Breaking News
light_mode
Beranda » Berita Utama » RSUD Bakti Pajajaran Kembangkan Layanan DSA, Percepat Penanganan Stroke di Kabupaten Bogor

RSUD Bakti Pajajaran Kembangkan Layanan DSA, Percepat Penanganan Stroke di Kabupaten Bogor

  • account_circle Jhon. M
  • calendar_month 27 menit yang lalu
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

RSUD Bakti Pajajaran Kembangkan Layanan DSA, Percepat Penanganan Stroke di Kabupaten Bogor

CIBINONG, – Temporatur.com

Penanganan stroke berpacu dengan waktu. Setiap keterlambatan dapat meningkatkan risiko kerusakan jaringan otak dan kecacatan permanen. Untuk menjawab tantangan tersebut, RSUD Bakti Pajajaran Kabupaten Bogor mengembangkan layanan Digital Subtraction Angiography (DSA).

Layanan ini diharapkan dapat membantu pemeriksaan dan penanganan gangguan pembuluh darah secara lebih spesifik bagi masyarakat Kabupaten Bogor.

Keterangan foto :RSUD Bakti Pajajaran Kembangkan Layanan DSA, Percepat Penanganan Stroke di Kabupaten Bogor

Keterangan foto :RSUD Bakti Pajajaran Kembangkan Layanan DSA, Percepat Penanganan Stroke di Kabupaten Bogor

Dokter Spesialis Saraf RSUD Bakti Pajajaran, dr. Haris Murdianto, menjelaskan bahwa DSA merupakan teknik pencitraan pembuluh darah yang memungkinkan dokter melihat kondisi pembuluh darah secara detail, mulai dari penyempitan, sumbatan, hingga malformasi.

“Hasil pemeriksaan ini menjadi salah satu dasar bagi kami untuk menentukan tindakan medis yang paling sesuai dengan kondisi pasien,” ujar dr. Haris kepada http://Temporatur.com di Cibinong, Kamis, 23 Oktober 2026.

Penanganan Stroke Bergantung Golden Period

Stroke terjadi ketika aliran darah ke otak terganggu, baik karena sumbatan (iskemik) maupun pecahnya pembuluh darah (hemoragik). Ketika pasokan oksigen terhenti, kerusakan otak dapat terjadi dalam hitungan menit.

Menurut dr. Haris, keberhasilan penanganan stroke iskemik sangat ditentukan oleh waktu.

Pada pasien dengan kriteria yang memenuhi, terapi trombolisis intravena dapat dipertimbangkan dalam jendela waktu 4,5 jam sejak onset gejala. Pada kasus sumbatan pembuluh darah besar, tindakan trombektomi mekanis dengan menggunakan kateter untuk mengambil bekuan darah dapat menjadi pilihan.

“Keputusan terapi tidak bisa disamaratakan. Semua harus berdasarkan pemeriksaan klinis, hasil pencitraan, waktu onset, dan diskusi tim medis. Prinsipnya, semakin cepat pasien tiba di IGD, semakin besar peluang untuk menyelamatkan jaringan otak,” jelasnya.

Ia juga mengingatkan masyarakat agar tidak menangani dugaan stroke dengan pijat atau urut. Kenali gejala FAST: Face drooping (wajah mencong), Arm weakness (kelemahan lengan/tungkai), Speech difficulty (bicara pelo), Time to call emergency (segera ke IGD).

CT Scan, MRI, dan DSA Memiliki Fungsi Berbeda

Dalam konteks pemeriksaan pembuluh darah otak, CT Scan, MRI, dan DSA memiliki perannya masing-masing dan tidak saling menggantikan.

CT Scan unggul dalam mendeteksi perdarahan akut secara cepat. MRI memberikan gambaran detail jaringan otak. Sedangkan DSA adalah pemeriksaan invasif dengan memasukkan kateter dan zat kontras untuk menilai aliran darah secara presisi.

DSA, tegas dr. Haris, bukan pemeriksaan yang harus dilakukan pada semua pasien dengan keluhan sakit kepala, vertigo, atau pusing. Tindakan ini harus berdasarkan indikasi medis yang jelas, salah satunya kecurigaan aneurisma yakni pelebaran abnormal dinding pembuluh darah yang berisiko pecah.

Pencegahan dan Pembiayaan

Selain aspek kuratif, pencegahan tetap menjadi kunci. Hipertensi, diabetes, kolesterol tinggi, obesitas, merokok, kurang aktivitas fisik, dan pola makan tidak sehat merupakan faktor risiko yang dapat dikendalikan.

“Masalahnya, hipertensi dan diabetes sering tidak bergejala selama bertahun-tahun. Karena itu, skrining kesehatan berkala sangat penting, terutama di atas usia 40 tahun,” kata dr. Haris.

Terkait akses layanan, dr. Haris menyebutkan layanan DSA di RSUD Bakti Pajajaran telah berjalan hampir satu tahun. Saat ini pembiayaan masih melalui jalur umum dan asuransi yang bekerja sama. Manajemen RSUD tengah mengupayakan kerja sama dengan BPJS Kesehatan agar layanan ini dapat diakses lebih luas oleh masyarakat Kabupaten Bogor tanpa harus dirujuk ke Jakarta.

Penulis: Jhon M / Kabiro Bogor Raya
Editor: Redaksi

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

expand_less