Jorok Tumpukan Sampah di Jalan Tambelang-Warung Satu Buni Resahkan Warga
SUKATANI, BEKASI || TEMPORATUR.COM
Jalur utama Tambelang-Waring Satu yang merupakan urat nadi mobilitas warga di Kecamatan Sukatani, Kabupaten Bekasi, kini berubah fungsi menjadi pemandangan kumuh yang memuakkan.
Tumpukan sampah yang berserakan di sisi jalan Kampung Buni Ayu, titik perbatasan antara Desa Sukarukun dan Desa Sukamanah, menjadi potret buruk pengelolaan lingkungan di wilayah tersebut.
Pantauan di lokasi pada Jumat (10/04/2026), tumpukan limbah rumah tangga hingga plastik ini hanya berjarak sekitar 200 meter dari persimpangan strategis Buniayu-Jagawana.
Para pengguna jalan yang melintas terpaksa menghirup bau busuk menyengat yang kini telah menjadi “menu wajib” harian.
Kondisi ini disinyalir bukan masalah baru, melainkan bentuk pembiaran kronis yang seolah dilegalkan oleh pemerintah setempat.
Belum adanya tindakan nyata dari dinas terkait membuat area tersebut kini menyerupai Tempat Pembuangan Akhir (TPA) liar.
“Setiap hari lewat sini, baunya luar biasa. Ini jalan utama, tapi kok dibiarkan seperti TPA liar,” ketus salah seorang pengendara motor yang melintas sembari menutup hidung rapat-rapat, mencerminkan kekesalan ribuan warga yang menggantungkan aktivitasnya di jalur ini.
Muncul dugaan kuat bahwa lokasi sampah yang berada tepat di perbatasan dua desa Sukarukun dan Sukamanah sengaja dibiarkan karena adanya ego sektoral atau alasan klasik saling lempar tanggung jawab antar-aparat desa.
Hingga berita ini diturunkan, belum terlihat adanya armada truk pengangkut sampah maupun upaya sterilisasi area dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Bekasi.
Absennya tindakan ini memicu tanda tanya besar di tengah jargon “Bekasi Bersih” yang sering didengungkan pemerintah daerah.
Kondisi jalur strategis yang menjelma menjadi kawasan kumuh ini dikhawatirkan tidak hanya merusak citra daerah, tetapi juga menjadi sumber penyakit bagi masyarakat sekitar. Warga mendesak agar pemerintah segera melakukan eksekusi lapangan sebelum dampak lingkungan yang ditimbulkan semakin tidak terkendali.
(Red)















