Unpad Tegaskan Agroforestri Bukan Sekadar Tanam Pohon, Tapi “Living Cultural Heritage”
- account_circle Dewi
- calendar_month 1 menit yang lalu
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Unpad Tegaskan Agroforestri Bukan Sekadar Tanam Pohon, Tapi “Living Cultural Heritage“
BANDUNG — Temporatur.com// Universitas Padjadjaran menegaskan bahwa revitalisasi agroforestri bukan hanya soal konservasi ekologi. Lebih dari itu, agroforestri adalah “warisan budaya hidup” yang harus dihidupkan kembali untuk membangun ketahanan masyarakat di tengah perubahan iklim.
Hal itu mengemuka dalam diskusi “Peningkatan Awareness dan Pemahaman Agroforestri Berbasis Warisan Budaya Bagi Perangkat Daerah dan Pemerintahan Desa”_yang digelar Dinas LH Kab. Bandung bersama PULIK Unpad di Mason Pine Hotel, KBB, Kamis (11/9/2026).
Agroforestri = Sistem Sosial-Ekologis Turun Temurun
Dalam paparan kesimpulan diskusi disebutkan, agroforestri merupakan sistem sosial-ekologis yang mengintegrasikan dimensi sosial budaya, ekonomi dan ekologis. Sistem ini diturunkan secara turun temurun dan menghasilkan “memori sosial ekologis”.
“Memori sosial ekologis dimaterialisasikan dan direproduksi melalui warisan budaya. Baik dalam bentuk fisik seperti lanskap, pekarangan, kebon-talun, maupun non-fisik seperti pengetahuan. Ini merupakan infrastruktur sosial-ekologis yang menjaga keberlanjutan hubungan manusia dengan lingkungannya,” demikian bunyi kesimpulan yang dikutip dari pemateri.
Disebutkan juga, revitalisasi agroforestri sebagai “living cultural heritage” harus menciptakan ruang pembelajaran lintas generasi melalui *living lab, sekolah lapangan* dan sejenisnya.
Desakan: Pemerintah Jangan Biarkan Petani Jalan Sendiri
Ir. Agus Irianto, MM dari IWF Unpad menyoroti lemahnya integrasi dukungan pemerintah. Menurutnya, petani di bawah sudah sadar, tapi tanpa dukungan stakeholder program akan berhenti.
“Jangan sampai kita melaksanakan di bawah, masyarakat petani sudah sadar tapi tidak ada dukungan apa-apa dari stakeholder. Pemerintah harusnya mendukung, baik secara moril maupun materiil melalui regulasi,” ujar Agus.
Ia menegaskan program ini harus melibatkan lintas dinas: Kehutanan, Perkebunan, Pertanian, hingga Dinas Ekonomi. Karena menyangkut kesejahteraan masyarakat.
“Kita tidak bisa terus-terusan paling hanya 3 tahun. Nanti kelanjutannya gimana? Pemerintah harus terintegrasi. Program ini harus didampingi supaya berkelanjutan,” tegasnya.
Agus juga mengapresiasi janji Direktur SDM Kehutanan yang akan menugaskan penyuluh untuk pendampingan di lapangan.
“Tidak Lagi Duduk Bareng, Tapi Aksi Bareng”
Senada, Dr. Gumilang Lara Utama,S.TP., M.T., Dekan Fakultas Teknologi Industri Pertanian Unpad sekaligus Koordinator Program FOLU Net Sink 2030 menekankan pentingnya kolaborasi model “multi helix“.
“Yang belum terjalin karena ini kita inisiasi baru 1 tahun. Target utamanya komunitas di tingkat bawah. Ke depan kami akan bersilaturahmi langsung ke masing-masing dinas untuk mensosialisasikan hasil hari ini,” kata Dr. Gumilang.
Menurutnya, urgensi bencana yang semakin sering karena perubahan iklim menuntut semua pihak bergerak bersama.
“Pesan untuk pemerintah: kita terbuka untuk berkolaborasi. Jadi tidak lagi duduk bareng, tapi aksi bareng. Selama kita bisa lakukan aksi bersama-sama untuk kepentingan masyarakat, itu yang lebih penting,” pungkasnya.
Dr. Gumilang menyebut program ini sudah rutin dijalankan di *Living Lab* 2 minggu sekali dan juga di Living Lab Pasteur. Hasil diskusi akan dibuatkan *policy brief* untuk disampaikan ke pengambil kebijakan agar bisa direplikasi pemerintah, BUMN, maupun swasta lewat CSR.
*#Agroforestri #LivingCulturalHeritage #FOLUNetSink2030 #Unpad #BandungBarat*
( Dewi)
- Penulis: Dewi
- Editor: Dewi
- Sumber: Unpad






Saat ini belum ada komentar