Padi Menguning Berujung Nestapa, Syahwat Pengembang Gilas’ Harapan Petani Pasir Sari Cikarang

Padi Menguning Berujung Nestapa, Syahwat Pengembang Gilas’ Harapan Petani Pasir Sari Cikarang
Keterangan foto : penggusuran tanaman padi Pasir Sari Cikarang

Padi Menguning Berujung Nestapa, Syahwat Pengembang Gilas’ Harapan Petani Pasir Sari Cikarang

Bekasi – Temporatur.com

Ironi memilukan kembali mencoreng wajah Kabupaten Bekasi sebagai lumbung pangan yang kian terhimpit beton. Di tengah gembar-gembor ketahanan pangan nasional, puluhan petani di Kampung Pasir Konci, Desa Pasir Sari, Cikarang Selatan, justru dipaksa menelan pil pahit.

Sekitar 40 Hektare tanaman padi yang tinggal menghitung hari menuju panen, kini terancam rata dengan tanah akibat arogansi pengembang, raut wajah Darma, salah satu petani asal Desa Cibatu, tampak kuyu.(Rabu 18/2/2026).

 

Darma dan sekitar 60 petani penggarap lainnya kini hanya bisa meratapi tanaman padi diatas lahan seluas 40 hektare yang selama ini menjadi gantungan hidup mereka.

Bacaan Lainnya

Pihak pengembang bersikeras melakukan penggusuran, meski bulir padi sudah menguning dan hanya butuh waktu satu bulan lagi untuk dipetik.

“Kami tahu ini bukan lahan kami, tapi di mana hati nuraninya? Hanya satu bulan, beri kami waktu sampai panen. “Penghasilan kami setahun bergantung di sini,” keluh Darma dengan nada getir saat diwawancarai Temporatur. com pada Rabu 18/2.

Kompensasi “Receh” dan Absennya Pemimpin

Sebelum nya pada proses mediasi yang dinilai berat sebelah, Reno, petani lainnya, mengungkap bahwa upaya warga menyuarakan keberatan menemui jalan buntu. Ironisnya, dalam pertemuan krusial tersebut, sosok Kepala Desa Pasir Sari justru tak menampakkan batang hidungnya.

Kehadiran hanya diwakili oleh aparat tingkat RT yang justru membawa kabar buruk, petani wajib menerima penggusuran demi proyek pembangunan rumah susun pemerintah.

Sebagai “obat duka”, pengembang menawarkan kompensasi sebesar Rp800 ribu per penggarap. Angka yang dianggap menghina keringat petani jika dibandingkan dengan biaya modal tanam dan potensi hasil panen yang hilang.

Fauzi aktivis pertanian Kabupaten Bekasi angkat bicara bahwa kejadian ini menunjukkan betapa rendahnya posisi tawar kaum tani di hadapan raksasa properti. Dalih pembangunan rumah susun milik pemerintah seharusnya tidak menjadi alat legalisasi untuk merampas hak hidup warga secara mendadak tanpa pertimbangan kemanusiaan, cetusnya.

“Kebijakan ini buta. Mereka bicara rumah susun untuk rakyat, tapi mengawalinya dengan mencekik leher rakyat yang sedang menanam padi,” ujar Fauzi seorang aktivis pertanian Kabupaten Bekasi saat dimintai tanggapannya.

Hingga berita ini diturunkan, pihak manajemen Lippo Cikarang belum memberikan pernyataan resmi terkait alasan urgensi penggusuran yang tidak bisa menunda waktu satu bulan saja demi masa panen petani. Publik kini menunggu, apakah Pemerintah Kabupaten Bekasi akan tinggal diam melihat warganya “disembelih” di tanah sendiri, atau berani bertindak tegas menjaga sedikit sisa ruang hidup para petani.

(Red)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *