Jakarta, – Temporatu.com || Di balik tembok tinggi Istana Negara, ada sejarah yang terlupakan dan jauh dari sorotan publik, ada sebuah kekuatan yang menjaga setiap denyut nadi kekuasaan negeri ini. Mereka bukan sekadar prajurit. Mereka adalah Tjakrabirawa pasukan elit yang menjadi bayang-bayang di belakang Presiden Soekarno pada masa paling bergolak dalam sejarah Republik.
Pada tahun 1959, ketika Soekarno menetapkan kembali UUD 1945 dan memasuki era Demokrasi Terpimpin, kekuasaan Presiden berada di puncaknya. Namun justru di titik itulah muncul rasa waswas. Intrik politik, pertarungan ideologi, dan rivalitas antar angkatan, api dalam sekam membuat negeri ini seperti bara yang setiap saat akan menyala. Presiden Republik Indonesia Ir. Soekarno mengatakan, “Aku ini Presiden, tetapi aku tak selalu tahu siapa yang benar-benar menjagaku”.

Pasukan Bayangan itu bernama Tjakrabirawa:

Pembubaran:
Perlu diketahui, malam Gelap 30 September 1965 ketika badai G30S pecah, sebagian kecil anggota Batalyon 1 Cakrabirawa ikut terseret dalam penculikan para jenderal yang tidak memahami sepenuhnya konteks operasi. Namun fakta sejarah mencatat: banyak anggota Cakrabirawa justru tetap menjaga Presiden Soekarno agar tidak menjadi target.
Pada malam itu, pasukan ini pecah oleh kabut informasi dan kepentingan yang saling bertabrakan. Resimen Tjakrabirawa menjadi pion dalam permainan politik yang jauh lebih besar dari diri mereka dan setelah keluarnya Surat Perintah 11 Maret 1966, kekuasaan bergeser ke tangan Soeharto. Resimen Tjakrabirawa dianggap terlalu dekat dengan Soekarno dan terlalu kuat untuk dibiarkan hidup. Resimen Tjakrabirawa dibubarkan bukan karena gagal menjalankan tugas, tetapi karena kalah dalam pertarungan politik kotor demi meraih kekuasaan.

Ironi, tidak ada monumen untuk mereka untuk mengenang Resimen Tjakrabirawa?Tidak ada peringatan tahunan. Tidak ada penghargaan atas kesetiaan yang mereka perjuangkan?
Yang tersisa hanya jejak langkah sunyi yang tertinggal di lantai marmer Istana, hanya bisikan sejarah yang tersisa di ruang-ruang gelap Negara ini.
Resimen Tjakrabirawa bukan sekadar pasukan. Mereka adalah sejarah dari masa paling rumit dalam perjalanan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Mereka berdiri di antara cahaya kekuasaan bernama KUDETA dan bayang-bayang sejarah dan di sanalah nama mereka terus bergema, walau dalam diam.















