Peringati Hari Lahir Pancasila, KBM DIY Desak Pengusutan Intoleransi Bantul dan Sekolah Gratis
Keluarga Besar Marhaenis (KBM) Daerah Istimewa Yogyakarta menyampaikan pernyataan sikap politik kebangsaan bertepatan dengan peringatan Hari Lahir Pancasila dan HUT Yayasan Pancasila 1 Juni di Ndalem Suryoguritnan, Yogyakarta, Senin (1/6/2026).
Juru Bicara KBM DIY, Antonius Fokki Ardiyanto, S.IP, menyatakan bahwa momentum Pancasila tahun ini harus menjadi refleksi mendasar atas tiga isu krusial di Yogyakarta, yakni intoleransi, komersialisasi pendidikan, dan pemahaman ideologi bagi Generasi Z.
Usut Tuntas Pembubaran Ibadah di Bantul
KBM DIY mengutuk keras dugaan aksi pembubaran ibadah umat Kristiani di Kabupaten Bantul oleh kelompok Front Jihad Islam (FJI).
Tindakan tersebut dinilai mencederai Sila Pertama Pancasila.”Indonesia adalah negara Pancasila yang menjamin kehidupan beragama secara adil dan setara,” ujar Fokki dalam keterangannya, Senin (1/6/2026).
Ketua KBM DIY, Agus Subagyo, mendesak Polda DIY segera menangkap pelaku lapangan hingga aktor intelektual di balik aksi tersebut. Langkah tegas diperlukan agar kasus ini tidak menjadi preseden buruk bagi Yogyakarta yang menyandang predikat Kota Toleransi.
Alokasi Dana Keistimewaan untuk SMA/SMK Gratis
Terkait isu pendidikan, KBM DIY mendesak Gubernur DIY memanfaatkan APBD dan Dana Keistimewaan (Danais) secara maksimal untuk membebaskan biaya sekolah. Kebijakan ini disasarkan bagi seluruh siswa SMA dan SMK, baik sekolah negeri maupun swasta.Bagi kaum marhaenis, pendidikan bukan komoditas komersial, melainkan alat pembebasan rakyat dari kemiskinan dan kebodohan.
Negara wajib memastikan anak-anak petani, buruh, dan warga miskin mendapat hak serta akses pendidikan yang setara.
Meluruskan Esensi Pancasila bagi Gen Z
Menyikapi lunturnya pemahaman ideologi, KBM DIY menjadwalkan agenda Pendidikan Pancasila khusus bagi Generasi Z. Agenda ini bertujuan agar pemahaman Pancasila tidak mandek pada hafalan teks, melainkan masuk ke substansi filosofis dan sejarahnya.
Fokki mencontohkan salah kaprah pemaknaan kata “Ika” dalam Bhinneka Tunggal Ika yang kerap diartikan sebagai “satu”, padahal makna aslinya secara historis adalah “itu”.”Makna aslinya bukan menyeragamkan perbedaan menjadi satu, melainkan mengakui keberagaman yang tetap hidup dalam satu ikatan kebangsaan.
Persatuan dibangun di atas penghormatan perbedaan, bukan penghapusan identitas,” tutupnya.
Acara peringatan ini diinisiasi oleh Yayasan Pancasila 1 Juni di bawah pimpinan Bung Tarto Sentono dan dihadiri oleh seluruh kader Marhaenis regional DIY.
(Ginting)















