Pembuatan Pintu Air di Proyek Normalisasi Sungai Srengseng BBWS Citarum oleh PT.BRP Senilai 47 Miliar di Sukatani Patah dalam Satu Bulan
Proyek prestisius Normalisasi Sungai Srengseng Hilir di bawah naungan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Citarum menuai sorotan tajam.
Pasalnya, pembangunan pintu air yang menjadi satu paket dengan proyek senilai kurang lebih Rp47 Miliar tersebut ditemukan dalam kondisi rusak parah dan patah pada bagian penyangga beton, padahal baru genap satu bulan selesai dikerjakan oleh PT. BRP.

Berdasarkan hasil investigasi tim media pada Kamis (5/2/2026), kerusakan ini memicu dugaan kuat adanya praktik gagal konstruksi dan spesifikasi bangunan yang tidak sesuai standar teknis.
Indikasi Manipulasi Konstruksi
Temuan di lapangan mengungkap fakta yang lebih mencengangkan.
Diduga terjadi manipulasi konstruksi pada sistem pintu air. Fungsi pintu pembuka dan penutup air disinyalir hanya formalitas belaka. Hal ini dikarenakan adanya pemasangan pipa di bawah pintu air yang menyebabkan aliran air tetap mengalir tanpa bisa dibendung, meski pintu dalam kondisi tertutup.

Keberadaan pipa tersebut membuat fungsi utama pintu air menjadi mandul dan tidak berguna.
DugaanKegagalan Konstruksi, Pintu Air Cacat Mutu
Proyek besar Rehabilitasi Sungai Srengseng Hilir yang dikelola oleh Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Citarum kini berada di pusaran skandal. Hasil investigasi lapangan pada Kamis (05/02/2026) menemukan adanya kegagalan konstruksi fatal pada pembangunan pintu air di wilayah Desa Sukamulya, Kecamatan Sukatani, Kabupaten Bekasi.

Proyek yang dikerjakan oleh PT. BRP dengan anggaran fantastis mencapai Rp47 Miliar tersebut kini kondisinya memprihatinkan.
Meski baru berusia satu bulan, penyangga beton pintu air ditemukan telah patah dan hancur, menunjukkan adanya indikasi kuat cacat mutu sejak awal pembangunan.
Warga Sukamulya Meradang
Kekecewaan mendalam disampaikan oleh warga Desa Sukamulya, Kecamatan Sukatani, Kabupaten Bekasi. Melalui rekaman video yang diterima redaksi, warga meluapkan amarahnya melihat kualitas pekerjaan yang dianggap asal-asalan.
“Kami minta pihak BBWS Citarum dan PT. BRP bertanggung jawab. Jangan hanya mengejar keuntungan pribadi dengan mengorbankan kualitas. Uang rakyat puluhan miliar habis, tapi hasilnya rusak dalam sebulan,” ujar salah satu warga setempat (5/2).
Tuntutan Audit dan Pengawalan Ketat
Warga mendesak agar BBWS Citarum segera memanggil PT. BRP untuk melakukan perbaikan total dengan kualitas yang layak.
Masyarakat menegaskan akan terus mengawal jalannya proyek ini guna memastikan tidak ada oknum yang bermain dalam anggaran jumbo tersebut.
Jika tidak ada tindakan tegas, warga mengancam akan membawa temuan ini ke ranah hukum atas dugaan kerugian negara dan penyalahgunaan wewenang.
Sampai berita ini diturunkan, pihak PT. BRP maupun perwakilan BBWS Citarum belum memberikan pernyataan resmi terkait kerusakan dan indikasi manipulasi di lokasi proyek tersebut.
(Red)















