Breaking News
light_mode
Beranda » Kota Bandung » Merawat yang Terlantar, Mengembalikan Harapan di Rumah Singgah Dinsos Bandung

Merawat yang Terlantar, Mengembalikan Harapan di Rumah Singgah Dinsos Bandung

  • account_circle Suryo Sudharmo
  • calendar_month 2 jam yang lalu
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

TEMPORATUR.COM

‎‎Terima kasih sudah menganggap saya manusia.

‎Kalimat itu masih diingat Cici Feby Retnowati, Koordinator Care Giver UPTD Rumah Singgah Dinas Sosial Kota Bandung. Kalimat tersebut ditulis seorang klien (sebutan untuk penghuni) bernama Bahtiar di dinding rumah singgah.

‎‎Bagi Cici, tulisan itu menjadi salah satu kenangan paling membekas selama bekerja di rumah singgah sejak 2019.

‎‎Bahtiar ketika itu berusia sekitar 31 tahun. Ia datang setelah tiga kali gagal menikah membuat kondisi psikologisnya menurun. Setelah menjalani pengobatan di rumah sakit, ia justru ditolak keluarganya dan akhirnya dibawa ke rumah singgah.

‎‎Dia mengakui, ‘Saya orang gila, Bu. Ibu jangan berteman dengan saya.’ Saya bilang, enggak ada yang bilang Bapak orang gila, Bapak cuma sedang sakit,  tutur Cici.

‎‎Perlahan, pendekatan itu membuat Bahtiar kembali membuka diri. Cici mengajaknya berbicara dan melibatkannya dalam berbagai kegiatan. Hingga akhirnya Bahtiar mendapat kesempatan mengikuti pelatihan bengkel motor selama tiga bulan.

‎‎Sekembalinya dari pelatihan, Bahtiar datang menemui Cici dengan penuh semangat. Ia membawa sertifikat yangll diperolehnya.

‎‎Bu, saya sudah lulus. Nilainya B, kata Bahtiar, seperti dikenang Cici.

‎‎Cici kemudian mendorongnya untuk pulang menemui keluarga. Saat itu bertepatan dengan momentum Lebaran. Bahtiar membawa sertifikat dan perlengkapan yang didapatkannya dari pelatihan dengan harapan dapat memulai kembali kehidupannya.

‎Namun, harapan itu kembali runtuh.

‎‎Tiga hari kemudian, Bahtiar datang lagi ke rumah singgah dalam kondisi depresi. Ia tidak mau makan, lebih banyak berbaring, tidak mau mandi hingga buang air di tempat tidur.

‎Ketika petugas lain kesulitan membujuknya, Bahtiar hanya ingin dirawat oleh Cici.

‎‎Akhirnya Cici memandikannya, mengenakan pakaian yang lebih baik dan mencoba membangkitkan semangatnya.

‎‎Sekarang mandi dulu. Harus sehat dulu, kata Cici ketika itu.

‎‎Keesokan harinya, Bahtiar meninggal dunia.

‎‎Di dinding rumah singgah, Bahtiar juga meninggalkan tulisan terima kasih kepada petugas yang telah merawatnya. Ia menyebut nama Cici dan seorang petugas lainnya.

‎‎Bagi Cici, pengalaman bersama Bahtiar menjadi salah satu kenangan paling membekas selama bekerja di Rumah Singgah sejak 2019. Sebagai Koordinator Care Giver, ia bersama 11 orang lainnya, memang dekat dengan keseharian para penghuni Rumah Singgah, mulai dari bangun tidur hingga kembali beristirahat.

‎Kita mendampingi dari bangun sampai tidur. Mulai dari makan, mandi, buang air, ganti pakaian, minum obat, sampai kalau ada yang harus ke fasilitas kesehatan, kita dampingi, ujar Cici di Gedung UPTD Rumah Singgah Dinas Sosial Kota Bandung, Rabu 7 Oktober 2026.

‎‎Ia dan tim mendampingi klien yang memiliki tingkat ketergantungan berbeda. Ada yang masih mampu melakukan aktivitas sendiri, ada yang membutuhkan bantuan sebagian, hingga mereka yang sepenuhnya bergantung kepada orang lain untuk makan, mandi, berganti pakaian, minum obat maupun mendapatkan pelayanan kesehatan.

