Breaking News
light_mode
Beranda » Nasional » Jadi Tersangka Kasus Dugaan Pemerasan Ketua KPK Siap – siap diganti ?

Jadi Tersangka Kasus Dugaan Pemerasan Ketua KPK Siap – siap diganti ?

  • account_circle Suryo S
  • calendar_month Sabtu, 25 Nov 2023
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Firly Bahuri Ketua KPK RI

Jakarta -Temporatur.com

Kementerian Sekretariat Negara (Kemensetneg) telah menyiapkan Rancangan Keputusan Presiden (Keppres) mengenai pemberhentian sementara Firli Bahuri dari jabatan Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Ari Dwipayana, Koordinator Staf Khusus Presiden, mengatakan bahwa Kemensetneg telah menerima surat pemberitahuan penetapan tersangka atas nama Firli Bahuri pada Kamis (23/11) pukul 17.00 WIB di Sekretariat Negara.

Sebagai tindak lanjut atas surat tersebut, pihaknya menyusun Rancangan Keppres pemberhentian sementara Ketua KPK dan juga penetapan ketua sementara yang akan diserahkan kepada Presiden RI Joko Widodo (Jokowi).

“Keppres tersebut akan mengatur mengenai pemberhentian sementara Ketua KPK dan pengangkatan Ketua KPK sementara,” ujar Ari Dwipayana, seperti ditutup dari Anntara.

Terkait dengan siapa yang akan menjadi Pelaksana Tugas (Plt) pengganti Firli, Ari menyebut bahwa figur tersebut berasal dari salah satu pimpinan KPK saat ini yang akan diputuskan oleh Presiden Jokowi.

Penyerahan Rancangan Keppres ini dilakukan setelah Presiden mendapatkan kesempatan untuk menandatangani dokumen tersebut.

Rancangan Keppres ini disusun berdasarkan Undang-undang Nomor 19 Tahun 2019 tentang perubahan kedua serta Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2015. Setelah disetujui, Kemensetneg akan menyerahkannya kepada Presiden Jokowi untuk ditandatangani,tukasnya

Ari juga menjelaskan bahwa saat ini Presiden sedang melakukan kunjungan kerja di Papua Barat dan nantinya akan melanjutkan perjalanan ke Kalimantan Barat. Namun, malam ini Presiden dijadwalkan kembali mendarat di Jakarta. Oleh karena itu, penyerahan Rancangan Keppres akan dilakukan setelah Presiden tiba di Jakarta, terang dia.

Dalam kasus ini, Polda Metro Jaya telah menetapkan Firli Bahuri sebagai tersangka dalam kasus dugaan pemerasan terhadap mantan Menteri Pertanian RI, Syahrul Yasin Limpo (SYL). Penetapan tersangka terhadap Firli Bahuri didasarkan pada Pasal 12 e atau Pasal 12 B atau pasal 11 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, yang telah diubah dan ditambah dengan UU Nomor 20 tahun 2001 tentang Perubahan UU Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 65 KUHP.

Ari juga menjelaskan bahwa penyerahan Rancangan Keppres akan dilakukan setelah Presiden tiba di Jakarta. Hal ini menegaskan bahwa proses pengesahan dokumen tersebut tetap dilakukan dengan profesionalisme sebagaimana tuntutan jabatan presiden. (Red)

  • Penulis: Suryo S

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Keterangan foto: Foto : salah satu rumah yang seharusnya mendapatkan bantuan BSPS di Dusun Bere Leke Desa Errabu bluto Sumenep

    Buntut panjang BSPS tahun 2024 di Desa Errabu, kerja kolektif, Kepala Desa dan Aparatur Desa ?

    • calendar_month Selasa, 13 Mei 2025
    • account_circle Suryo S
    • 0Komentar

    Buntut panjang BSPS tahun 2024 di Desa Errabu, kerja kolektif, Kepala Desa dan Aparatur Desa ?

  • Keterangan foto: Stasiun Kereta Api Tambun Bekasi, Jawa Barat.(Ft istimewa)

    Rawan Bahaya, Tangga Curam di Stasiun Kereta Api Tambun Bekasi Dikeluhkan Pengguna

    • calendar_month Senin, 17 Feb 2025
    • account_circle Suryo S
    • 0Komentar

    Tangga di sini terlalu tinggi dan curam. Saya sering kesulitan, sampai nafas terengah-engah apalagi kalau membawa barang. Seharusnya ada solusi seperti eskalator atau setidaknya pegangan yang lebih nyaman,dan rawan bahaya pada penumpang, kata Nandang (70), salah satu pengguna KRL yang rutin menggunakan Stasiun Tambun, Senin (17/2/2025)

  • Pimpinan DPRD Sumut Apresiasi Polda Sumut Tangkap Terduga Kurir 30 Kg Sabu di Langkat

