Gejayan Memanggil: “Bunyikan Klakson Jika Muak dengan Pemerintah! Gejayan Bergemuruh, Aksi Berakhir Damai Jelang Magrib”
Hujan turun membasahi kawasan Bulaksumur. Langit mendung seolah menggambarkan suasana hati rakyat yang semakin berat menghadapi harga kebutuhan pokok yang terus naik, lapangan pekerjaan yang semakin sempit, dan berbagai kebijakan yang dianggap menjauh dari kepentingan masyarakat. Namun hujan tidak mampu membubarkan tekad mahasiswa, komunitas rakyat, dan elemen Jaga Warga Yogya yang turun ke jalan dalam aksi “Gejayan Memanggil Bersama Jaga Warga Yogya dan UGM Melawan.”
Meski sempat terlambat dari jadwal yang direncanakan, massa tetap bertahan dan menyuarakan kegelisahan rakyat. Di bawah pengamanan aparat dari Polsek Bulaksumur dan Polsek Depok Barat, aksi berlangsung damai namun penuh semangat perlawanan terhadap berbagai persoalan yang dinilai semakin menekan kehidupan masyarakat.
Aksi kali ini tidak hanya menghadirkan orasi dan pembacaan sikap politik. Massa juga membacakan Maklumat Aliansi Rakyat Memanggil yang berjudul “Kami Ingat! Janji Tidak Mengenyangkan, Keadilan Tidak Boleh Ditunda.”
Maklumat tersebut menjadi pengingat keras kepada penguasa bahwa rakyat tidak lupa terhadap berbagai janji perubahan yang pernah disampaikan saat kampanye. Ketika harga cabai, beras, minyak goreng, dan kebutuhan pokok lainnya terus meningkat, rakyat mempertanyakan keberpihakan negara terhadap kehidupan sehari-hari mereka.
Menurut peserta aksi, demokrasi yang sehat tidak dibangun dengan membungkam kritik. Kritik adalah vitamin demokrasi, bukan ancaman negara. Ketika suara akademisi, mahasiswa, jurnalis, aktivis, dan warga sipil dianggap musuh, maka yang sedang dipertaruhkan bukan sekadar kebebasan berbicara, melainkan masa depan demokrasi itu sendiri.
Rakyat Tidak Butuh Pencitraan, Rakyat Butuh Perubahan
Dalam berbagai orasi yang disampaikan, peserta aksi menilai Indonesia saat ini sedang menghadapi krisis kepercayaan publik. Di satu sisi pemerintah berbicara tentang pertumbuhan ekonomi dan proyek-proyek besar, namun di sisi lain rakyat masih berjuang menghadapi mahalnya biaya hidup, sulitnya mencari pekerjaan, dan ketimpangan ekonomi yang semakin terasa.
Bagi massa aksi, persoalan utama bangsa bukan kekurangan slogan, melainkan kekurangan keberanian untuk menghadirkan keadilan.
“Rakyat tidak bisa makan janji. Rakyat tidak bisa membayar sekolah dengan pencitraan. Rakyat tidak bisa membeli beras dengan statistik pertumbuhan ekonomi,” seru salah satu orator yang disambut tepuk tangan peserta aksi.
Klakson Dukungan Bergema, Orasi Sempat Tenggelam oleh Suara Pengendara
Salah satu momen yang paling menarik perhatian dalam aksi Gejayan Memanggil Bersama Jaga Warga Yogya dan UGM Melawan terjadi ketika para mahasiswa membentangkan sebuah spanduk bertuliskan “Bunyikan Klakson Jika Kalian Muak dengan Pemerintah!” di tepi jalan kawasan Bulaksumur.
Ajakan tersebut mendapat respons spontan dari para pengguna jalan. Puluhan hingga ratusan pengendara sepeda motor, mobil pribadi, kendaraan angkutan, hingga pengemudi transportasi daring yang melintas membunyikan klakson mereka sebagai bentuk dukungan terhadap aksi yang sedang berlangsung. Suara klakson yang bersahut-sahutan selama beberapa menit menciptakan suasana yang riuh dan penuh semangat.
Begitu banyaknya pengendara yang memberikan respons hingga suara orasi dari atas panggung beberapa kali tidak terdengar jelas. Massa aksi menyambut bunyi klakson tersebut dengan tepuk tangan dan yel-yel perjuangan, sementara para orator harus beberapa kali menghentikan pidatonya karena tertutup suara kendaraan yang melintas.
