Breaking News
light_mode
Beranda » Berita Jatim » Bedah Sejarah Sapudi: Lontar Kuno, Prasasti Pegon hingga Watu Gong Buka Misteri Masa Lampau

Bedah Sejarah Sapudi: Lontar Kuno, Prasasti Pegon hingga Watu Gong Buka Misteri Masa Lampau

  • account_circle VANNI HERADIKAH,S.Sos
  • calendar_month 4 menit yang lalu
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

SUMENEP, Temporatur.Com — Pulau Sapudi, Kabupaten Sumenep, Madura, tidak hanya menyimpan cerita masyarakat dan tradisi yang berkembang hingga kini.

Di balik bentang alamnya, sejumlah temuan artefak, struktur batu, gua serta toponimi wilayah disebut menyimpan jejak sejarah panjang yang menarik untuk diteliti lebih lanjut.

Hal tersebut disampaikan dalam kegiatan Bedah Sejarah Sepudi yang digelar di wilayah Kecamatan Gayam Bertempat di Gor Gayam, Sabtu (26/9/2026).

Salah satu hal yang menjadi perhatian adalah keberadaan sejumlah artefak yang diduga berkaitan dengan masa megalitik. Narasumber menyebut, terdapat temuan berupa batu karang keras yang telah dibentuk secara sangat halus menyerupai yoni.

Menurutnya, keberadaan benda tersebut menarik karena material batu karang yang digunakan tergolong keras, sementara bentuk akhirnya menunjukkan pengerjaan yang cukup rapi.

“Batu karang itu sendiri sangat keras sekali batunya, tetapi membentuk bentuk batunya sangat halus sekali. Mungkin masyarakat sekarang sulit untuk membentuk batu seperti itu,” ungkap Sigit Hariadi Speleolog.

Ia menilai, temuan tersebut perlu mendapatkan perhatian lebih serius melalui penelitian arkeologis sehingga dapat diketahui fungsi, usia, serta konteks sejarahnya.

Gua di Asta belingi Disebut Menyimpan Potensi Sejarah dan Mitigasi
Selain artefak, perhatian juga diarahkan pada keberadaan sebuah gua di kawasan belakang Asta Belingi.

Narasumber Speleolog Sigit Hariadi menjelaskan bahwa ketika memasuki gua tersebut, ia menemukan kondisi lingkungan yang dinilai menarik.

Salah satunya keberadaan pohon besar yang tetap hijau meskipun saat itu memasuki musim kemarau.

Kondisi tersebut kemudian dianggap sebagai indikasi awal kemungkinan adanya sumber air di bawah kawasan tersebut. Namun, dugaan itu menurutnya masih membutuhkan penelitian lebih lanjut dengan peralatan dan metode yang lebih memadai.

Di dalam gua, ia juga melihat susunan batu yang menurut pengamatannya tampak seperti memiliki keteraturan tertentu.

“Susunan batu-batu di dalamnya seolah-olah tertata oleh tangan manusia,” katanya.

Bahkan, pada bagian yang sempat dimasukinya sekitar 20 meter, terdapat susunan batu yang menyerupai pijakan atau tangga sehingga relatif mudah dilewati.

Meski demikian, dugaan mengenai adanya campur tangan manusia dalam penataan batu tersebut masih perlu dibuktikan melalui penelitian arkeologi.

Gua Berpotensi Dikaji untuk Mitigasi Bencana
Keberadaan gua tersebut juga dikaitkan dengan potensi mitigasi bencana, khususnya gempa bumi.

Narasumber Sigit Hariadi menyebut pernah mendapatkan informasi bahwa kawasan tersebut pernah mengalami gempa.

Namun, berdasarkan pengamatannya saat berada di dalam gua, tidak terlihat banyak rontokan atau pecahan batu yang menunjukkan kerusakan serius.

Karena itu, ia mengusulkan agar gua tersebut dikaji lebih lanjut, terutama mengenai panjang, luas, struktur batuan, kestabilan, serta kapasitas ruangnya.

Menurutnya, apabila secara geologi dinyatakan aman, gua tersebut berpotensi menjadi salah satu objek yang dapat dipelajari dalam konteks mitigasi bencana.

Namun, aspek keselamatan tetap menjadi syarat utama. Gua tidak dapat langsung digunakan sebagai tempat perlindungan masyarakat sebelum dilakukan kajian geologi dan keselamatan oleh pihak yang berkompeten.

Dikaitkan dengan Kisah Ashabul Kahfi
Dalam pemaparannya, narasumber Sigit juga menghubungkan keberadaan gua dengan perspektif keagamaan, khususnya kisah Ashabul Kahfi yang dikenal dalam Al-Qur’an melalui Surah Al-Kahfi.

Ia kemudian menyampaikan ketertarikannya terhadap kondisi lingkungan gua dan kemungkinan adanya faktor alam tertentu yang dapat memengaruhi kondisi material maupun biologis di dalamnya.

Namun, sejumlah penjelasan mengenai oksigen, mineral, proses tubuh manusia dan kemungkinan bertahannya manusia dalam gua selama ratusan tahun merupakan hipotesis yang masih membutuhkan pembuktian ilmiah.

Kisah Ashabul Kahfi sendiri merupakan bagian dari ajaran agama dan tidak dapat disamakan begitu saja dengan hipotesis ilmiah mengenai kondisi gua.

Toponimi Sapudi Dinilai Menyimpan Petunjuk Sejarah
Tidak hanya benda dan situs, nama-nama wilayah di Pulau Sapudi juga menjadi perhatian.

Toponimi atau asal-usul nama tempat dinilai dapat menjadi salah satu petunjuk awal untuk menelusuri sejarah suatu kawasan.

Salah satunya adalah nama Banyu Glugur. Istilah tersebut dikaitkan dengan keberadaan air yang jatuh atau aliran air pada masa sebelumnya.

Dugaan tersebut kemudian membuka kemungkinan adanya perubahan lingkungan yang menyebabkan sumber air di kawasan tersebut berkurang atau berhenti mengalir.

“Toponimi itu adalah nama sebuah wilayah yang pasti ada sebuah proses sejarah juga di situ,” ujarnya.

Meski demikian, hubungan antara nama tempat dengan peristiwa sejarah tertentu tetap perlu diperkuat melalui penelitian lapangan, penelusuran sumber sejarah, cerita masyarakat, serta kajian lingkungan.

Watu Gong Disebut Menjadi Petunjuk Peradaban Lama
Temuan lain yang menarik perhatian adalah keberadaan Watu Gong di Pulau Sapudi.

Narasumber sigit menyebut keberadaan benda tersebut sebagai salah satu indikasi yang perlu diteliti untuk mengetahui kemungkinan usia dan konteks peradabannya.

Ia memperkirakan secara awal bahwa benda tersebut dapat berusia ribuan tahun, bahkan menyebut angka sekitar 5.000 tahun.

Namun, ia juga menegaskan bahwa perkiraan tersebut belum didukung oleh proses peninggalan ilmiah.
Penentuan usia artefak, terutama batu, tidak dapat dilakukan hanya berdasarkan bentuk atau pengamatan visual.

Diperlukan metode penelitian arkeologi dan geologi yang sesuai untuk mendapatkan estimasi usia yang dapat dipertanggungjawabkan.

Sapudi dan Pertanyaan Besar tentang Peradaban Masa Lampau
Berbagai temuan tersebut akhirnya membuka pertanyaan yang lebih besar: seberapa tua sebenarnya jejak peradaban manusia di Pulau Sapudi?

Artefak, yoni, Watu Gong, gua, struktur batu, sumber air serta toponimi yang tersebar di sejumlah wilayah Sapudi menjadi bahan awal yang dapat ditelusuri lebih jauh.

Narasumber menegaskan bahwa dirinya masih perlu kembali melakukan penelusuran untuk memastikan berbagai temuan yang sebelumnya belum banyak diperhatikan masyarakat.

Jika nantinya penelitian arkeologi dapat membuktikan usia, fungsi dan keterkaitan antarsitus tersebut, Pulau Sapudi berpotensi memiliki catatan sejarah yang jauh lebih panjang daripada yang selama ini dikenal masyarakat.

Karena itu, temuan-temuan tersebut dinilai tidak cukup hanya menjadi cerita lisan. Diperlukan dokumentasi, pemetaan, penelitian arkeologi, kajian geologi, serta pelibatan masyarakat setempat agar jejak masa lalu Sapudi dapat dipahami berdasarkan bukti ilmiah.

Sejarah Sapudi mungkin belum selesai ditulis. Justru, batu-batu tua, gua, nama tempat dan artefak yang selama ini dianggap biasa bisa menjadi awal untuk membuka lembaran peradaban yang lebih tua di Pulau Garam.