    • calendar_month Senin, 2 Jun 2025
    • account_circle Suryo S
    • 0Komentar

        SelanjutnyaKendaraan Siaga Desa Jasinga Telat 5 Tahun Bayar Pajak, Pengawasan Aset Desa Inspektorat Kabupaten Bogor Dinilai Lemah  Medan, Temporatur com | Dua kurir 30 Kg narkotika jenis sabu diamankan Ditresnarkoba Poldasu, Selasa (27/5/2025) sore di Kecamatan Brandan Barat, Langkat. Pengungkapan kasus ini pun diapresiasi Pimpinan DPRD Sumut Ricky Anthony. SelanjutnyaSejumlah Proyek Jalan dan Jembatan […]

  • Perempuan Penjaga Pesisir: Mak Jah dan Teh Aas, Simbol Gerakan Hijau

    Perempuan Penjaga Pesisir: Mak Jah dan Teh Aas, Simbol Gerakan Hijau

    • calendar_month Rabu, 6 Agt 2025
    • account_circle Suryo S
    • 0Komentar

    Perempuan Penjaga Pesisir: Mak Jah dan Teh Aas, Simbol Gerakan Hijau

  • Kanit Reskrim Polsek Kedung Waringin, Perdana Langsung Tancap Gasss Pimpin OKJ

    • calendar_month Selasa, 18 Feb 2025
    • account_circle Suryo S
    • 0Komentar

    Dalam rangka mengantisipasi tindak kejahatan sekaligus menciptakan rasa aman dimasyarakat, Polsek Kedung Waringin Polres Metro Bekasi Melalui Kanit Reskrim Iptu Deutronomiun Maruao SH,MH didampingi 11 Personil Piket Fungsi,Gelar kegiatan Rutin Yang di Tingkatkan ( KRYD ) di jalan Raya Bojong sari No:51 Desa Bojongsari kecamatan Kedung Waringin Kabupaten Bekasi, Selasa (18/02/2025).

  • Petani Pengelola Lahan Balai  Benih Kecamatan Pebayuran,  Keluhkan Kebijakan  UPTD yang Tak Berpihak

    • calendar_month Jumat, 17 Jan 2025
    • account_circle Suryo S
    • 0Komentar

    PETANI PENGELOLA

    Sejumlah petani penggarap yang mengelola lahan Balai Benih di Kampung Tambun, Desa Karangharja, Kecamatan Pebayuran, mengungkapkan kekecewaannya terhadap kebijakan pemberhentian sementara pengelolaan lahan yang diterapkan oleh UPTD Balai Benih. Kebijakan ini dianggap tidak disertai dengan musyawarah yang memadai dan pemberitahuan yang jelas, sehingga menimbulkan kesan seperti pemecatan tanpa alasan yang sah.

    Dalam pertemuan yang digelar hari ini, Dede, perwakilan dari UPTD Balai Benih Karangharja, menjelaskan bahwa keputusan pemberhentian sementara tersebut diambil sebagai langkah antisipasi akibat pemberitaan yang viral di media. Namun, kebijakan ini tidak memberikan kejelasan bagi petani terkait nasib mereka ke depan, dan tidak melibatkan komunikasi yang baik antara pihak UPTD dan penggarap.

    Selain itu, petani juga mengeluhkan tingginya harga pupuk non-subsidi yang membebani mereka, seperti Pupuk Urea Petro N 46% yang dijual seharga Rp 8.500 per kilogram dan Pupuk PHONSKAH seharga Rp 7.000 per kilogram, jauh lebih tinggi dibandingkan dengan harga pupuk bersubsidi yang biasanya dijual dengan harga sekitar Rp 2.250 hingga Rp 2.500 per kilogram. Para petani pun menuntut penjelasan mengenai alasan mereka tidak dapat membeli pupuk subsidi meskipun terdaftar dalam Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok (RDKK).

    Masalah lainnya yang dikeluhkan oleh para petani adalah penetapan harga gabah yang ditawarkan oleh Balai Benih yang dianggap terlalu rendah dibandingkan dengan harga pasar. Hal ini semakin memperburuk kondisi ekonomi para penggarap yang merasa dirugikan. Petani juga menyatakan kesiapan mereka untuk menerima rencana retribusi atau bagi hasil, asalkan pihak UPTD Balai Benih memberikan transparansi dalam pengelolaan dan pelaksanaannya. Para petani menegaskan bahwa mereka siap menerima retribusi sebesar Rp 1.500 per kilogram, namun menolak jika besaran retribusi ditetapkan sebesar Rp 3.000 per kilogram, karena dianggap terlalu memberatkan.

    “Kami selaku pengharap siap terkait dengan cara bagi hasil atau rencana retribusi, namun itu pun jika retribusinya Rp 1.500 per kilogram. Jika ditetapkan Rp 3.000 per kilogram, kami keberatan. Lantas, kami dapat apa jika retribusi sebesar itu? Kami harap pihak UPTD Balai Benih Karangharja dapat lebih transparan dalam kebijakan yang diterapkan dan memberikan penjelasan yang jelas mengenai pengelolaan yang dilakukan,” ungkap para petani.

expand_less