengamat politik dan para politikus di tanah air.
Bahkan Gibran sendiri sejak awal terus di bully dan di hina sebagai politikus karbitan, bocah ingusan dan dinasti politik, namun dengan santai Gibran mengatakan semua di serahkan kepada penilaian warga (masyarakat yang pemilih), dan dia sendiri menanggapi dengan santai dan santuy.
Bak gaya sang marketing handal, Gibran semakin di bully dan semakin jadi bahan diskusi pro dan kontra dalam sejumlah acara di televisi maupun media sosial justru itulah kekuatan dia yang akan semakin populer dan bahkan bisa lebih populer dari nama besar ayahnya sendiri seorang presiden.
Semua orang terfokus dan terhipnotis kepada sosok Gibran hal ini mengingatkan kita semua akan sepak terjang ayahnya kala itu masih menjadi walikota solo hingga jadi Gubernur DKI dan Presiden RI yang selaku jadi pusat perhatian masyarakat luas dengan segala kekurangan dan kelebihan nya dalam memimpin bangsa ini.
Tinggal sekarang bagaimana Gibran sendiri mau apa tidak menerima pinangan Prabowo untuk dampinginya jadi Cawapresnya.
Karena bagaimanapun Gibran sekarang ini adalah selain anak Presiden Jokowi bintang Kader utama PDIP juga dia Walikota Solo yang maju dari PDIP juga.
Jangan-jangan ini langkah khayalan dan keinginan sepihak dari Prabowo yang ingin mendapatkan simbol dukungan penuh rakyat atas nilai kepuasan dan kepercayaan kepada presiden Jokowi selama ini hingga capai 80 persen nilai kepuasan publik dan di dukung oleh data KPU terhadap partisipasi pemilih kaum muda (milenial) mencapai 58 persen data pemilih tetap nya agar menjadi pemilih aktif menjadikan Gibran sebagai simbol perwakilan kaum muda yang dianggap pas untuk dongkrak suara kemenangan prabowo di pencalonan Presiden yang ke tiga kalinya ini.
Hem …..tinggal bagaimana sikap Gibran sendiri mau menerima pinangan Prabowo dan siap meninggalkan PDIP yang selama ini menjadi rumah politik membesarkan nama dan menghantarkan ayahnya sampai kepada prestasi puncak tinggi kekuasaan dalam perjalanan politiknya sampai menjadi presiden hingga dua periode lamanya.
Dan menghantarkan dirinya sebagai Walikota Solo atas rekomendasi Ketua Umum PDIP Megawati.
Dan akankah terjadi duet maut Prabowo Subianto dan Gibran Rakabumi.?
Dan jika benar sosok Gibran atas keberanian dia keluar dari PDIP dan dapat Restu Jokowi untuk bergabung bersama Prabowo ini akan menjadi pro dan kontra berdampak terjadinya perpecahan di kubu PDIP itu sendiri.
Dan yang diuntungkan pihak Prabowo mendapatkan dukungan penuh dari para royalitas pendukung Jokowi dan kaum milenial,namun hal itu belum tentu menang kalau ada serangan politik lagi dari kubu lawannya dengan memanfaatkan isu keputusan MK lebih berpihak kepada Gibran, serta isu isu lainya yang akan menjatuhkan kredibilitas Prabowo dan Gibran sendiri sehingga akan menggiring opini publik dan sampai masyarakat terpengaruh akan berakibat fatal terjadi kekalahan.
Serta resiko terbesarnya kalau pasangan Prabowo dan Gibran yang kalah justru yang diuntungkan adalah Pasangan Ganjar dan Mahmud MD dan juga Pasangan Anis dan Muhaimin (Amin) karena tidak memanfaatkan perebutan dukungan dari para royalitas Jokowi, karena mereka di nilai punya basis suara masing- masing namun tetap fokus dengan target merangkul suara Nasionalis dan warga NU sebanyak banyaknya dan warga umat islam lainya.
Penulis :Heru Budian Timor
Sumber data dilansir dari bebagai sumber.