Menurut Penjelasan Narasumber ke dua Agustin Ariani sebagai Filologi Jejak peradaban masa lalu di Pulau Sapudi, Kabupaten Sumenep, Madura, kembali menjadi perhatian.

Tidak hanya melalui keberadaan artefak dan situs kuno, tetapi juga melalui temuan naskah dan aksara yang disebut menyimpan informasi penting tentang perjalanan sejarah masyarakat Nusantara.

Dalam kegiatan Bedah Sejarah Sepudi, salah seorang peneliti menyampaikan pandangannya mengenai keberadaan aksara kuno serta pentingnya melihat kembali sejarah Nusantara melalui sumber-sumber yang selama ini belum banyak dikaji.

Ia mengaku kurang sependapat apabila masyarakat Nusantara pada masa lampau disebut sebagai masyarakat yang buta huruf.

“Kita sudah membaca aksara itu. Jadi saya kurang setuju kalau kita disebut buta huruf. Kita sudah bisa membaca sejak ratusan tahun yang lalu,” ungkapnya.

Ketertarikannya terhadap sejarah dan aksara kuno, menurutnya, berawal dari cerita sang ayah yang telah meninggal dunia. Sejak kecil, ia sering mendengar cerita bahwa Nusantara memiliki kekayaan peradaban yang luar biasa.

Namun, ketika masih duduk di bangku taman kanak-kanak hingga sekolah dasar, ia mengaku belum menemukan gambaran mengenai kekayaan peradaban tersebut sebagaimana yang diceritakan oleh ayahnya.

Menurutnya, cerita mengenai candi-candi besar, teknologi masa lampau, serta berbagai peninggalan peradaban belum sepenuhnya ia temukan dalam realitas maupun buku sejarah yang dipelajarinya ketika itu.

Rasa penasaran tersebut kemudian mendorongnya mengambil langkah yang disebutnya sebagai “jalur ekstrem”, dengan mempelajari aksara-aksara kuno dari awal.

“Saya juga nol tadinya. Tidak paham tentang apa itu aksara-aksara kuno. Saya menempuh pendidikan kurang lebih enam tahun, kemudian mengabdikan diri untuk meneliti,” tuturnya.

Salah satu wilayah yang kemudian menjadi bagian dari perjalanan penelitiannya adalah Pulau Sapudi.
Setahun Menelusuri Jejak Peradaban Sapudi
Sekitar satu tahun lalu, ia bersama tim yang terdiri dari sejumlah anggota, termasuk Pak Sigit, putrinya dan Mas Zaid, melakukan penelusuran di Pulau Sapudi.

Dalam proses tersebut, sejumlah temuan menarik disebut berhasil diidentifikasi, mulai dari naskah, gua, Watu Gong hingga sumur yang oleh masyarakat setempat memiliki sejumlah penyebutan.

Ia menggambarkan penelusuran tersebut sebagai upaya untuk melihat kembali sejarah dari “hulunya”, atau mencari asal-usul peradaban yang selama ini dikenal masyarakat pada masa sekarang.

“Di atas langit ada langit, atau langit itu berlapis. Karena itu saya akan membumi untuk proses melangit. Kita sekarang berada di hilir, maka mari menjelajah hulunya, menjelajah awal atau asal-muasalnya,” ujar Agustin Ariani.

Dalam konteks tersebut, ia mengusulkan tema “Exotica Podai: Jelajah Peradaban Kuno di Pulau Karapan Sapi” sebagai gambaran perjalanan menelusuri kekayaan sejarah Pulau Sapudi.
Temuan Lontar Beraksara Jawa
Dari sejumlah sumber sejarah yang ditemukan dalam penelusuran sekitar satu tahun terakhir, salah satu yang menjadi perhatian adalah sebuah lontar yang oleh peneliti tersebut diberi nama tersendiri.

Selain itu, terdapat pula Lontar Amongrogo yang berada di kawasan pesarean. Namun, ia menyebut kajian terhadap beberapa sumber tersebut masih membutuhkan penelitian lebih lanjut sehingga tidak seluruhnya dibahas dalam kesempatan tersebut.

Salah satu naskah yang mulai dikaji disebut menggunakan aksara Jawa dengan bahasa Jawa, tetapi memiliki pengaruh atau dialek Madura.

