Tumbuhnya Individualisme Dalam Masyarkat Urban
Sejarah, – Temporatur.com || Musuh terberat dari idealisme bukanlah tiran yang kejam, melainkan godaan kenyamanan. Sejarah Indonesia mencatat satu nama yang membuktikan betapa rapuhnya integritas manusia ketika disodorkan kekuasaan: Soe Hok Gie. Ia adalah potret seorang intelektual yang kawan-kawannya dulu berdarah-darah meneriakkan keadilan di jalanan, namun mendadak buta dan tuli ketika sudah duduk di kursi empuk berfasilitas negara. Di tengah parade kemunafikan itu, Gie secara sadar memilih jalan yang paling menakutkan bagi kebanyakan orang: Jalan Sunyi. Ini adalah kisah tentang harga mahal sebuah prinsip, yang dibayar tuntas dengan nyawa di pelukan Mahameru. Bibit Pemberontak dari Bangku Sekolah SelanjutnyaHasan Basri Siap Maju, di Pilkades Karangharja 2026–2034, Tuntaskan Pembangunan Lebih BaikLahir pada 17 Desember 1942 di Jakarta, Gie bukanlah anak muda biasa. Tumbuh di keluarga keturunan Tionghoa yang dekat dengan literasi, masa kecil Gie dihabiskan dengan melahap pemikiran Karl Marx, Mahatma Gandhi, hingga Pramoedya Ananta Toer. Dari sanalah, pemahaman tentang hak asasi […]
Berita Terbaru
Kategori: Nusantara
APBD Kabupaten Bekasi Setiap Tahun Membengkak Buat Belanja Pegawai
*APBD Kabupaten Bekasi setiap tahun Membengkak Buat Belanja Pegawai*
Bekasi-MHB
Kabupaten Bekasi merupakan Kabupaten yang masuk kedalam kategori Kabupaten yang memiliki APBD terbesar di Provinsi Jawa barat yang mencapai kisaran 7 Trilyun setiap tahunnya.
Sehingga anggaran biaya belanja pegawainya mencapai angka pantastik dengan 2 Trilyun pertahun nya dan menjadi sorotan para pemerhati publik dan lembaga sosial kontrol tak terkecuali LSM Sniper Indonesia.
Pemerhati kebijakan publik dan Ketua Umum Sniper Indonesia, Gunawan mengatakan terkait dengan keterangan Penjabat Bupati Bekasi Dani Ramdan ke media beberapa waktu lau bahwa, “hampir satu per tiga atau sekitar Rp 2 triliun dari total APBD sebesar Rp 6,6 triliun dialokasikan untuk membayar gaji ASN maupun Non ASN sampai operasional di lingkungan Pemkab Bekasi.”
“Pegawai kita itu hampir 15 ribu ASN-nya, 15 ribu juga Non PNS-nya. Kebanyakan guru. Itu ada gajinya, ada tunjangannya, dan lainnya. Termasuk operasional dan sebagainya. Angka itu (Rp 2 triliun) tidak bisa diotak-atik.”
Atas hal itu, Gunawan menyampaikan bahwa perlunya pengkajian mengenai berapa jumlah pegawai ASN (Aparatur Sipil Negara) betul-betul dibutuhkan dan berapa jumlah belanja pegawai yang diperlukan di pemerintahan Kabupaten Bekasi (Realnya) agar tercipta Efesiansi anggaran.
Menurutnya, “jika satu per tiga atau sekitar Rp 2 triliun dari total APBD Kabupaten Bekasi Tahun Anggaran 2023 sebesar Rp 6,6 triliun dialokasikan untuk membayar gaji ASN maupun Non ASN sampai operasional di lingkungan Pemkab Bekasi. Sementara biaya belanja infrastruktur hanya 2 trilyun dan itupun dibagikan kepada 32 SKPD. Coba bayangkan alokasi anggaran pembangunan masih minim karena habis terkuras oleh anggaran belanja pegawai.
“Kalau terus-terusan APBD Kabupaten Bekasi setiap tahunnya terkuras habis karena biaya belanja pegawai membengkak, lalu bagaimana untuk anggaran membangun infrastruktur gedung pendidikan dan kesehatan, jembatan maupun jalan? Sebab majunya suatu daerah karena terbangunnya akses pelayanan publik yang baik seperti pelayanan pendidikan, pelayanan kesehatan, dan pelayanan tranportasi (jalan dan jembatan). Kesemuanya itu adalah berperan penting terbangunnya masyarakat sejahtera.”
“Pemkab Bekasi harus berani melakukan efesiensi anggaran dibelanja pegawai atau melakukan inopasi-inopasi mencari potensi potensi pendapatan daerah, baik dari retribusi ataupun pajak daerah,” pungkas Gunawan.




