Melihat kondisi tersebut, aparat keamanan dari Polsek Bulaksumur dan Polsek Depok Barat bersama koordinator lapangan mahasiswa serta unsur aliansi masyarakat melakukan koordinasi cepat untuk menjaga keamanan dan kelancaran kegiatan. Setelah melalui komunikasi yang baik antara pihak kepolisian dan peserta aksi, sebagian ruas jalan di sekitar lokasi kemudian ditutup sementara guna memberikan ruang yang lebih aman bagi peserta demonstrasi dan memastikan penyampaian aspirasi dapat berjalan dengan tertib.
Langkah tersebut membuat jalannya aksi menjadi lebih kondusif. Orasi, pembacaan maklumat rakyat, hingga penyampaian sepuluh tuntutan dapat berlangsung dengan lebih jelas dan teratur. Tidak terjadi bentrokan maupun insiden yang mengganggu jalannya kegiatan. Demonstrasi berlangsung damai hingga sekitar pukul 17.45 WIB, menjelang waktu Magrib, sebelum massa secara bertahap membubarkan diri dengan tertib.
Bagi banyak peserta, bunyi klakson yang menggema sepanjang aksi bukan sekadar suara kendaraan di jalan raya. Itu menjadi simbol bahwa keresahan yang disuarakan mahasiswa tidak berdiri sendiri, melainkan juga dirasakan oleh sebagian masyarakat yang melintas dan memilih menyatakan dukungannya dengan cara sederhana: membunyikan klakson sebagai tanda bahwa suara rakyat masih hidup dan ingin didengar.
Ibu-Ibu Wirobrajan kota Yogyakarta Beri Teladan
Di tengah aksi yang berlangsung, perhatian peserta tertuju pada sekelompok ibu-ibu dari Wirobrajan yang datang memberikan dukungan moral kepada mahasiswa.
Saat sebagian peserta menyampaikan orasi politik, para ibu tersebut justru berkeliling mengumpulkan puntung rokok, botol minuman, dan sampah plastik yang berserakan di sekitar lokasi aksi. Kehadiran mereka menjadi simbol bahwa perjuangan rakyat tidak hanya soal menyampaikan kritik, tetapi juga tentang menjaga ruang publik dan menumbuhkan budaya gotong royong.
Aksi sederhana tersebut mendapat apresiasi luas dari peserta demonstrasi karena menunjukkan bahwa perubahan tidak hanya lahir dari mimbar orasi, tetapi juga dari tindakan nyata di lapangan.
Sepuluh Tuntutan Rakyat
Dalam aksi tersebut, massa menyampaikan 10 tuntutan rakyat, mulai dari pendidikan dan kesehatan gratis, perlindungan hak-hak pekerja, penolakan terhadap berbagai kebijakan yang dinilai tidak berpihak kepada rakyat, hingga penegakan hukum yang adil dan bebas dari korupsi.
Tuntutan tersebut mencerminkan satu pesan besar: negara harus kembali hadir untuk melindungi rakyat, bukan sekadar melayani kepentingan elite dan pemodal.
Revolusi yang Dibutuhkan Indonesia
Bagi peserta aksi, revolusi yang dibutuhkan Indonesia bukan revolusi kekerasan, melainkan revolusi keberpihakan.
Revolusi yang menempatkan pendidikan sebagai hak, bukan komoditas.
Revolusi yang menjadikan kesehatan dapat diakses seluruh rakyat tanpa diskriminasi.
Revolusi yang memastikan harga kebutuhan pokok terjangkau.
Revolusi yang membuka lapangan kerja seluas-luasnya.
Revolusi yang memiskinkan koruptor dan mengembalikan uang rakyat.
Revolusi yang mengembalikan demokrasi kepada rakyat, bukan kepada oligarki.
Jika pemerintah ingin meredam kemarahan rakyat, jawabannya bukan membatasi kritik, melainkan menghadirkan solusi nyata. Sebab sejarah telah berulang kali menunjukkan bahwa ketika suara rakyat terus diabaikan, perubahan akan menemukan jalannya sendiri.
Gejayan kembali mengingatkan Indonesia bahwa demokrasi bukan tentang seberapa keras pemerintah berbicara, melainkan seberapa jauh pemerintah mau mendengar. Dan ketika rakyat berkata “Kami Ingat”, sesungguhnya itu adalah peringatan bahwa janji yang diucapkan di panggung kekuasaan suatu hari akan ditagih di jalanan
(Ginting)