Bentuk naskah tersebut berupa tembang macapat, yakni bentuk puisi tradisional Jawa, dan ditulis pada media lontar.

Menurutnya, karakter pesisiran Jawa Timur terlihat cukup kuat dalam struktur teks tersebut.
Salah satu indikasinya adalah penggunaan tembang Asmaradana sebagai pembuka teks.

“Ini sangat terlihat pada tembang Asmaradana sebagai pembuka teks. Khas sekali. Naskah atau lontar Jawa Timur, khususnya pesisiran, memang memiliki karakter yang kuat,” jelasnya.

Kode Tahun Penulisan Menjadi Petunjuk Penting
Hal menarik lainnya yang ditemukan dalam lontar tersebut adalah adanya kolofon, yakni keterangan yang dapat memuat informasi mengenai waktu penulisan atau penyalinan sebuah naskah.

Ia menyebut terdapat kode angka tahun yang menurut hasil pembacaannya mengarah pada tahun 1710.

Tahun tersebut, menurutnya, diketahui melalui sebuah rangkaian kode yang terdapat dalam lontar.

“Yang saya temukan itu ada namanya kolofon atau angka tahun pada waktu penulisan atau penyalinan, yaitu 1710. Dari mana? Dari kode yang ada di lontar yang berbunyi ‘ilang erat Pandi tank Ratu’. Ini kode yang sengaja dituliskan leluhur,” ungkapnya.

Namun, penentuan usia dan interpretasi kode dalam naskah tersebut tetap membutuhkan kajian filologis dan paleografis secara lebih mendalam agar pembacaannya dapat diverifikasi secara akademis.

Temuan tersebut sekaligus membuka peluang untuk menelusuri lebih jauh hubungan antara Pulau Sapudi dengan perkembangan literasi, kebudayaan, serta jaringan peradaban masyarakat pesisir Jawa Timur dan Madura pada masa lampau.

Sapudi dan Tantangan Membaca Kembali Sejarah
Penelusuran terhadap naskah, aksara, gua, Watu Gong dan berbagai peninggalan lainnya menunjukkan bahwa Pulau Sapudi memiliki sejumlah bahan penting untuk dikaji sebagai bagian dari sejarah kawasan.

Bagi peneliti, keberadaan peninggalan tersebut bukan sekadar benda lama. Di baliknya terdapat kemungkinan informasi mengenai cara hidup, pengetahuan, teknologi, bahasa, sistem sosial dan kebudayaan masyarakat pada zamannya.

Karena itu, diperlukan penelitian lintas bidang yang melibatkan arkeologi, filologi, sejarah, antropologi, geologi serta kajian budaya agar berbagai temuan tersebut dapat ditempatkan dalam konteks sejarah yang tepat.

Sapudi bukan sekadar pulau yang dikenal dengan sebutan Pulau Karapan Sapi. Di balik bentang alamnya, terdapat jejak aksara dan peninggalan yang masih menunggu untuk dibaca, diteliti dan diceritakan kembali.

Penelusuran terhadap jejak sejarah Pulau Sapudi, Kabupaten Sumenep, Madura, terus membuka sejumlah temuan menarik.

Selain artefak dan situs kuno, penelitian terhadap lontar dan prasasti di kawasan Blingi disebut memberikan petunjuk mengenai perkembangan literasi, kebudayaan, hingga proses transisi keislaman di wilayah tersebut.

Dalam kegiatan Bedah Sejarah Sepudi, seorang peneliti memaparkan sejumlah hasil pembacaan terhadap naskah kuno yang ditemukan di kawasan Sapudi.

Menurutnya, terdapat perbedaan cara penulisan angka tahun dalam sejumlah lontar yang ditemukan. Salah satunya mencantumkan angka 1710, sedangkan pada bagian lain terdapat angka 1749 yang ditulis secara langsung, bukan dalam bentuk kode sastra.

“1749 itu ditulis angka, tidak berupa kode sastra. Jadi agak berbeda dengan yang ini. Yang ini ditulis pada lontar 1710, kemudian di sini 1749,” jelasnya.

Ia menyebut angka tersebut masih perlu dikaji untuk memastikan sistem penanggalan yang digunakan, termasuk kemungkinan penggunaan tahun Saka.

