Dugaan Sumpah Jabatan Diragukan Kesuciannya, Pengamat : Tunjukkan Secara Terbuka, Publik Berhak Tahu Kitab Suci Sumpah ASN Itu Asli atau Tiruan
- account_circle Redaksi
- calendar_month 1 menit yang lalu
- print Cetak

Foto : Ilustrasi
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
JAKARTA, TEMPORATUR.COM
Sakralnya sumpah jabatan para petinggi Aparatur Sipil Negara (ASN) dan wakil rakyat anggota dewan kini dipertanyakan. Maraknya kasus korupsi yang menjerat para pejabat memunculkan dugaan ironis, hilangnya beban moral karena sumpah tersebut dianggap sekadar formalitas belaka.
Janji amanah para pejabat publik dipertanyakan seiring bocornya informasi mengenai manipulasi properti sumpah jabatan. Publik dikejutkan oleh pengakuan seorang pensiunan ASN kepada Pengamat yang menyebut kitab suci dalam pelantikannya hanyalah replika bersampul Al-Qur’an.
Menyikapi hal tersebut pengamat Kebijakan Publik dan Hukum Bolon mendesak adanya audit menyeluruh terhadap protokol pelantikan di semua, Pemerintahan, kementerian dan lembaga. “Harus ada standardisasi dan transparansi. Kami meminta setiap instansi berani menunjukkan keaslian Al-Qur’an tersebut kepada publik sesaat sebelum sumpah diikrarkan. Jangan jadikan sumpah jabatan sebagai panggung teatrikal yang menipu rakyat sejak hari pertama,” Ujarnya dalam keterangan resminya kepada wartawan, Minggu (27/09/26).
Lebih lanjut Bolon mengatakan, “Jika benar kitab yang digunakan sumpah jabatan itu replika dan bukan Al-Qur’an asli, maka seluruh sumpah tersebut kehilangan makna dan kesuciannya. Bagaimana mungkin seseorang berjanji menjaga amanah, jujur, dan menolak korupsi di atas benda yang isinya bukan firman Tuhan. Ini bukan sekadar masalah prosedur, ini soal hilangnya rasa takut dan tanggung jawab moral.” Ujarnya.
Pengamat Bolon menuntut pemerintah melakukan verifikasi secara terbuka, “Kami tidak menuduh sembarangan, tapi keraguan sudah muncul. Maka buktikan kepada publik, tunjukkan langsung, perlihatkan isinya, pastikan itu benar-benar Al-Qur’an. Jika asli, rakyat akan tenang. Jika ternyata tidak, siapa yang menyuruh, sejak kapan, dan siapa yang bertanggung jawab. Ini harus diusut tuntas.” Ujarnya.
Pengamat Bolon mengingatkan, kesadaran moral adalah benteng pertama pencegahan korupsi, “Jangan heran jika pejabat mudah mencurangi rakyat saat sumpahnya sendiri sudah dicurangi sejak awal. Beban moral itu yang menjaga seseorang ketika tidak ada yang melihat. Jika sumpah saja tidak jujur, bagaimana bisa dipercaya menjaga uang rakyat.” pungkas Bolon.
Masih dikatakan Bolon, “Keterbukaan adalah harga mati. Rohaniwan yang mendampingi pelantikan wajib menunjukkan isi Al-Qur’an secara visual kepada hadirin dan media. Jika pemerintah menolak transparansi sederhana ini, publik berhak meragukan seluruh komitmen pemberantasan korupsi di negeri ini,” Tegas Bolon.
- Penulis: Redaksi
- Editor: Redaksi
- Sumber: https://temporatur.com/


Saat ini belum ada komentar