Sejarah, – Temporatur.com || Subuh Idul Fitri 1965, tepi Sungai Lasolo di Sulawesi Tenggara sunyi, kabut tipis menyelimuti pagi. Abdul Qahhar Muzakkar gugur. Pemimpin Darul Islam yang selama bertahun-tahun menegakkan hukum Allah, melindungi kehormatan umat, dan memelihara iman di tengah tekanan negara sekuler, wafat dengan kepala tegak. Fajar seakan menangis bersamanya. Ia tidak gugur di tengah sorak-sorai kemenangan, tetapi dalam kesetiaan, keyakinan, dan pengabdian yang tak ternilai. Kematian Kahar Pada tanggal 3 Februari 1965, melalui Operasi Tumpas yang dipimpin langsung oleh Jenderal M. Jusuf, Kahar Muzakkar dinyatakan tertembak mati oleh Kopda ILie dalam pertempuran antara pasukan TNI dari satuan Divisi Siliwangi Kujang I 330 dan anggota pengawal Kahar Muzakkar di Lasolo. Patut diketahui beberapa tahun sebelumnya, Kahar telah memperingatkan pemerintah dengan mengatakan, “Waspadai Kaum komunis akan kembali menebar pemberontakan di negeri ini.” SelanjutnyaJalan Damai Pemburu BeritaNamun peringatan Kahar yang dianggap sebagai pemberontak itu diabaikan, Dan sebaliknya bangsa bersorak atas kematiannya […]
Tag: #KaharMuzakkar #Ahmadyani #Sejarah #Lasolo #M.yusup #Lubangbuaya
Tidak Ada Pos Lagi.
Tidak ada laman yang di load.