Muncul Nama Mbah Arya Pulang Jiwo
Dalam penelusuran naskah, ia juga menemukan cerita yang memiliki kemiripan dengan kisah mengenai leluhur di Sapudi, khususnya Mbah Arya Pulang Jiwo.

Menurutnya, terdapat naskah dalam koleksi Museum Provinsi Jawa Timur yang memiliki kisah serupa, meskipun tidak sepenuhnya sama.

Naskah tersebut merupakan bagian dari Primbon Tengger. Di dalamnya terdapat penyebutan sejumlah tokoh atau leluhur yang dikaitkan dengan beberapa wilayah di Jawa Timur dan kepulauan sekitarnya.

Ia menyebut adanya nama atau tempat seperti Batu Ampar di Kangean, Batu Putih atau Watu Putih di Sumenep, serta penyebutan wilayah Bawean.

“Ceritanya berbeda, tidak sama, tetapi mirip. Ini menceritakan tentang dayang atau leluhur,” ungkapnya.

Temuan tersebut kemudian menarik perhatiannya karena terdapat kemungkinan hubungan narasi mengenai leluhur antara Sapudi, Kangean, Sumenep dan Bawean.

Kisah Pulang Jiwo dan Bawean
Keterkaitan tersebut semakin menarik ketika ia mengaku pernah berdiskusi dengan seorang pengasuh pesantren di Bawean.

Dalam percakapan tersebut, ia menceritakan bahwa dirinya bersama suami pernah melakukan perjalanan ke Sapudi dan menemukan sejumlah hal menarik, termasuk makam yang diyakini masyarakat setempat berkaitan dengan Mbah Arya Pulang Jiwo.

Menurutnya, sang pengasuh pesantren kemudian menyampaikan bahwa masyarakat Bawean juga mengenal sosok Mbah Pulang Jiwo dan mengaitkannya dengan leluhur mereka.

“Di Bawean itu juga mengenal Mbah Pulang Jiwo. Mereka juga menganggap bahwa Mbah Pulang Jiwo ini adalah leluhurnya,” tuturnya.

Ia menyebut terdapat lokasi yang diyakini berkaitan dengan sosok tersebut, antara lain kawasan Telaga Tasoba.
Namun, hubungan antara cerita Pulang Jiwo di Sapudi dan Bawean masih membutuhkan penelitian lebih lanjut, terutama melalui penelusuran naskah, tradisi lisan, genealogis dan bukti arkeologis.

Lontar dan Jejak Transisi Keislaman
Dari pembacaan terhadap lontar Blingi, peneliti juga menemukan sejumlah istilah keagamaan seperti Hyang Manon, Hyang Sukma dan Hyang Widhi.

Istilah tersebut, menurut interpretasinya, memiliki arti penting dalam membaca konteks perkembangan keagamaan masyarakat pada masa penulisan naskah.

Ia menyebut pola penyebutan tersebut juga ditemukan dalam lontar yang berada di kawasan pesarean.
Menurutnya, penggunaan istilah tersebut dapat menjadi salah satu petunjuk bahwa naskah-naskah tersebut lahir pada masa transisi kebudayaan dan keislaman, khususnya pada sekitar abad ke-18.

“Menyebut Allah Subhanahu wa Ta’ala sebagai Hyang Manon, ada juga penyebutan Hyang Sukma dan Hyang Widhi. Itu saya temukan di dua lontar,” katanya.

Ia mengaitkan periode tersebut dengan berkembangnya sastra Islam dan tradisi tasawuf Jawa.

Pada masa itu, karya-karya seperti Serat Yusuf berkembang dengan kisah para nabi, antara lain Nabi Yusuf, Nabi Yaakub, Nabi Musa, Nabi Daud dan Nabi Muhammad, serta menjadi bagian dari tradisi sastra dan dakwah.

Menurutnya, perkembangan tersebut tidak hanya berlangsung di lingkungan pesantren, tetapi juga berhubungan dengan jaringan intelektual dan kebudayaan di berbagai wilayah Jawa dan Madura.

Prasasti Blingi Menggunakan Aksara Pegon
Temuan lain yang disebut cukup menarik adalah sebuah prasasti Blingi yang menggunakan aksara Pegon.

Berbeda dengan sejumlah naskah yang selama ini banyak ditemukan menggunakan aksara Jawa kuno, prasasti tersebut disebut memiliki karakter tulisan Pegon dengan bahasa Jawa.

“Saya membacanya hampir dua bulan karena aksaranya unik. Saya baru menemukan tulisan seperti ini. Prasasti ini tulisannya Pegon,” ungkapnya.

Ia kemudian membandingkannya dengan Batu Bersurat Terengganu di Malaysia.

Menurutnya, terdapat kesamaan dalam penggunaan aksara berbasis huruf Arab untuk menuliskan bahasa lokal. Di Malaysia, sistem tersebut dikenal sebagai Jawi karena digunakan untuk bahasa Melayu, sedangkan yang ditemukan di Blingi menggunakan bahasa Jawa dan disebut Pegon.

“Kalau yang saya temukan bahasanya Jawa, sedangkan yang di Malaysia bahasanya Melayu. Jadi perbedaannya terutama pada bahasa yang digunakan,” jelasnya.

Sengkalan 1303 Masih Menjadi Teka-teki
Prasasti Blingi tersebut disebut ditulis pada batu gamping dan memiliki sekitar 15 baris tulisan.

Pada bagian akhir teks terdapat rangkaian kata yang dibaca sebagai sebuah sengkalan, yang menurut peneliti berbunyi:

“Putung Matolo, batu ngetan.”
Rangkaian tersebut kemudian ditafsirkan sebagai petunjuk angka tahun. Berdasarkan konversi yang dilakukan peneliti, angka tersebut mengarah pada 1303.

Namun, terdapat persoalan penting yang hingga kini belum terjawab: 1303 tersebut menggunakan sistem penanggalan apa?
Belum diketahui secara pasti apakah angka tersebut merujuk pada tahun Hijriyah, Saka, atau Masehi.

“Tidak ada keterangan Hijriyah, Saka atau Masehi. Ini yang menjadi pekerjaan rumah,” ujarnya.

Ia juga menemukan istilah “Soko Jowo” dalam pembacaannya. Istilah tersebut masih diberi tanda tanya karena belum dapat dipastikan apakah merujuk pada asal Jawa atau berkaitan dengan sistem tahun Saka Jawa.

Petunjuk Sejarah Leluhur Pemilik Masjid
Prasasti tersebut ditemukan di kawasan Desa Gendang Timur, Pulau Sapudi.

Dalam proses alih aksara, peneliti menyebut terdapat sejumlah bagian yang mulai dapat dibaca.
Salah satu bagian awal yang berhasil dialihaksarakan berbunyi:

“Puniko sejarahe leluhure kang duwe masjid, anak putune Tumenggung Puger, aran Cundo…”

Kalimat tersebut kemudian menjadi salah satu petunjuk penting untuk mengungkap identitas leluhur, pemilik atau tokoh yang berkaitan dengan masjid serta komunitas di kawasan tersebut.

Namun, pembacaan keseluruhan prasasti masih membutuhkan kajian lebih lanjut karena terdapat sejumlah bagian aksara yang belum sepenuhnya dapat dipastikan.

Membaca Sapudi dari Jejak yang Tersisa
Berbagai temuan tersebut memperlihatkan bahwa Pulau Sapudi menyimpan sejumlah sumber sejarah yang belum sepenuhnya terungkap.

Lontar, prasasti, makam leluhur, toponimi, gua, Watu Gong hingga tradisi lisan masyarakat menjadi bagian dari puzzle besar yang dapat digunakan untuk menelusuri perjalanan peradaban Sapudi.

Meski demikian, setiap temuan perlu ditempatkan secara hati-hati. Perkiraan usia, tafsir angka tahun, hubungan antarlembaga atau tokoh, hingga keterkaitan antara satu situs dengan situs lainnya membutuhkan verifikasi melalui penelitian akademik dan lintas disiplin.

Dengan demikian, penelusuran sejarah Sapudi tidak berhenti pada cerita turun-temurun, tetapi dapat berkembang menjadi kajian berbasis bukti.

Pulau Sapudi masih menyimpan banyak pertanyaan. Dan mungkin, jawabannya bukan hanya berada di dalam buku sejarah, tetapi juga tersimpan pada lontar, batu, makam, gua, serta ingatan masyarakat yang selama berabad-abad diwariskan dari generasi ke generasi.

Perjelas status setiap temuan sejarah
Ringkas bagian perbandingan sejarah
Ubah penutup menjadi ajakan pelestarian.

  • Penulis: VANNI HERADIKAH,S.Sos
  • Editor: REDAKSI

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

expand_less