Kemarau Panjang, Warga Ridogalih Bekasi Kesulitan Air Bersih
- account_circle Putri Susilawati Awaludin
- calendar_month 47 menit yang lalu
- print Cetak

Keterangan foto : akibat kekeringan warga Ridogalih antre air bersih
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Kemarau Panjang, Warga Ridogalih Bekasi Kesulitan Air Bersih
BEKASI — TEMPORATUR.COM
Kemarau panjang yang melanda Desa Ridogalih, Kecamatan Cibarusah, Kabupaten Bekasi, berdampak pada ketersediaan air bersih bagi masyarakat. Musim kemarau yang dapat berlangsung hingga sekitar tujuh bulan membuat sejumlah sumber air mengalami penurunan debit, bahkan mulai mengering.
Kondisi tersebut terutama dirasakan warga Dusun 3, meliputi Kampung Cihoe, Kampung Korod, dan Kampung Cihanjung. Masyarakat di wilayah tersebut harus mencari alternatif untuk memenuhi kebutuhan air sehari-hari, mulai dari memasak, mandi, mencuci, hingga menjaga kebersihan lingkungan.
Bagi warga, keterbatasan air bersih bukan sekadar dampak perubahan cuaca, melainkan persoalan yang berkaitan langsung dengan pemenuhan kebutuhan dasar rumah tangga.
Pada awal musim kemarau, sejumlah sumber air masih dapat dimanfaatkan. Namun, seiring berkurangnya curah hujan, persediaan air terus menyusut sehingga warga harus menyesuaikan diri dengan kondisi tersebut.
Warga Berharap Distribusi Air Bersih Merata
Salah seorang warga, Arum, mengatakan bahwa kemarau panjang membuat masyarakat kesulitan memenuhi kebutuhan air bersih. Ketika persediaan air mulai habis, warga terpaksa mencari sumber lain, bahkan terkadang harus membeli air untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga.
“Kalau musim kemarau, kami cukup kesulitan mendapatkan air bersih untuk kebutuhan sehari-hari. Air dibutuhkan setiap hari, mulai dari memasak, mandi, sampai mencuci. Kalau persediaan air mulai habis, kami harus mencari cara lain untuk mendapatkan air, bahkan terkadang harus membeli,” ujar Arum, Kamis, 14/10/2026.
Ia berharap bantuan air bersih dapat disalurkan secara merata, terutama kepada warga yang paling membutuhkan.
“Kami berharap bantuan air bersih bisa dibagikan secara merata, karena masih ada warga yang membutuhkan. Semoga ke depannya ada solusi supaya kami tidak terus mengalami kesulitan air setiap musim kemarau,” katanya.
Keluhan tersebut menunjukkan pentingnya pemetaan kebutuhan air bersih secara menyeluruh agar bantuan dapat menjangkau masyarakat yang terdampak.
Pemerintah Diharapkan Menyiapkan Penanganan Berkelanjutan
Kondisi yang dialami warga Ridogalih membutuhkan perhatian pemerintah desa, Pemerintah Kabupaten Bekasi, serta instansi terkait. Penanganan jangka pendek dapat dilakukan melalui pendataan warga terdampak dan distribusi air bersih sesuai kebutuhan di lapangan.
Selain bantuan darurat, upaya jangka panjang juga diperlukan untuk mengurangi risiko kekeringan yang berulang setiap tahun. Langkah tersebut dapat mencakup pemetaan sumber air, pembangunan sarana penampungan, pengembangan infrastruktur penyediaan air bersih, serta perlindungan kawasan resapan air.
Perencanaan perlu disesuaikan dengan kondisi geografis dan kebutuhan masyarakat di setiap wilayah. Dengan demikian, penanganan kekeringan tidak hanya dilakukan ketika krisis terjadi, tetapi juga diarahkan untuk memperkuat ketahanan air masyarakat.
Koordinasi antara pemerintah dan masyarakat juga diperlukan untuk memantau kondisi sumber air, mendata jumlah keluarga yang membutuhkan bantuan, serta mengidentifikasi wilayah yang belum memiliki akses terhadap sumber air alternatif.
Ketahanan Air Menjadi Tantangan bagi Wilayah Terdampak
Kemarau panjang di Desa Ridogalih menjadi pengingat pentingnya ketersediaan infrastruktur air bersih dalam mendukung kehidupan masyarakat. Ketika sumber air mengalami penurunan debit, keluarga yang bergantung pada sumber tersebut menjadi kelompok yang paling merasakan dampaknya.
Kampung Cihoe, Kampung Korod, dan Kampung Cihanjung menjadi wilayah yang perlu mendapat perhatian dalam upaya mengantisipasi dampak musim kemarau.
Penanganan yang terencana, merata, dan berkelanjutan diharapkan mampu mengurangi beban masyarakat sekaligus meminimalkan risiko krisis air bersih pada musim kemarau berikutnya.
Bagi warga Ridogalih, persoalan air bersih bukan hanya tentang bertahan menghadapi musim kering, tetapi juga tentang kepastian terpenuhinya kebutuhan dasar. Karena itu, langkah nyata dari pihak terkait diperlukan agar masyarakat memiliki akses air bersih yang lebih memadai, baik saat musim kemarau maupun sepanjang tahun.**
Penulis: Putri Susilawati Awaludin
Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung Program Studi Sastra Inggris
Kategori: Feature/Liputan Sosial
- Penulis: Putri Susilawati Awaludin
- Editor: Sudarmo
- Sumber: https://temporatur.com/



Saat ini belum ada komentar