Banjir Rob Meluas di Muaragembong Bekasi, Ribuan Warga Terdampak

Banjir Rob Meluas di Muaragembong Bekasi, Ribuan Warga Terdampak
Keterangan foto: Banjir Rob Meluas di Muaragembong Bekasi, Ribuan Warga Terdampak (ft.istimewa)

Banjir Rob Meluas di Muaragembong Bekasi, Ribuan Warga Terdampak

Bekasi – Temporatur.com 

Bencana banjir rob atau air pasang laut kembali melanda wilayah pesisir Kecamatan Muaragembong, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, sejak awal pekan ini. Banjir yang disebabkan oleh fenomena pasang laut tinggi dan bulan purnama ini telah melumpuhkan aktivitas ribuan kepala keluarga (KK) di lima desa.

Menurut laporan terkini, genangan air laut mulai masuk ke permukiman warga sejak Senin (1/12/2025), dengan ketinggian yang bervariasi antara 30 sentimeter hingga 1 meter, terutama di wilayah terparah seperti Kampung Beting, Desa Pantai Bahagia. Kondisi ini menyebabkan aktivitas ekonomi warga lumpuh total.

Dampak banjir rob kali ini dirasakan cukup parah oleh warga. Fasilitas umum pun ikut terendam, di mana empat masjid di Desa Pantai Bahagia dilaporkan tidak dapat digunakan untuk Shalat Jumat berjamaah karena masih dikepung air pasang. Selain itu, warga juga mulai mengeluhkan masalah kesehatan seperti gatal-gatal dan kutu air akibat paparan air kotor yang tak kunjung surut.

Fenomena banjir rob ini kian sering terjadi di Muaragembong. Abrasi parah dan ketiadaan tanggul beton yang memadai di sepanjang pesisir dan aliran Sungai Citarum dituding menjadi penyebab mudahnya air masuk ke permukiman.

Bacaan Lainnya

Penurunan muka tanah juga menjadi faktor penyerta bencana hidrometeorologi ini.
Pemerintah Kabupaten (Pemdakab) Bekasi melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) telah mengirimkan bantuan logistik dan mengimbau warga untuk tetap waspada. Pihak berwenang juga menyiapkan langkah-langkah antisipasi jangka panjang untuk mengatasi banjir rob tahunan ini, meskipun banyak warga yang memilih pindah permanen karena rumah mereka sudah tidak layak huni.

 

Ahmad Fadilah (28), salah satu warga terdampak, mengungkapkan kerugian ekonomi akibat terhentinya aktivitas harian. “Motor terendam, jadi enggak bisa jalan. Pengiriman barang jadi terhambat. Kalau harus kirim siang, harga sudah turun,” ujarnya, Jumat (5/12/2025).

Kondisi genangan air asin yang tak kunjung surut mulai berdampak pada kesehatan warga. Banyak yang mengeluhkan gatal-gatal hingga kutu air pada kaki karena harus beraktivitas di dalam air kotor selama berhari-hari.

Fasilitas umum pun tak luput dari dampak banjir. Empat masjid di wilayah tersebut terpaksa tidak dapat menggelar salat Jumat berjamaah. Salah satunya adalah Masjid Nurul Falah.

“Pada hari ini, Masjid Nurul Falah tidak ada aktivitas salat Jumat karena terendam pasang rob dan luapan Sungai Citarum selama empat hari berturut-turut,” tutur Warnata (41), marbot masjid.

Camat Muaragembong, Sukarman, menjelaskan bahwa sedikitnya 14.000 jiwa dari lima desa terdampak langsung oleh bencana ini. Ribuan hektare tambak milik warga juga ikut terendam, membuat sebagian masyarakat kehilangan sumber pendapatan harian mereka.
“Ketinggian air antara 20-60 sentimeter, paling tinggi di Desa Pantai Bahagia. Kami berupaya menolong dengan bantuan dari PMI, BPBD, dan unsur legislatif,” jelas Sukarman.
Kendati demikian, sejumlah warga menyebut bantuan logistik belum sepenuhnya tersalurkan ke lokasi-lokasi yang masih sulit dijangkau.
Menyikapi bencana yang terus berulang, Sukarman berharap pemerintah pusat mempercepat proyek pembangunan Giant Sea Wall atau tanggul laut raksasa untuk menahan pasang air laut dan meminimalisasi dampak jangka panjang di kawasan pesisir Muaragembong.

(SS/Red)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *