‎20 Ribu Anak Tersingkir dari SMA/SMK Negeri, Bom Waktu Bonus Demografi

‎20 Ribu Anak Tersingkir dari SMA/SMK Negeri, Bom Waktu Bonus Demografi

BEKASI, temporatur.com – Kabupaten Bekasi dikenal sebagai kawasan industri terbesar di Asia Tenggara. Pabrik berdiri megah, roda ekonomi berputar kencang.

‎Tapi di balik itu, ada krisis pendidikan yang mengkhawatirkan: sekitar 20 ribu anak Bekasi dipastikan tersingkir dari SMA/SMK Negeri setiap tahun.

‎Data itu diungkap hasil monitoring Lembaga Swadaya Masyarakat TRINUSA DPN terkait Seleksi Penerimaan Murid Baru SPMB atau PPDB SMA/SMK Negeri

 

IMG 20260623 WA0049

‎Kesenjangan lebar antara jumlah lulusan SMP dan daya tampung sekolah negeri jadi akar masalah menahun.

‎Kuota Minim vs Lulusan Meledak: Sistem Penyaring, Bukan Penampung

‎Koordinator Bidang Pencegahan & Monitoring TRINUSA DPN, Darto, menyebut angka 20 ribu bukan sekadar statistik. Itu masa depan anak Bekasi yang terancam hilang hak konstitusionalnya.

‎Kami melihat ada pembiaran terstruktur dari tahun ke tahun. Pemda tahu lulusan SMP meledak tiap tahun, tapi pembangunan Ruang Kelas Baru dan Unit Sekolah Baru SMA/SMK Negeri di Bekasi sangat lambat, ujar Darto, Rabu 18/6/2026.

‎Menurutnya, sistem seleksi sekarang berubah jadi  mesin penyaring yang kejam Puluhan ribu anak dari keluarga buruh dan masyarakat kecil yang bergantung pendidikan gratis, tereliminasi.

‎Sekolah Swasta Mahal: Orang Tua Terjepit

‎Tidak lolos negeri = dilema ekonomi berat. Investigasi TRINUSA di lapangan menemukan uang pangkal dan SPP sekolah swasta di Bekasi sudah tidak terjangkau buruh/UMR.

‎‎Orang tua cuma punya 2 pilihan pahit:

1. ‎Terjerat utang demi bayar sekolah swasta

2. ‎Biarkan anak putus sekolah

‎Fenomena “swastanisasi paksa” pendidikan pun terjadi.

‎‎Bonus Demografi Bisa Jadi Bencana

‎Indonesia dan Bekasi sedang di era Bonus Demografi. Jumlah usia produktif lebih banyak dari non-produktif. Ini momentum emas.

‎Tapi TRINUSA memperingatkan: kalau 20 ribu anak per tahun dibiarkan putus sekolah, momentum itu berubah jadi bom waktu.

‎Jika puluhan ribu anak per tahun tidak bisa lanjut sekolah karena biaya, kita bukan jemput Bonus Demografi. Kita tanam bom waktu: lonjakan pengangguran dan kemiskinan struktural. Di sinilah Negara harus hadir!” tegas Darto.

‎‎Amanat Pasal 31 UUD 1945 jelas: pendidikan hak semua warga, pemerintah wajib membiayai. TRINUSA menilai negara tak boleh tutup mata pada komersialisasi pendidikan.

‎‎3 Desakan TRINUSA ke Pemerintah

‎Lewat hasil monitoring, TRINUSA DPN keluarkan 3 tuntutan:

1. ‎Intervensi Darurat & Audit Kuota

‎   Desak Pemprov Jabar & Pemkab Bekasi audit total daya tampung dan segera selamatkan 20 ribu anak yang tidak tertampung.

1. ‎Percepatan Infrastruktur Sekolah USB/RKB

‎   Minta anggaran konkret bangun Unit Sekolah Baru, khususnya SMK Negeri. Bekasi zona industri butuh tenaga terampil.

1. ‎Regulasi & Subsidi Swasta

‎   Negara harus kontrol batas atas biaya yayasan swasta + kasih subsidi penuh untuk anak miskin yang terpaksa masuk swasta karena kuota negeri penuh.

‎Kami tidak akan diam lihat masa depan anak Bekasi digadaikan sistem. Kalau pemerintah abai, jangan salahkan generasi muda jadi penonton di tanah lahirnya sendiri, tutup Darto.

Penulis: A. Sugianto

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *