Tragedi Subuh Idul Fitri 1965 di Sungai Lasolo dan Peringatan Kepada Sang Jenderal?

Tragedi Subuh Idul Fitri 1965 di Sungai Lasolo dan Peringatan Kepada Sang Jenderal?

Sejarah, – Temporatur.com || Subuh Idul Fitri 1965, tepi Sungai Lasolo di Sulawesi Tenggara sunyi, kabut tipis menyelimuti pagi. Abdul Qahhar Muzakkar gugur. Pemimpin Darul Islam yang selama bertahun-tahun menegakkan hukum Allah, melindungi kehormatan umat, dan memelihara iman di tengah tekanan negara sekuler, wafat dengan kepala tegak. Fajar seakan menangis bersamanya. Ia tidak gugur di tengah sorak-sorai kemenangan, tetapi dalam kesetiaan, keyakinan, dan pengabdian yang tak ternilai. Kematian Kahar Pada tanggal 3 Februari 1965, melalui Operasi Tumpas yang dipimpin langsung oleh Jenderal M. Jusuf, Kahar Muzakkar dinyatakan tertembak mati oleh Kopda ILie  dalam pertempuran antara pasukan TNI dari satuan Divisi Siliwangi Kujang I 330 dan anggota pengawal Kahar Muzakkar di Lasolo.

Screenshot 20240410 000232 comhuaweibrowser 3811359412
Foto: Evakuasi jenazah Kahar Muzakar

Patut diketahui beberapa tahun sebelumnya, Kahar telah memperingatkan pemerintah dengan mengatakan, “Waspadai Kaum komunis akan kembali menebar pemberontakan di negeri ini.”

Namun peringatan Kahar yang dianggap sebagai pemberontak itu diabaikan, Dan sebaliknya bangsa bersorak atas kematiannya sebagai “pemberontak”, mereka menutup telinga dari nasihat seorang pejuang yang ingin menyelamatkan umat dari kehancuran moral dan politik.

Terpisah, di kota Makassar, Jenderal Ahmad Yani merayakan “kemenangan” itu. Parade militer besar digelar di wilayah perjuangan Sultan Hasanuddin, bendera berkibar, dentuman drum bergema. Semua menatap Yani sebagai pahlawan, sang penumpas pemberontak, berpikir ancaman telah lenyap, dan dirinya berada di puncak kejayaan. Namun tragedi datang menghampiri tak lama berselang setelah parade itu, malam gelap tahun 1965, peristiwa G30S pecah. Ahmad Yani bersama jenderal lain ditangkap, disiksa, dan dibunuh secara brutal di Lubang Buaya. Seorang jenderal yang berbangga atas “kemenangan” militernya, menjadi korban kekejaman kaum yang dulu diperingatkan Kahar Muzakkar. Keangkuhan, perayaan sombong, dan mengabaikan suara peringatan iman berbalik menghantam dirinya sendiri.

58267870972369283016 large
Foto: Kolonel M.Yusuf tengah berunding dengan Kahar Muzakar di hutan Sulawesi

Ironisnya, Subuh di Sungai Lasolo dan malam di Lubang Buaya menjadi cermin pahit perjalanan Demokrasi Republik Indonesia. Kahar Muzakkar tewas melalui Operasi Tumpas. Sementara sang Jenderal yang telah diperingatkan akan adanya pemberontakan kaum komunis menjadi salah satu korban tragedi pemberontakan kaum komunis.

Bacaan Lainnya

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *