Keluarga Nawari tengah berbahagia, Akhirnya hak asuh Riana Agustine Alfatunnisa ada ditangan ibu kandungnya Elisa Wulan Safitri
Tengah berbahagia, Keluarga Besar Nawari Desa Bumbungan Kec. Bluto, Kab. Sumenep, akhirnya bernafas dengan lega, setelah digoncang dengan persoalan anaknya Elisa Wulan Safitri
Wulan sapaan akrabnya, menikah dengan saudara Mokhlis, warga asal Daramista Kecamatan Lenteng sekitar tahun 2023 dan terjadi prahara Cinta di tahun 2024 ditengah kondisi Wulan sudah bertubuh dua.
Kebahagiaan keluarga Nawari seperti digores luka dan disiram air cuka, pada saat melihat anaknya Wulan tengah melahirkan dan memberinya seorang cucu disituasi gelombang asmara keduanya terpecah.
Wulan melahirkan anak pertama berjenis kelamin perempuan pada tanggal 30 Agustus, lalu dikasih nama, Riana Agustine Alfatunnisa, kehadiran anak pertama, membelah hubungan keduanya, perseteruan semakin memanas dan berujung kepada perceraian.
Wulan dan Mokhlis bersepakat untuk mengakhiri mahligai cintanya di tahun 2025 melalui proses yang cukup panjang di pengadilan Agama Kab. Sumenep,
Proses persidangan di Pengadilan Agama Sumenep, tidak langsung menemukan kata damai, namun pada akhirnya resmi juga dan berakhir dengan kata perceraian.
Keduanya resmi bercerai dengan putusan pengadilan Agama, tidak selesai disitu, anak yang di kandung Wulan tidak diberikan kepadanya oleh mantan suaminya, dengan berbagai alasan yang disampaikan.
Lagi-lagi keduanya, antara Wulan dan Mokhlis menjalani persidangan mengenai hak asuh anaknya, namun, selama dalam persidangan saudara Mokhlis dan pihak dari mantan suaminya itu tidak datang memenuhi panggilan pengadilan Agama, dan putusan hak asuh anak jatuh kepada ibunya, Elisa Wulan Safitri.
Ditengah putusan pengadilan Agama prihal hak asuh anak ketangan anaknya, Keluarga Nawari bersama Kepala Desa Bumbungan mendatangi Balai Desa Daramista untuk menjemput cucu kesayangannya hasil dari Elisa Wulan Safitri dan saudara Mokhlis.
Pada tanggal 2 Juli 2025 tangis haru itu pecah dengan isak tangis cucu kesayangannya, Air mata bahagia tumpah tidak terasa, melihat cucunya yang tidak berdosa menatapnya, bening matanya dan senyumnya melekat dalam bayang-bayangnya.
Semua terharu, semua menangis,
Balai Desa Daramista dan keluarga Besar Nawari merasakan kebahagian yang tiada tara, laksana kemarau panjang disiram dengan sehari air hujan. Mereka pun pulang membawa harapan cinta penuh kedamaian.
Saat di temui Nawari, mengaku banyak berterima kasih kepada banyak pihak, sahabat kerabat yang telah ikut membantu dalam proses percaraian anaknya sampai kepada hak asuhnya.
Ucapan terima kasih sedalam-dalamnya kepada Kepala Desa Bumbungan yang sangat mensupport dan memberikan rasa aman kepada saya dan keluarga, sampai saya benar-benar merasakan kebahagiaan sesuai dengan harapan keluarga besar saya. Tegasnya
” Saya sangat bahagia mas, meskipun sebenarnya saya sakit, sebab, setiap orang pasti menginginkan yang terbaik dari apa yang diperbuat, tapi kehendak terkadang tak memihak, saya pasrah kepada Allah”
Ia mengatakan, jika pihaknya dalam menjalani kehidupan hanya dengan pasrah, mengikuti arus, kemana Allah berkehendak.” Saya ikhlas menerima apapun yang telah diberikan Allah kepada saya dan keluarga”
Dalam hal musibah aku menjalaninya meskipun tertatih dan rasa sakit hati, tapi aku sadar bahwa puncak dari pesakitan adalah kebahagian yang nyaris sempurna,pungkasnya.
(Faisol)