‎‎Menurut Cici, persoalan yang dibawa para penghuni Rumah Singgah tidak selalu soal kondisi fisik. Banyak di antara mereka datang dengan luka psikologis dan persoalan sosial yang membuat mereka merasa ditolak, bahkan merasa sebagai orang buangan

‎‎Karena itu, pendekatan yang dilakukan tidak bisa disamaratakan. Cici berusaha memperlakukan mereka sebagai manusia yang setara. Cara berkomunikasi pun disesuaikan dengan karakter dan latar belakang masing-masing.

‎‎Kita tidak boleh membuat mereka merasa lebih rendah. Kita anggap mereka sama seperti kita. Cara komunikasinya juga kita sesuaikan,  katanya.

‎‎Baginya, kebahagiaan terbesar dalam pekerjaan itu adalah ketika melihat seseorang yang semula kehilangan harapan perlahan kembali percaya kepada dirinya sendiri dan mampu menjalani kehidupan dengan lebih mandiri.

‎‎Sebaliknya, hal yang paling berat adalah ketika seorang klien meninggal sebelum sempat kembali bertemu keluarganya atau menyelesaikan persoalan dengan orang-orang terdekatnya.

‎‎Sedihnya ketika mereka meninggal sebelum bisa bertemu keluarganya, atau keluarganya enggak datang untuk mengurus. Kita sudah berusaha mendampingi, tapi ternyata waktunya enggak sampai mereka kembali ke keluarga,  ucap Cici.

‎‎Dari pengalaman tersebut, Cici memegang satu keyakinan yang terus ia bawa dalam pekerjaannya.

‎‎Menolong orang lain sama dengan menolong diri sendiri.

‎‎Pengalaman mendampingi Bahtiar dan penghuni lainnya menunjukkan bahwa pekerjaan di Rumah Singgah bukan hanya soal memenuhi kebutuhan sehari-hari.

‎‎Di balik setiap orang yang datang, ada persoalan yang harus dipahami terlebih dahulu sebelum menentukan ke mana mereka akan dibawa setelahnya.

‎‎Di titik itulah peran pekerja sosial menjadi penting. Jika Care Giver berada paling dekat dengan aktivitas keseharian klien, pekerja sosial melihat persoalan tersebut dalam konteks yang lebih luas: apa yang menjadi masalahnya, apa yang dibutuhkan, siapa yang dapat membantu, dan bagaimana seseorang dapat kembali menjalankan fungsi sosialnya.

‎‎Salah satunya dilakukan Irfan Ahmad Nugraha, Pekerja Sosial UPTD Rumah Singgah Dinas Sosial Kota Bandung. Irfan telah bekerja sebagai pekerja sosial sejak Januari 2016.

‎‎Menurutnya, pekerja sosial adalah profesi humanistik yang tidak cukup hanya mengandalkan niat baik. Seorang pekerja sosial membutuhkan pengetahuan, nilai, dan keterampilan untuk memahami persoalan seseorang sekaligus menentukan intervensi yang tepat.

‎Karena itu, ketika seseorang datang ke Rumah Singgah, prosesnya tidak berhenti pada menerima dan menyediakan tempat tidur. Ada asesmen.

‎‎Pekerja sosial mencoba mengetahui siapa orang tersebut, apa masalahnya, bagaimana kondisi keluarganya, kebutuhannya, dan layanan yang paling mungkin membantunya.

‎‎Seseorang bisa datang melalui berbagai jalan. Ada yang datang sendiri, ditemukan dalam penjangkauan, dilaporkan masyarakat, dirujuk pemerintah, rumah sakit, kepolisian, maupun unsur kewilayahan.

‎‎Setelah diterima, mereka melalui proses asesmen, mendapatkan penjelasan mengenai hak dan kewajiban, memperoleh intervensi sesuai kebutuhan, hingga kemudian dirujuk atau menjalani terminasi.

‎‎Karena itu, pekerjaan Irfan sering kali menjadi jembatan antara seseorang yang sedang berada dalam situasi rentan dengan sistem layanan yang mungkin bisa membantunya.

‎‎Jika masalahnya berkaitan dengan kesehatan, ia berkoordinasi dengan fasilitas kesehatan. Jika berkaitan dengan administrasi kependudukan, ia berkoordinasi dengan Disdukcapil. Jika membutuhkan pendidikan, ada koordinasi dengan Dinas Pendidikan. Jika membutuhkan rehabilitasi sosial lanjutan, klien dapat dirujuk ke panti atau sentra milik Kementerian Sosial.

‎‎Bahkan ketika seseorang datang tanpa identitas, pekerja sosial harus berusaha mencari tahu siapa dirinya. Koordinasi dengan Disdukcapil dapat dilakukan melalui data biometrik untuk membantu menemukan identitas dan asal-usulnya. Setelah itu, pekerja sosial dapat berkoordinasi dengan daerah asal untuk menelusuri kemungkinan keluarga.

‎‎Namun, menemukan keluarga tidak selalu berarti menemukan rumah. Ada keluarga yang tidak mau menerima kembali. Keterbatasan tempat rujukan juga membuat sebagian klien harus tinggal lebih lama di Rumah Singgah.

‎‎Dalam kondisi tertentu, pekerja sosial bahkan harus menjalankan peran lebih jauh untuk memastikan klien tetap mendapatkan perlindungan dan pelayanan yang dibutuhkan.

‎‎Kalau keluarga menolak, kita edukasi dulu. Kita jelaskan pentingnya keluarga dalam proses pemulihan. Kalau memang sudah tidak memungkinkan, baru kita cari alternatif rujukan ke panti atau sentra, katanya.

‎‎Di Rumah Singgah, pekerja sosial dan Care Giver bekerja beriringan dalam satu rangkaian pelayanan. Pekerja sosial menangani aspek sosial dan perencanaan intervensi, sementara Care Giver mendampingi kebutuhan sehari-hari, termasuk aspek fisik dan perawatan.

‎‎Di balik pekerjaan tersebut, ada banyak cerita tentang orang-orang yang ingin kembali kepada keluarga, tetapi belum menemukan jalan pulang.

‎‎Ada pula mereka yang harus menunggu lebih lama karena belum tersedia layanan lanjutan yang sesuai.

‎Kepala UPTD Rumah Singgah Dinas Sosial Kota Bandung, Handiyan menjelaskan, UPTD Rumah Singgah merupakan tempat penanganan bagi Pemerlu Pelayanan Kesejahteraan Sosial (PPKS) yang terlantar dan membutuhkan penanganan sebelum dirujuk ke sistem layanan yang sesuai.

‎‎Setiap klien terlebih dahulu diidentifikasi untuk memastikan kebutuhan dan kondisi sosialnya. Setelah itu dilakukan asesmen untuk menghasilkan laporan sosial.

‎‎Menurut Handiyan, laporan sosial tersebut menjadi salah satu produk penting Rumah Singgah karena menjadi dasar bagi lembaga tujuan untuk menentukan apakah seorang klien dapat diterima dan layanan apa yang paling sesuai.

‎‎Highlight-nya sebenarnya asesmen, kata Handiyan.

‎‎Layanan yang diberikan di Rumah Singgah merupakan rehabilitasi sosial dasar. Mulai dari kebutuhan makan, pakaian, tempat tidur, konseling, asesmen, pemeriksaan kesehatan, hingga pengantaran atau pendampingan ketika klien harus dirujuk.

‎‎Tiga bangunan digunakan sebagai tempat tinggal para klien. Di dalamnya, berbagai kelompok PPKS dapat berada dalam satu lingkungan sehingga identifikasi kondisi kesehatan dan kebutuhan masing-masing menjadi bagian penting dari pelayanan.

‎‎Handiyan mengatakan, Rumah Singgah juga memberikan bimbingan fisik, mental, dan spiritual.

‎‎Idealnya, seorang klien tidak tinggal terlalu lama. Namun, dalam praktiknya, sebagian penghuni dapat menetap lebih panjang karena belum menemukan sistem rujukan yang tepat.

‎‎Sepanjang Januari hingga Oktober 2026, UPTD Rumah Singgah telah menangani 1.062 klien dengan rata-rata lama tinggal sekitar 23 hari.

‎‎Handiyan menilai keluarga dan masyarakat memiliki peran yang sama pentingnya dalam memastikan seseorang yang mengalami persoalan sosial tetap mendapatkan tempat, perhatian dan kesempatan untuk kembali menjalankan kehidupannya.

‎Menurutnya, tujuan akhir dari seluruh proses rehabilitasi sosial bukanlah membuat seseorang terus berada di Rumah Singgah, melainkan mengembalikan mereka agar dapat diterima dan kembali di tengah keluarga dan masyarakat.

‎‎‎Diskominfo Kota Bandung

‎‎( Andi S )

  • Penulis: Suryo Sudharmo

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

expand_less